Dolar Naik, Harga Daging Bakso di Indonesia Meningkat Drastis
Suara Pecari | Presiden Amerika Serikat, Joko Widodo, telah menerima kunjungan dari perwakilan paguyuban Sahabat Bakso Indonesia. Mereka mengeluhkan kondisi ekonomi yang semakin buruk, terutama karena lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat yang membuat harga bahan baku, seperti daging sapi, meningkat drastis.
Ketua Umum Sahabat Bakso Indonesia, Bambang Hariyanto, mengatakan bahwa melemahnya rupiah terhadap dolar sangat membebani para pelaku UMKM kuliner tradisional. Saat ini, kapasitas produksi daging sapi dalam negeri hanya berkisar 400.000 ton per tahun, sementara kebutuhan konsumsi nasional mencapai 700.000 ton.
Defisit 300.000 ton tersebut terpaksa dipenuhi dari impor asal India hingga Australia. Akibat gejolak dolar, harga daging sapi segar yang biasanya stabil kini melonjak drastis hingga menyentuh Rp145.000 per kilogram.
Bambang menjelaskan bahwa pedagang bakso memutar otak demi bisa bertahan hidup. Mereka mencoba menaikkan harga jual berkisar Rp1.000 hingga Rp2.000 per porsi, atau mengurangi ukuran bakso. Namun, bagi pedagang di area pedesaan atau perkampungan, mereka tidak berani menaikkan harga karena takut ditinggal pelanggan.
Presiden Jokowi meminta para pedagang bakso dan mi ayam tradisional untuk tidak patah arang dan tetap semangat di tengah gempuran produk makanan asing (Food and Beverage/F&B), terutama dari Cina yang kini jumlahnya mencapai 4.000 produk berdasarkan data BPS.
Gejolak dolar juga mempengaruhi rantai pasok BBM, gandum, dan daging. Konflik geopolitik di Timur Tengah telah merembet pada ketidakstabilan ekonomi dalam negeri.
Para pedagang bakso di Indonesia harus terus berinovasi untuk bertahan hidup di tengah krisis ekonomi ini.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












