Wamendagri Bima Arya Dorong Kota Jadi Pelopor Inovasi Pangan dan Lingkungan di Rakernas APEKSI

Wamendagri Bima Arya Dorong Kota Jadi Pelopor Inovasi Pangan dan Lingkungan di Rakernas APEKSI

Suara Pecari, Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa ketangguhan kota harus dibangun melalui penguatan sistem pangan dan pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan. Pernyataan ini disampaikan dalam Forum Pangan pada rangkaian Rakernas XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) di Kota Medan, Sumatera Utara, Senin (29/6/2026). Bima menilai kedua sektor tersebut menjadi fondasi penting untuk meningkatkan daya tahan daerah sekaligus mendukung ketahanan nasional.

Peran Strategis Kota dalam Ketahanan Pangan

Bima menekankan bahwa pemerintah kota memiliki posisi strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Menurutnya, kota tidak boleh hanya menjadi konsumen pangan, melainkan harus menjadi pelopor inovasi, membangun jejaring antardaerah, memperkuat distribusi, dan menghadirkan berbagai solusi agar masyarakat memperoleh akses terhadap pangan yang berkualitas. Hal ini menjadi krusial mengingat urbanisasi yang terus meningkat dan tekanan terhadap sistem pangan perkotaan.

Dalam paparannya, Bima mengidentifikasi beberapa tantangan utama yang dihadapi kota dalam sektor pangan, antara lain keterbatasan lahan pertanian di perkotaan, tingginya ketergantungan pada pasokan dari luar daerah, serta fluktuasi harga pangan yang memengaruhi daya beli masyarakat. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan inovasi seperti pertanian vertikal, hidroponik, dan pengembangan rantai pasok digital yang menghubungkan petani dengan konsumen kota.

Tantangan Pangan PerkotaanSolusi Inovatif
Keterbatasan lahan pertanianPertanian vertikal, hidroponik, rooftop farming
Ketergantungan pasokan luar daerahPenguatan rantai pasok lokal dan kerja sama antar kota
Fluktuasi harga panganDigitalisasi distribusi, e-commerce pangan, dan subsidi silang

Kolaborasi Lintas Wilayah sebagai Kunci

Lebih lanjut, Bima mengatakan bahwa tantangan pangan tidak dapat diselesaikan oleh satu daerah saja, melainkan memerlukan kolaborasi lintas wilayah dengan memperhatikan karakteristik dan potensi masing-masing kota. Misalnya, kota dengan potensi perikanan dapat bersinergi dengan kota yang memiliki lahan pertanian subur untuk saling melengkapi kebutuhan pangan.

Bima juga mengingatkan bahwa tantangan yang dihadapi pemerintah kota akan terus berkembang. Karena itu, modal terbesar yang dimiliki APEKSI bukan hanya pengalaman para kepala daerah, melainkan juga tradisi kolaborasi yang telah terbangun selama ini. “Kami bangga melihat kepala daerah yang memilih berpeluh daripada mengeluh. Tangguh tidak bisa sendiri. Tangguh itu karena terampil berkolaborasi dan berkreasi dengan berbagai pihak. Yang membedakan APEKSI adalah semangat guyub, persaudaraan, dan kebersamaan. Tradisi itu harus terus dijaga karena di sanalah kekuatan kita menghadapi tantangan yang semakin kompleks,” ungkapnya.

Fokus pada Lingkungan Hidup Berkelanjutan

Selain pangan, isu lingkungan hidup juga menjadi sorotan utama dalam Rakernas APEKSI. Bima menekankan bahwa pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan merupakan pilar penting dalam membangun ketangguhan kota. Kota-kota di Indonesia menghadapi berbagai masalah lingkungan seperti polusi udara, penumpukan sampah, dan degradasi ruang terbuka hijau. Dalam forum tematik yang digelar, para kepala daerah membahas strategi pengelolaan sampah berbasis 3R (Reduce, Reuse, Recycle), pengembangan transportasi ramah lingkungan, serta penghijauan kota.

