Pemerintah Akan Pulihkan PLTP Sarulla dengan Investasi Rp 4,86 Triliun untuk Optimalkan Kapasitas Energi Panas Bumi
Suara Pecari, Tapanuli Utara – Pemerintah Indonesia tengah mengupayakan pemulihan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla yang terletak di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Rencana ini melibatkan investasi sebesar sekitar USD 270 juta atau setara dengan Rp 4,86 triliun untuk mengembalikan kapasitas pembangkit agar beroperasi optimal pada 2027-2028.
Rencana Investasi dan Target Kapasitas
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Wamen ESDM) Yuliot Tanjung menyampaikan bahwa investasi baru sebesar USD 270 juta diperlukan untuk memulihkan kapasitas terpasang PLTP Sarulla sebesar 330 MW. Saat ini, kapasitas produksi pembangkit ini sekitar 220 MW, lebih rendah dari kapasitas terpasang karena adanya tantangan teknis, khususnya perubahan tekanan uap di lapangan panas bumi.
“Perlu ada tambahan investasi baru itu diperkirakan sekitar 270 juta US untuk mengembalikan kembali ke kapasitas 330 MW dari potensi yang ada 1.100 MW,” ujar Yuliot dalam keterangannya pada Sabtu (18 Juli 2026).
Proses Administrasi dan Jadwal Pemulihan
Pemulihan PLTP Sarulla juga melibatkan penyelesaian proses administrasi yang dijadwalkan selesai hingga Oktober 2026. Setelah proses administratif rampung, peningkatan kapasitas produksi akan dikejar pada 2027-2028.
“Yang pertama dari sisi administrasi kita akan selesaikan sampai dengan Oktober 2026 ini. Sudah selesai urusan administrasinya, tahun 2027-2028 ini kita kejar peningkatan kapasitas produksi,” tambah Yuliot.
Signifikansi Pemulihan PLTP Sarulla
PLTP Sarulla merupakan bagian penting dari upaya pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mengoptimalkan potensi panas bumi yang diperkirakan mencapai 1.100 MW di wilayah tersebut. Pembangkit ini berlokasi di Kecamatan Pahae Julu dan Pahae Jae, Kabupaten Tapanuli Utara, dan dioperasikan oleh Sarulla Operations Ltd. (SOL).
Struktur PLTP Sarulla
- Memiliki kapasitas terpasang 330 MW yang terbagi menjadi tiga unit masing-masing 110 MW.
- Unit Silangkitang (SIL) mulai beroperasi komersial pada Maret 2017.
- Unit Namora-I-Langit 1 (NIL-1) mulai beroperasi pada Oktober 2017.
- Unit Namora-I-Langit 2 (NIL-2) mulai beroperasi pada Mei 2018.
Tantangan Teknis
Penurunan kapasitas produksi saat ini disebabkan oleh perubahan tekanan uap di lapangan panas bumi yang menjadi lokasi operasional pembangkit. Hal ini menjadi tantangan teknis utama yang harus diatasi dalam upaya pemulihan.
Investasi Lanjutan untuk Pemanfaatan Potensi Panas Bumi
Setelah kapasitas eksisting pulih dan beroperasi optimal, pemerintah berencana melakukan investasi bertahap guna mendukung pemanfaatan potensi panas bumi di wilayah tersebut secara maksimal.
Langkah ini diharapkan dapat mendorong ketersediaan energi terbarukan yang andal dan mendukung target energi nasional yang berkelanjutan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










