RRI Mitra Kunci Mitigasi Bencana: Radio Tetap Tak Tergantikan di Era Digital
Suara Pecari, Di tengah gemuruh teknologi digital dan penetrasi internet yang kian meluas, sebuah medium klasik justru menunjukkan relevansinya yang abadi: radio. Di Indonesia, negara kepulauan dengan ribuan pulau dan topografi yang menantang, radio bukan sekadar hiburan, melainkan pilar utama dalam sistem peringatan dini dan mitigasi bencana. Hal ini kembali ditegaskan oleh Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Sampang, Hasan Jailani, yang akrab disapa Mamak, dalam pernyataannya pada Senin, 13 Juli 2026. Ia memberikan apresiasi tinggi kepada Radio Republik Indonesia (RRI) sebagai mitra kunci dalam upaya mitigasi bencana di wilayahnya.
Radio: Pilar Informasi di Tengah Keterbatasan Infrastruktur
Keunggulan radio dalam situasi darurat tidak perlu diragukan lagi. Ketika gempa bumi, tsunami, atau letusan gunung berapi melumpuhkan jaringan telekomunikasi dan listrik, radio tetap dapat beroperasi dengan daya baterai atau generator. Sinyal radio FM dan AM mampu menjangkau daerah terpencil yang tidak terjangkau internet atau sinyal seluler. Di Kabupaten Sampang, Madura, yang sebagian wilayahnya merupakan perbukitan dan pesisir, radio menjadi andalan utama bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi terkini saat bencana melanda.
“RRI telah membuktikan diri sebagai salah satu media penyiaran yang paling sigap dan responsif dalam menyajikan informasi terkait kebencanaan,” ujar Mamak. Ia menambahkan bahwa keberhasilan mitigasi bencana tidak dapat dicapai secara parsial, melainkan melalui kolaborasi lintas sektoral. RRI, sebagai lembaga penyiaran publik, dinilai memegang peran kunci sebagai jembatan informasi yang menghubungkan pemangku kepentingan, seperti FPRB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan masyarakat luas.
Kolaborasi Lintas Sektor: Kunci Efektivitas Mitigasi
Pernyataan Mamak mencerminkan kesadaran bahwa mitigasi bencana membutuhkan sinergi antara pemerintah, lembaga penyiaran, organisasi masyarakat, dan sektor swasta. RRI, dengan jaringan stasiun di seluruh Indonesia, memiliki kapasitas untuk menyebarluaskan informasi secara cepat dan akurat. Di Sampang, RRI bekerja sama dengan FPRB dan BPBD dalam menyusun konten siaran yang edukatif, mulai dari tanda-tanda alam sebelum bencana, jalur evakuasi, hingga lokasi posko pengungsian.
| Peran RRI dalam Mitigasi Bencana | Dampak bagi Masyarakat |
|---|---|
| Penyebaran informasi peringatan dini | Mengurangi risiko korban jiwa |
| Edukasi mitigasi melalui program siaran | Meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat |
| Koordinasi dengan BPBD dan FPRB | Respons bencana yang lebih terpadu |
| Siaran langsung dari lokasi bencana | Informasi real-time bagi pengungsi dan keluarga |
Tantangan dan Peluang Radio di Era Digital
Meskipun radio memiliki keunggulan, bukan berarti tanpa tantangan. Generasi muda cenderung beralih ke platform digital seperti media sosial dan aplikasi pesan instan. Namun, dalam konteks bencana, justru platform digital itulah yang rentan terhadap misinformasi. RRI sebagai lembaga penyiaran publik memiliki kredibilitas yang lebih tinggi, dan siarannya dapat dipercaya sebagai sumber resmi. Oleh karena itu, RRI perlu terus berinovasi, misalnya dengan menyediakan siaran streaming atau podcast yang dapat diakses melalui ponsel pintar, sehingga menjangkau audiens yang lebih luas.
Langkah Strategis ke Depan
- Penguatan infrastruktur: Memastikan stasiun RRI di daerah rawan bencana memiliki generator cadangan dan peralatan siaran yang tahan banting.
- Pelatihan jurnalis bencana: Meningkatkan kapasitas reporter dan penyiar dalam menyampaikan informasi yang tepat, tidak menimbulkan kepanikan, dan sesuai dengan protokol kebencanaan.
- Integrasi dengan sistem peringatan dini nasional: RRI dapat menjadi saluran resmi untuk menyebarkan peringatan dari BMKG, PVMBG, dan BNPB.
- Kemitraan dengan komunitas lokal: Melibatkan relawan FPRB dan tokoh masyarakat dalam produksi konten siaran yang kontekstual.
Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat
Pengakuan dari FPRB Sampang ini membawa implikasi luas. Pertama, memperkuat posisi RRI sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana. Kedua, mendorong lembaga penyiaran lain, baik publik maupun swasta, untuk mengadopsi peran serupa. Ketiga, meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya radio sebagai sumber informasi primer saat darurat. Di Sampang sendiri, program siaran RRI yang membahas mitigasi bencana secara rutin telah meningkatkan partisipasi warga dalam simulasi evakuasi dan pelatihan kebencanaan yang diadakan oleh FPRB.
Penutup: Radio, Nyawa Informasi di Tengah Bencana
Di era digital yang serba instan, radio mungkin terdengar kuno. Namun, ketika bencana datang dan segala sesuatunya runtuh, radio tetap berdiri. Dari pelosok Sampang hingga lereng gunung di Sumatera, suara penyiar RRI menjadi penuntun bagi mereka yang kehilangan arah. Kolaborasi antara FPRB, RRI, dan seluruh elemen masyarakat adalah bukti bahwa mitigasi bencana bukanlah tugas satu pihak, melainkan orkestrasi banyak tangan. Dengan terus memperkuat peran radio, Indonesia tidak hanya membangun ketangguhan, tetapi juga menjaga denyut informasi yang menyelamatkan jiwa.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.









