Rupiah Ditutup Naik ke Level Rp17.944 per Dolar AS di Tengah Ketegangan Timur Tengah
Suara Pecari | Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan performa positif pada perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, Rupiah Ditutup Naik ke Level Rp17.944 per Dolar AS LPP RRI, menguat 0,63 persen atau 114 poin dibandingkan penutupan sebelumnya. Penguatan ini terjadi meskipun kondisi geopolitik Timur Tengah kembali memanas, yang biasanya menjadi sentimen negatif bagi mata uang emerging market.
Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, dalam analisisnya pada Rabu, 10 Juni 2026, mengungkapkan bahwa rupiah mampu bertahan dari tekanan dolar AS. Hal ini tidak lepas dari faktor eksternal dan internal yang saling mempengaruhi. Di kancah global, Amerika Serikat melancarkan serangan baru ke Iran pada Selasa lalu, setelah jatuhnya helikopter militer AS di dekat Selat Hormuz. Iran membalas dengan menargetkan pangkalan militer AS di Yordania dan sejumlah negara Teluk lainnya. Aksi saling serang ini memupuskan harapan akan kesepakatan damai di Timur Tengah dan kembali memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global.
Akibatnya, harga minyak mentah kembali meroket. Harga minyak Brent hari ini naik menjadi USD92,29 per barel, sementara minyak WTI naik menjadi USD88,97 per barel. Kenaikan harga minyak memperkuat kekhawatiran akan inflasi tinggi karena naiknya harga bahan bakar, sehingga mengurangi ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga bank sentral AS. Pelaku pasar kini mencermati rilis data inflasi AS yang diprakirakan naik menjadi 4,2 persen pada Mei 2026, angka tertinggi sejak April 2023.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, Rupiah Ditutup Naik ke Level Rp17.944 per Dolar AS LPP RRI juga didorong oleh sentimen positif dari dalam negeri. Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga pada Selasa kemarin, yang disambut baik oleh pasar. Kenaikan suku bunga ini membantu pemerintah dalam lelang surat utang bertenor 10 tahun dengan bunga yang ditawarkan 7,4 persen. Selain itu, Danantara, badan usaha milik negara, menyatakan tidak mengambil margin keuntungan pada ekspor komoditas strategis. Kehadiran Danantara bertujuan untuk mengoptimalkan penerimaan negara tanpa mengganggu kelangsungan bisnis eksportir.
Kombinasi kebijakan moneter yang akomodatif dan langkah strategis Danantara memberikan kepercayaan bagi investor asing untuk tetap bermain di pasar keuangan Indonesia. Meskipun ketidakpastian global masih tinggi, fundamental ekonomi domestik yang solid menjadi bantalan bagi rupiah. Para analis memprediksi bahwa penguatan rupiah masih akan berlanjut dalam jangka pendek, terutama jika data inflasi AS tidak terlalu tinggi dan ketegangan Timur Tengah mereda.
Kesimpulannya, Rupiah Ditutup Naik ke Level Rp17.944 per Dolar AS LPP RRI menunjukkan ketahanan mata uang Indonesia di tengah badai geopolitik. Sentimen positif dari kenaikan suku bunga BI dan kebijakan Danantara menjadi katalis utama. Namun, pelaku pasar tetap waspada terhadap risiko global, terutama eskalasi konflik Timur Tengah dan data inflasi AS yang akan dirilis. Ke depan, stabilitas rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan kedua faktor tersebut serta konsistensi kebijakan domestik.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










