Bank Sentral Asia Cari Cara Baru Jaga Mata Uang Tanpa Kuras Devisa
Suara Pecari – Bank sentral di berbagai negara berkembang di Asia tengah berupaya mencari strategi baru untuk menjaga stabilitas mata uang mereka tanpa harus terus mengandalkan penjualan cadangan devisa. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap ketidakpastian global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah dan prospek suku bunga tinggi yang bertahan lama di Amerika Serikat (AS).
Tekanan Global terhadap Mata Uang Asia
Ketegangan antara Iran dan AS menyebabkan lonjakan harga minyak dunia, memberikan tekanan tambahan bagi negara-negara Asia yang masih bergantung pada impor energi. Akibatnya, beberapa mata uang di kawasan Asia tercatat sebagai yang berkinerja terburuk sepanjang tahun ini, termasuk rupiah Indonesia, rupee India, dan baht Thailand.
Strategi Baru Bank Sentral Asia
Menurut laporan Bloomberg, bank sentral di Asia mulai memperluas strategi mereka. Selain menaikkan suku bunga dan melakukan intervensi di pasar valuta asing, mereka juga berupaya menarik lebih banyak aliran dolar AS dari dalam maupun luar negeri. Contoh nyata adalah India yang berhasil menghimpun sekitar USD 40 miliar dari masyarakat diaspora melalui simpanan dolar dengan imbal hasil tinggi, membantu pemulihan nilai rupee.
Korea Selatan mendorong perusahaan mempercepat repatriasi pendapatan dolar, sehingga won mengalami penguatan bulanan terbesar sejak 2022. Indonesia juga berhasil menarik sekitar USD 1,6 miliar aliran dana ke pasar obligasi dalam dua bulan terakhir melalui insentif untuk investor asing. Taiwan meminta eksportir menjual dolar AS saat mata uang lokal mengalami tekanan, sebagai alternatif mendapatkan pasokan valuta asing tanpa mengurangi cadangan devisa.
Menjaga Cadangan Devisa di Tengah Volatilitas
Claudio Piron, Head of Asia FX and Rates Strategy di BofA Global Research, menyatakan bahwa upaya ini bertujuan mempertahankan cadangan devisa sebaik mungkin di tengah ketidakpastian dan volatilitas yang lebih tinggi secara struktural. Negara-negara Asia harus menyeimbangkan kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar dengan likuiditas domestik, sehingga menarik aliran dana masuk menjadi strategi penting.
Perbandingan dengan Negara Amerika Latin
Sementara mata uang Asia mengalami tekanan, beberapa mata uang Amerika Latin seperti peso Kolombia, real Brasil, dan peso Meksiko justru menunjukkan kinerja terbaik. Keunggulan ini dipengaruhi oleh suku bunga yang relatif lebih tinggi dan status sebagai eksportir minyak, yang membuat mereka lebih terlindungi dari kenaikan harga energi.
Desmond Fu, Head of Investment Management Western Asset Management Singapura, menilai mata uang Amerika Latin memiliki keunggulan imbal hasil total saat ini, namun mata uang Asia berpotensi mempersempit jarak jika imbal hasil obligasi AS stabil, pasokan energi membaik, dan investasi di bidang kecerdasan buatan (AI) terus mendukung ekspor dan belanja modal.
Peran Dolar AS dan Kebijakan Federal Reserve
Arah kebijakan moneter AS menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan mata uang Asia. Setelah keputusan The Fed mempertahankan suku bunga bulan lalu dengan adanya perbedaan pendapat di antara pejabatnya, pasar mencermati bagaimana bank sentral AS akan mengendalikan inflasi ke depan. Bank sentral Asia menyimpan lebih banyak amunisi kebijakan menghadapi ketidakpastian global, termasuk perubahan harga minyak, fenomena El Nino, imbal hasil AS, dan nilai dolar.
Strategi Menarik Aliran Dolar
Michael Wan, Senior Currency Analyst MUFG Bank di Singapura, menyebutkan bahwa strategi menarik aliran dolar dari dalam maupun luar negeri menjadi salah satu cara untuk menjaga stabilitas mata uang tanpa mengurangi cadangan devisa secara drastis. Pendekatan ini memungkinkan bank sentral mempertahankan likuiditas domestik dan menghadapi ketidakpastian global yang kompleks.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










