Dua Wajah Bahasa Diglosia dalam Kehidupan Sosial
Suara Pecari, Fenomena diglosia, atau penggunaan dua varian bahasa dalam konteks sosial yang berbeda, merupakan salah satu ciri khas masyarakat multilingual seperti Indonesia. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Charles A. Ferguson pada tahun 1959, yang mendefinisikan diglosia sebagai situasi di mana dua ragam bahasa (tinggi dan rendah) hidup berdampingan dengan fungsi yang terpisah. Dalam konteks Indonesia, diglosia tidak hanya terlihat pada perbedaan antara bahasa Indonesia baku dan bahasa daerah, tetapi juga dalam variasi bahasa Indonesia sendiri, misalnya antara ragam formal dan informal. Artikel ini akan mengupas secara mendalam dua wajah diglosia: sebagai alat pemersatu dan sekaligus pemicu kesenjangan sosial.
Pengertian dan Sejarah Diglosia
Ferguson mendefinisikan varian tinggi (H) sebagai ragam bahasa yang dipelajari secara formal, digunakan dalam situasi resmi seperti pidato, khotbah, kuliah, dan berita. Sementara varian rendah (L) adalah ragam yang diperoleh secara alami dalam keluarga dan percakapan sehari-hari. Di Indonesia, bahasa Indonesia baku dapat dianggap sebagai varian H, sedangkan bahasa Indonesia gaul atau bahasa daerah sebagai varian L. Sejarah panjang kolonialisme dan gerakan nasionalisme telah membentuk situasi diglosia ini. Bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa persatuan justru menciptakan jarak dengan bahasa daerah yang lebih akrab.
Wajah Pertama: Diglosia sebagai Perekat Sosial
Dalam banyak situasi, diglosia justru membantu menjaga kelancaran komunikasi. Masyarakat secara intuitif memahami kapan harus menggunakan ragam formal dan kapan bisa santai. Misalnya, dalam rapat resmi di kantor, seorang pegawai akan menggunakan bahasa Indonesia baku, namun saat istirahat di kantin, ia beralih ke bahasa daerah atau bahasa gaul. Fungsi ini sangat penting dalam menjaga hierarki dan norma sosial. Tabel berikut menunjukkan perbandingan penggunaan varian H dan L dalam berbagai konteks:
| Konteks | Varian H (Formal) | Varian L (Informal) |
|---|---|---|
| Pidato kenegaraan | Bahasa Indonesia baku | Tidak digunakan |
| Percakapan keluarga | Jarang | Bahasa daerah/gaul |
| Kuliah di universitas | Bahasa Indonesia baku | Diskusi santai antar mahasiswa |
| Transaksi di pasar | Kadang digunakan | Bahasa daerah dominan |
| Upacara adat | Bahasa daerah tingkat tinggi | Bahasa daerah sehari-hari |
Diglosia juga berperan dalam pelestarian budaya. Varian H sering menyimpan kosakata kuno dan ungkapan klasik yang sarat nilai tradisi. Di sisi lain, varian L menjaga kehangatan hubungan interpersonal. Tanpa diglosia, masyarakat mungkin kehilangan nuansa komunikasi yang kaya.
Wajah Kedua: Diglosia sebagai Sumber Kesenjangan
Namun, diglosia tidak selamanya positif. Tidak semua penutur memiliki akses yang sama terhadap varian H. Mereka yang berasal dari latar belakang pendidikan rendah atau daerah terpencil seringkali kurang fasih dalam bahasa Indonesia baku. Akibatnya, mereka merasa inferior dalam situasi formal. Hal ini menciptakan hierarki sosial berbasis bahasa, di mana penguasaan varian H dianggap sebagai tanda status dan pendidikan. Contoh nyata terlihat dalam dunia kerja: pelamar yang menggunakan bahasa Indonesia baku dalam wawancara cenderung dinilai lebih kompeten, meskipun kemampuan teknisnya sama.
Dampak lain adalah munculnya stereotip dan prasangka. Penutur varian L sering dianggap kurang cerdas atau kurang sopan. Di media sosial, misalnya, penggunaan bahasa gaul yang berlebihan kerap dikritik sebagai bentuk ‘merusak bahasa Indonesia’. Padahal, varian L adalah ekspresi identitas dan kreativitas. Ketegangan ini menunjukkan bahwa diglosia bukan sekadar fenomena linguistik, melainkan juga cerminan ketimpangan sosial.
Kronologi Perkembangan Diglosia di Indonesia
- 1928: Sumpah Pemuda menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, menciptakan varian H nasional.
- 1945: Bahasa Indonesia diresmikan sebagai bahasa negara dalam UUD 1945.
- 1970-an: Munculnya bahasa Indonesia gaul di kalangan pemuda kota, memperkuat varian L.
- 2000-an: Perkembangan media sosial mempercepat penyebaran varian L dan menimbulkan perdebatan tentang ‘bahasa alay’.
- 2020-an: Pemerintah melalui Badan Bahasa terus mendorong penggunaan bahasa Indonesia baku, namun varian L tetap dominan dalam komunikasi informal.
Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat
Fenomena diglosia memiliki implikasi luas di berbagai bidang. Dalam pendidikan, siswa yang terbiasa dengan varian L sering kesulitan memahami materi akademik yang disampaikan dalam varian H. Guru perlu menjembatani kedua ragam ini. Di bidang politik, pidato resmi menggunakan varian H, namun calon pemimpin yang pandai beralih ke varian L saat kampanye sering lebih populer. Dalam industri kreatif, film dan musik justru memanfaatkan varian L untuk mendekatkan diri dengan penonton. Tabel berikut merangkum dampak positif dan negatif diglosia:
| Aspek | Dampak Positif | Dampak Negatif |
|---|---|---|
| Komunikasi | Memperjelas konteks dan norma | Menciptakan jarak psikologis |
| Pendidikan | Mengajarkan variasi bahasa | Kesulitan bagi penutur L |
| Budaya | Melestarikan kosakata klasik | Memunculkan stigma |
| Ekonomi | Memudahkan transaksi formal | Diskriminasi dalam rekrutmen |
Menuju Masyarakat yang Sadar Diglosia
Memahami diglosia bukan berarti menghilangkannya, melainkan mengelola agar tidak menjadi alat diskriminasi. Pendidikan bahasa perlu menekankan bahwa kedua varian memiliki fungsi dan nilai masing-masing. Di sekolah, siswa perlu diajarkan kapan dan bagaimana menggunakan ragam formal dan informal secara tepat. Di media, perlu ada ruang untuk varian L tanpa mengurangi penghargaan terhadap varian H. Masyarakat juga perlu menyadari bahwa kemampuan berbahasa yang baik bukan hanya soal menguasai satu ragam, tetapi juga fleksibilitas berpindah sesuai konteks.
Pada akhirnya, diglosia mengajarkan bahwa bahasa adalah cermin kehidupan sosial yang dinamis. Dua wajah diglosia—sebagai perekat dan pemisah—menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga arena negosiasi identitas, kekuasaan, dan solidaritas. Dengan kesadaran akan dua sisi ini, kita dapat menggunakan bahasa secara lebih bijak, menghargai keragaman ragam, dan membangun komunikasi yang inklusif.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










