Mengapa Pedestrian Deck Dukuh Atas Dibuat Melingkar? Ini Penjelasan MRT

Mengapa Pedestrian Deck Dukuh Atas Dibuat Melingkar? Ini Penjelasan MRT

Suara Pecari, Jakarta – Pedestrian Deck Dukuh Atas dirancang tidak hanya sebagai penghubung antar moda transportasi umum di Jakarta, tetapi juga sebagai ikon baru yang mengintegrasikan fungsi konektivitas, ruang publik, desain, dan edukasi. Salah satu keunikan desainnya adalah bentuk melingkar yang sengaja dipilih untuk menyelaraskan dengan karakter sejumlah ikon Jakarta seperti Bundaran Senayan, Gelora Bung Karno (GBK), dan Bundaran HI.

Desain melingkar tersebut juga memberikan ruang bagi penempatan galeri sejarah Jenderal Sudirman yang akan berada di area pedestrian deck menghadap langsung ke Patung Jenderal Sudirman. Galeri ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai sosok Jenderal Sudirman serta sejarah pembangunan patung yang menjadi salah satu ikon kawasan Jalan Jenderal Sudirman.

Pedestrian Deck Dukuh Atas dan Fungsinya

Pedestrian Deck ini merupakan bagian dari pengembangan kawasan Transit Oriented Development (TOD) Dukuh Atas yang terbagi menjadi empat kuadran, yaitu:

  • Q1: Stasiun MRT Dukuh Atas dan Stasiun KRL BNI City
  • Q2: Stasiun KRL Sudirman dan Transport Hub
  • Q3: Kawasan perkantoran BNI
  • Q4: Stasiun LRT Jabodebek dan Halte Transjakarta Galunggung

Kawasan ini menjadi titik tumpu berbagai moda transportasi seperti MRT Jakarta, KRL Commuter Line, LRT Jakarta, LRT Jabodebek, Kereta Bandara, dan Transjakarta. Namun, sebelum adanya pedestrian deck, konektivitas antar moda ini masih belum optimal karena lokasi stasiun dan halte yang tersebar dan terfragmentasi.

Pedestrian Deck Dukuh Atas hadir sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan menghubungkan keempat kuadran secara langsung, sehingga memudahkan perpindahan pengguna transportasi publik dalam waktu singkat, yakni sekitar lima menit berjalan kaki antara Sudirman hingga Wisma 46.

Desain Ramah Difabel dan Fasilitas Pendukung

Selain desain melingkar yang ikonik, pedestrian deck ini juga mengusung konsep ramah difabel. Fasilitas yang disiapkan meliputi elevator, eskalator, ramp, dan jalur pemandu taktil untuk membantu mobilitas penyandang disabilitas, pengguna kursi roda, ibu hamil, dan pengguna stroller bayi.

Semua akses masuk ke pedestrian deck dirancang menggunakan eskalator agar pengguna tidak perlu menaiki tangga secara manual. Elevator disediakan untuk akses vertikal yang nyaman bagi kelompok yang membutuhkan kemudahan akses khusus.

Manfaat dan Dampak Pengembangan Pedestrian Deck

Infrastruktur ini diharapkan dapat mengurangi kepadatan pejalan kaki di kawasan Dukuh Atas sekaligus meningkatkan kenyamanan dan keamanan pengguna transportasi publik. Dengan adanya pedestrian deck yang menghubungkan berbagai moda dan gedung sekitar seperti Two Sudirman dan Wisma BNI, pengguna dapat melakukan perpindahan moda secara seamless tanpa harus terpapar panas atau hujan.

Pembangunan pedestrian deck ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kawasan Dukuh Atas sebagai pusat Transit Oriented Development (TOD) yang terintegrasi, mendukung mobilitas perkotaan yang efisien dan ramah lingkungan.

Desain dasar pedestrian deck masih dapat mengalami pengembangan, termasuk kemungkinan penambahan unsur budaya Betawi dan elemen yang merepresentasikan identitas Jakarta, sehingga selain berfungsi sebagai infrastruktur transportasi, juga menjadi ruang publik yang bernilai estetika dan edukasi.

Dengan konsep dan desain yang matang, pedestrian deck Dukuh Atas diharapkan menjadi ikon baru Jakarta yang menghubungkan keindahan, fungsi, dan sejarah dalam satu ruang yang nyaman dan mudah diakses oleh seluruh masyarakat.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *