Wadirut Pertamina: Indonesia Masih Memiliki Potensi Migas yang Besar
Suara Pecari | Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) global saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, termasuk penurunan produksi lapangan-lapangan migas tua dan dinamika geopolitik yang mempengaruhi stabilitas harga energi. Meskipun demikian, Wakil Direktur Utama PT Pertamina, Oki Muraza, menegaskan bahwa Indonesia masih memiliki potensi migas yang besar untuk dikembangkan.
Oki Muraza menyatakan bahwa ketegangan yang terjadi di sejumlah kawasan penghasil minyak dunia berkontribusi pada fluktuasi harga energi dan meningkatkan ketidakpastian dalam investasi. Hal ini menuntut perusahaan migas untuk lebih adaptif agar dapat mempertahankan keberlanjutan bisnisnya. Dia mencatat bahwa potensi migas Indonesia, terutama di kawasan laut dalam dan wilayah timur, menyimpan cadangan besar yang dapat mendukung ketahanan energi nasional dalam jangka panjang.
“Sejumlah cekungan migas masih menyimpan cadangan besar untuk menopang ketahanan energi nasional jangka panjang,” ujar Oki dalam pernyataannya. Dalam menghadapi tantangan ini, pelaku industri mulai memperkuat strategi, termasuk pengembangan teknologi dan sinergi yang lebih erat dengan pemerintah.
Oki juga menekankan pentingnya kemitraan yang kuat dengan pihak lain, seperti Petronas dari Malaysia, untuk meningkatkan kolaborasi dalam industri migas. Kerja sama dengan pemerintah diharapkan dapat memberikan kemudahan dalam perizinan dan menurunkan risiko usaha melalui penerapan teknologi yang lebih efisien.
Presiden dan CEO Petronas, Tengku Muhammad Taufik, memperkirakan bahwa produksi hulu minyak global akan menurun sekitar enam persen pada tahun 2025. Penurunan ini disebabkan oleh 40 persen dari total investasi yang dialokasikan untuk menekan laju penurunan produksi lapangan migas.
Sementara itu, Direktur dan CEO Medco Energi, Roberto Lorato, menilai bahwa pengelolaan industri migas nasional sudah menunjukkan arah yang lebih positif. “Oleh karena itu, perlu ada pengembangan jangka panjang serta pendekatan yang lebih fleksibel untuk eksplorasi,” ungkap Roberto.
Pemanfaatan teknologi menjadi hal penting dalam menahan laju penurunan produksi migas. Penerapan metode enhanced oil recovery (EOR), digitalisasi operasi, serta penggunaan artificial intelligence (AI) dan teknologi pengeboran yang lebih efisien adalah beberapa langkah yang dapat diambil.
Salah satu potensi cadangan migas yang menjanjikan terletak di sekitar Laut Andaman, Aceh. CEO Mubadala Energi, Mansoor Muhamed Al Hamed, mengungkapkan bahwa perusahaannya telah menemukan cadangan migas di daerah tersebut. Dia berharap penemuan ini dapat membantu pemerintah dalam mencapai target produksi migas yang telah ditetapkan. “Jika ladang migas kami di Tangkulo dan Andaman Barat Daya berproduksi, kami akan menjadi salah satu produsen terbesar di Indonesia,” katanya.
Dengan potensi yang masih besar, Indonesia diharapkan mampu mengatasi tantangan yang dihadapi industri migas dan meningkatkan kontribusi sektor ini terhadap ketahanan energi nasional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