  • Pengelolaan sampah: penerapan bank sampah dan insinerator modern.
  • Transportasi hijau: pengembangan jalur sepeda dan transportasi umum listrik.
  • Ruang terbuka hijau: target 30% luas wilayah kota untuk ruang hijau publik.

Direktur Eksekutif APEKSI Alwis Rustam menjelaskan bahwa rekomendasi yang disahkan dalam Sidang Pleno para Wali Kota merupakan hasil proses yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan selama rangkaian Rakernas. “Berbagai rekomendasi yang disepakati dalam Sidang Pleno para Wali Kota dilengkapi dengan pokok-pokok pikiran yang lahir dari forum-forum tematik yang berlangsung sejak tanggal 28 Juni hingga 2 Juli di berbagai lokasi di Medan, yang masing-masing dilakukan oleh Kepala Bappeda, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kepala Dinas Komunikasi dan Digital, kepala dinas yang terkait dengan ketahanan pangan, Ketua Tim Penggerak PKK-Dekranasda, hingga kaum muda kreatif kota seluruh Indonesia,” ujarnya.

Implikasi bagi Kebijakan Daerah

Rakernas APEKSI kali ini menghasilkan sejumlah rekomendasi yang akan menjadi bahan penguatan kebijakan pembangunan daerah. Bima menegaskan bahwa Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) siap memfasilitasi berbagai masukan dan kesepakatan yang dihasilkan dalam sidang pleno maupun forum-forum selama Rakernas. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah pusat untuk mendukung inovasi di tingkat kota.

Dampak dari penguatan sistem pangan dan lingkungan ini diperkirakan akan dirasakan langsung oleh masyarakat. Misalnya, dengan distribusi pangan yang lebih efisien, harga bahan pokok diharapkan lebih stabil. Sementara itu, pengelolaan lingkungan yang baik akan meningkatkan kualitas udara dan kesehatan warga. Dalam jangka panjang, ketangguhan kota akan menarik investasi dan meningkatkan daya saing daerah.

Kronologi Rakernas XVIII APEKSI

  • 28 Juni 2026: Pembukaan rangkaian forum tematik di Medan.
  • 29 Juni 2026: Forum Pangan dengan paparan Wamendagri Bima Arya.
  • 30 Juni – 1 Juli 2026: Forum Lingkungan Hidup, Digitalisasi, dan Pemuda.
  • 2 Juli 2026: Sidang Pleno Wali Kota dan pengesahan rekomendasi.

Menurut Alwis, tantangan yang dihadapi kota saat ini tidak lagi dapat diselesaikan melalui satu pendekatan. Karena itu, Rakernas XVIII APEKSI dirancang sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai perspektif untuk menghasilkan rekomendasi yang saling melengkapi. “Kota menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Karena itu, solusinya juga harus dibangun secara bersama-sama. Forum-forum ini menunjukkan bahwa penguatan regulasi, transformasi digital, investasi, lingkungan hidup, ketahanan pangan, hingga pelibatan generasi muda merupakan satu kesatuan dalam membangun kota yang tangguh,” tambahnya.

Melalui berbagai forum dalam Rakernas XVIII APEKSI, Kemendagri menegaskan komitmennya untuk mendengar, memfasilitasi, dan menindaklanjuti aspirasi serta rekomendasi pemerintah kota. Pembangunan kota yang tangguh juga memerlukan sinergi lintas sektor. Ketangguhan daerah hanya dapat terwujud apabila inovasi, penguatan sektor strategis, dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan berjalan beriringan.

Dengan semangat gotong royong dan inovasi, kota-kota di Indonesia diharapkan mampu menjadi motor penggerak ketahanan nasional, tidak hanya dalam hal pangan dan lingkungan, tetapi juga dalam menciptakan kesejahteraan bagi seluruh warganya. Rakernas APEKSI tahun ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antarkota adalah kunci menghadapi tantangan masa depan.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *