Masyarakat Perkebunan Tetap Nikmati Piala Dunia 2026 lewat Siaran RRI
Suara Pecari, Bintuhan – Perhelatan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat menyedot perhatian publik di berbagai negara, termasuk Indonesia. Antusiasme masyarakat terlihat dari tingginya minat menyaksikan pertandingan melalui televisi maupun berbagai konten digital di media sosial. Namun, tidak semua masyarakat Indonesia memiliki akses terhadap siaran televisi maupun internet. Di sejumlah kawasan perkebunan di Provinsi Bengkulu dan wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), keterbatasan infrastruktur seperti aliran listrik dan sinyal internet menjadi tantangan. Meski demikian, semangat untuk mengikuti pesta sepak bola dunia tidak surut. Mereka memanfaatkan siaran pandangan mata yang disiarkan Radio Republik Indonesia (RRI) sebagai sumber informasi utama.
Keterbatasan Akses, Bukan Halangan
Hadian, seorang warga Kabupaten Kaur yang berdomisili di kawasan perkebunan, mengatakan bahwa di lokasi tempatnya berkebun belum tersedia aliran listrik sehingga tidak dapat menyaksikan pertandingan melalui televisi. Meski demikian, ia mengaku tetap dapat mengikuti seluruh perkembangan Piala Dunia melalui siaran RRI. “Alhamdulillah kami bersyukur sekali RRI menyiarkan pertandingan Piala Dunia, sehingga kami tidak ketinggalan perkembangannya. Tiap jadwal pertandingan yang disiarkan RRI, selalu kami ikuti, dan kami juga mengadakan acara mendengar bareng Piala Dunia melalui siaran RRI Pro3, alhamdulillah RRI Bintuhan juga turut menyiarkannya,” tutur Hadian, saat berdialog di acara Batang Hari 9 yang digelar RRI Bintuhan, 16 Juli 2026.
Kemeriahan pesta sepak bola dunia juga dirasakan masyarakat di kawasan perkebunan Lampung Pesisir Barat, Tanjung Sakti, Sumatera Selatan, serta OKU Selatan. Warga di wilayah tersebut mengaku tetap mengikuti perkembangan pertandingan Piala Dunia melalui siaran pandangan mata yang disiarkan RRI. Rimbas, seorang petani di OKU Selatan, mengaku sangat senang karena masih dapat mengikuti jalannya pertandingan melalui radio. “Kalau kami di kebun ini akses hiburan dan informasi hanya melalui radio, begitu juga mengikuti Piala Dunia hanya melalui radio. Pokoknya bersyukur sekali RRI turut menyiarkan siaran Piala Dunia ini,” tutur Rimbas, saat ditanya penyiar dalam acara yang sama.
Antusiasme Masyarakat Perkebunan
Efjhon, seorang petani dari Tanjung Sakti, Sumatera Selatan, juga mengaku antusias mengikuti Piala Dunia melalui siaran RRI. “Dari awal Piala Dunia kami selalu mendengarkan siaran pandangan mata PILDUN di RRI, bahkan kami merencanakan mendengar bareng pertandingan saat final Argentina vs Spanyol mendatang,” tutur Efjon. Semangat ini menunjukkan bahwa keterbatasan infrastruktur tidak mengurangi kecintaan masyarakat terhadap olahraga, khususnya sepak bola.
Peran Strategis RRI dalam Distribusi Siaran
Melansir dari RRI.co.id, Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (RRI) resmi memperoleh hak siar audio Piala Dunia 2026 melalui penandatanganan nota kesepahaman dengan Televisi Republik Indonesia. Kerja sama tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat distribusi siaran olahraga melalui program Pesta Bola Dunia 2026 yang disiarkan secara nasional melalui Pro1, Pro2, dan Pro3, serta dilengkapi berbagai program pendukung yang hadir tidak hanya saat pertandingan berlangsung, tetapi juga menjelang penyelenggaraan turnamen.
| Program RRI | Fungsi |
|---|---|
| Pro1 | Siaran langsung pertandingan dan program pendukung |
| Pro2 | Siaran langsung pertandingan dan program pendukung |
| Pro3 | Siaran langsung pertandingan dan program pendukung |
Dampak dan Implikasi
Keberadaan siaran radio RRI menjadi jembatan informasi bagi masyarakat di daerah terpencil. Hal ini tidak hanya berdampak pada hiburan, tetapi juga pada aspek sosial dan ekonomi. Masyarakat perkebunan yang selama ini merasa terisolasi kini dapat merasakan euforia Piala Dunia bersama-sama. Acara mendengar bareng yang diinisiasi warga seperti di Tanjung Sakti dan OKU Selatan memperkuat rasa kebersamaan dan solidaritas. Dari sisi industri, kerja sama antara TVRI dan RRI menunjukkan sinergi positif antar lembaga penyiaran publik dalam menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Hal ini juga menjadi contoh bagi penyelenggaraan event olahraga internasional lainnya di masa depan.
Kronologi Peristiwa
- Akhir 2025: TVRI ditunjuk FIFA sebagai pemegang hak siar resmi Piala Dunia 2026 di Indonesia melalui perjanjian media rights.
- 2026: RRI menandatangani nota kesepahaman dengan TVRI untuk memperoleh hak siar audio Piala Dunia 2026.
- Juli 2026: Masyarakat perkebunan di Bengkulu dan Sumsel mengikuti Piala Dunia melalui siaran RRI, dengan acara mendengar bareng di berbagai lokasi.
Piala Dunia 2026 telah membuktikan bahwa semangat olahraga dapat mengatasi segala keterbatasan. Di tengah gemerlap siaran televisi dan digital, radio tetap menjadi sahabat setia bagi mereka yang berada di pelosok negeri. Suara penyiar yang membawakan siaran pandangan mata dari stadion-stadion di Amerika Serikat mampu menghadirkan atmosfer pertandingan di tengah kebun-kebun kelapa sawit dan karet. Ini adalah bukti bahwa teknologi sederhana pun mampu menyatukan bangsa dalam kegembiraan bersama.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










