Rupiah Menguat Tipis ke Rp18.065, Tapi Ancaman Pelemahan Masih Membayangi
Suara Pecari, Nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (10/7/2026) sore ditutup menguat 0,35 persen ke level Rp18.065 per dolar AS. Penguatan ini terjadi setelah rupiah sempat tertekan di bawah level psikologis Rp18.100 pada awal pekan. Meski menguat, tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih terasa karena faktor eksternal yang belum sepenuhnya mereda.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada pembukaan pagi hari sempat menyentuh Rp18.061 per dolar AS, naik 67 poin dibandingkan penutupan sebelumnya. Namun, penguatan itu tidak bertahan lama karena tekanan beli dolar AS kembali muncul. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dari PT Traze Andalan Futures menyebutkan bahwa penguatan rupiah didorong oleh kombinasi faktor eksternal dan internal.
Dari eksternal, memanasnya kembali konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta kenaikan harga minyak dunia menjadi pemicu utama. Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi global yang dapat mendorong bank sentral AS (The Fed) untuk menaikkan suku bunga lebih agresif. “Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 63 persen pada pertemuan September 2026,” ujar Ibrahim. Sementara dari internal, pernyataan International Monetary Fund (IMF) yang mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 5 persen pada 2026 disambut positif oleh pelaku pasar.
Namun, penguatan nilai tukar rupiah belum mampu membalikkan tren pelemahan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, menilai bahwa tekanan terhadap rupiah masih besar akibat arus modal keluar, kebutuhan valas korporasi, dan persepsi risiko fiskal. “Jurus BI hanya efektif sebagai penahan jangka pendek jika tidak didukung kebijakan fiskal yang kredibel,” kata Rizal.
Bank Indonesia (BI) sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada Juni 2026 untuk menahan depresiasi rupiah. Langkah ini diambil setelah rupiah sempat menyentuh level terlemahnya sejak krisis 1998, yakni Rp18.171 per dolar AS pada 9 Juni. Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Rijadh Djatu Winardi, menilai kebijakan tersebut merupakan pilihan sulit. “Menaikkan suku bunga memang membebani ekonomi domestik, tetapi membiarkan rupiah kehilangan jangkar akan jauh lebih mahal,” jelasnya.
Di sisi lain, pergerakan saham perbankan pada Jumat (10/7) menunjukkan variasi. Saham PT Bank Mandiri Tbk menguat 0,99 persen, sementara PT Bank Central Asia Tbk melemah 0,40 persen. Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya menilai bahwa stabilnya nilai tukar rupiah menjadi salah satu faktor penopang sektor perbankan, selain ekspektasi kinerja kuartal II yang solid.
Ke depan, nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif di sekitar level Rp18.000 hingga Rp18.180 per dolar AS. Sentimen global seperti kebijakan suku bunga The Fed, harga minyak, serta konflik geopolitik akan terus mempengaruhi pergerakan rupiah. Sementara itu, pemerintah dan BI diharapkan dapat menjaga disiplin fiskal, memperkuat ekspor, serta mengurangi impor energi untuk memperkuat fundamental ekonomi.
Kesimpulannya, penguatan tipis rupiah pada Jumat (10/7) belum cukup untuk mengubah tren pelemahan yang masih membayangi. Diperlukan sinergi kebijakan moneter dan fiskal yang kuat agar nilai tukar rupiah dapat kembali stabil dan memberikan kepastian bagi pelaku pasar.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










