Seskab Teddy: Harga Pertamax Indonesia Termurah di ASEAN, Ini Perbandingannya

Seskab Teddy: Harga Pertamax Indonesia Termurah di ASEAN, Ini Perbandingannya

Suara Pecari | Jakarta – Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyatakan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) di Indonesia masih menjadi yang termurah di kawasan Asia Tenggara. Pernyataan ini disampaikan menanggapi kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 (RON 95) menjadi Rp17.000 per liter yang mulai berlaku pada Juni 2026.

Perbandingan Harga BBM di ASEAN

Dalam keterangan resmi yang diunggah di akun Instagram Sekretariat Kabinet, Teddy memaparkan data perbandingan harga BBM RON 92/95 di sejumlah negara ASEAN. Berikut tabel perbandingannya:

NegaraHarga per Liter (Rp)
Indonesia (Pertamax)16.250
Filipina22.158
Myanmar25.085
Thailand28.910
Laos31.945
Singapura42.971

Data tersebut menunjukkan bahwa harga Pertamax di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara tetangga. Bahkan, Singapura yang terkenal sebagai pusat keuangan dengan harga BBM tertinggi di ASEAN, mencapai Rp42.971 per liter, hampir tiga kali lipat harga Indonesia.

Faktor Pemicu Kenaikan Harga Pertamax

Teddy menjelaskan bahwa kenaikan harga Pertamax tidak bisa dihindari karena BBM nonsubsidi ini mengikuti fluktuasi harga minyak dunia. Sejak Maret 2026, harga minyak mentah global melonjak drastis akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya antara Iran dengan Amerika Serikat dan sekutunya Israel. Pemerintah Indonesia, menurut Teddy, telah berupaya menahan kenaikan selama berbulan-bulan demi menjaga daya beli masyarakat.

“Pertamax adalah BBM nonsubsidi, artinya harganya mengikuti harga minyak dunia. Harga minyak dunia naik drastis sejak Maret, tetapi pemerintah sudah menahan kenaikan selama berbulan-bulan,” ujar Teddy dalam keterangannya pada Jumat, 12 Juni 2026.

Dampak bagi Masyarakat dan Industri

Kenaikan harga BBM nonsubsidi tentu berdampak pada berbagai sektor. Bagi masyarakat pengguna kendaraan pribadi, terutama yang menggunakan Pertamax, beban pengeluaran transportasi meningkat. Namun, dibandingkan dengan negara ASEAN lain, kenaikan ini masih relatif ringan. Sementara itu, bagi industri yang bergantung pada BBM nonsubsidi, seperti logistik dan transportasi umum, kenaikan ini berpotensi mendorong peningkatan biaya operasional yang pada akhirnya dapat mempengaruhi harga barang dan jasa.

Di sisi lain, pemerintah tetap mempertahankan harga BBM subsidi, yaitu Pertalite Rp10.000 per liter dan Solar Rp6.800 per liter. Kebijakan ini diambil untuk melindungi masyarakat berpenghasilan rendah dari dampak langsung kenaikan harga energi global.

Kronologi Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi

  • Maret 2026: Harga minyak mentah dunia mulai merangkak naik akibat konflik Iran-AS-Israel.
  • April-Mei 2026: Pemerintah menahan kenaikan harga BBM nonsubsidi meskipun harga minyak terus meningkat.
  • Awal Juni 2026: Pertamina akhirnya menyesuaikan harga Pertamax dan Pertamax Green 95 mengikuti harga pasar internasional.
  • 12 Juni 2026: Seskab Teddy mengumumkan perbandingan harga BBM ASEAN untuk menunjukkan bahwa harga Indonesia tetap kompetitif.

Pernyataan Pertamina

Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menegaskan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak yang berlaku di pasar internasional. Pertamina berkomitmen untuk menjaga ketersediaan energi bagi masyarakat dengan tetap memperhatikan daya beli.

“Penyesuaian pada harga BBM nonsubsidi dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak yang berlaku di pasar internasional dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat,” kata Simon.

Implikasi bagi Perekonomian Nasional

Kenaikan harga BBM nonsubsidi berpotensi mempengaruhi inflasi, terutama pada sektor transportasi dan logistik. Namun, dengan tetap mempertahankan subsidi pada Pertalite dan Solar, pemerintah berupaya mengendalikan dampak inflasi. Di sisi lain, harga Pertamax yang lebih murah dibandingkan negara ASEAN lain dapat menjadi daya tarik bagi investasi, terutama di sektor manufaktur dan distribusi yang membutuhkan energi dalam jumlah besar.

Para ekonom memperkirakan bahwa kenaikan ini akan bersifat sementara selama konflik Timur Tengah belum mereda. Pemerintah diharapkan terus memantau perkembangan harga minyak dunia dan siap melakukan penyesuaian kebijakan jika diperlukan.

Sebagai penutup, perbandingan harga BBM di ASEAN menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki keunggulan kompetitif di sektor energi. Meskipun terjadi kenaikan, harga Pertamax tetap yang termurah di kawasan. Kebijakan subsidi yang tepat sasaran juga menjadi bantalan bagi masyarakat kurang mampu. Ke depan, transisi menuju energi terbarukan dan pengurangan ketergantungan pada BBM impor menjadi agenda penting untuk menjaga stabilitas harga energi nasional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan