Kesenjangan Kekayaan Singapura Makin Lebar, Mobilitas Sosial Melambat
Suara Pecari – Kesenjangan kekayaan di Singapura semakin melebar dengan koefisien Gini kekayaan mencapai 0,55, lebih tinggi dibandingkan ketimpangan pendapatan yang berada pada angka 0,38 setelah pajak dan transfer. Data ini menunjukkan bahwa aset rumah tangga terkonsentrasi secara lebih signifikan dibandingkan pendapatan mereka.
Properti menjadi sumber kekayaan terbesar di Singapura pada tahun 2023, di mana ekuitas rumah menyumbang lebih dari separuh kekayaan rata-rata. Bahkan, kelompok pendapatan terbawah tetap memiliki nilai ekuitas rumah yang positif. Namun, meski ekonomi Singapura cukup kuat, mobilitas sosial antargenerasi mulai melambat. Proporsi anak-anak dari keluarga berpendapatan rendah yang tetap berada di kelompok tersebut meningkat, menandakan kesempatan untuk naik kelas secara ekonomi tidak merata.
Ketimpangan Kekayaan Lebih Besar dari Ketimpangan Pendapatan
Kementerian Keuangan Singapura mengungkapkan bahwa ketimpangan kekayaan jauh lebih besar dibandingkan ketimpangan pendapatan setelah pajak dan bantuan sosial. Koefisien Gini kekayaan sebesar 0,55 mengindikasikan jarak antara kepemilikan aset antar rumah tangga yang sangat lebar. Hal ini berbeda dengan koefisien Gini pendapatan yang sebesar 0,38, yang meskipun masih menunjukkan ketimpangan, tidak sebesar ketimpangan kekayaan.
Kekayaan mencakup aset seperti properti, tabungan, saham, dan kewajiban seperti cicilan rumah, sehingga memberikan gambaran lebih lengkap mengenai ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat.
Peran Properti sebagai Sumber Kekayaan Utama
Properti menjadi komponen terbesar dalam kekayaan rumah tangga di Singapura. Ekuitas rumah menyumbang lebih dari 50% dari total kekayaan rata-rata keluarga. Bahkan kelompok 20% pendapatan terbawah memiliki ekuitas rumah yang tetap bernilai positif, menunjukkan bahwa kepemilikan rumah menjadi alat penting dalam mengelola dan mempertahankan kekayaan.
Kekayaan Keluarga Menentukan Titik Awal Anak
Profesor Irene Ng dari Departemen Pekerjaan Sosial National University of Singapore menjelaskan bahwa kekayaan lebih timpang daripada pendapatan karena orang kaya memiliki lebih banyak cara untuk menambah aset dibandingkan dengan kelompok berpendapatan rendah. Kondisi ini menyebabkan perbedaan signifikan dalam titik awal ekonomi anak-anak keluarga yang berbeda, yang berkontribusi pada kesenjangan sosial yang semakin lebar.
Mobilitas Sosial Melambat di Singapura
Data menunjukkan bahwa mobilitas sosial, yaitu kesempatan untuk berpindah dari kelompok pendapatan rendah ke kelompok yang lebih tinggi, mulai melambat. Proporsi anak dari keluarga berpendapatan rendah yang tetap berada di kelompok tersebut meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa peluang untuk naik kelas secara ekonomi tidak merata dan semakin sulit untuk mengatasi ketimpangan kekayaan yang telah ada.
Upaya Pemerintah dalam Meredam Kesenjangan
Pemerintah Singapura mengandalkan kebijakan perumahan dan Central Provident Fund (CPF) untuk mengurangi dampak ketimpangan kekayaan. Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga agar kesenjangan tidak semakin mengakar dan memberikan perlindungan sosial bagi kelompok yang membutuhkan. Namun, tantangan dalam mempercepat mobilitas sosial tetap besar mengingat konsentrasi kekayaan yang tinggi.
Dengan kondisi ini, penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk terus mengawasi dan mengembangkan kebijakan yang mampu menciptakan kesempatan ekonomi yang lebih merata serta meningkatkan mobilitas sosial agar kesenjangan kekayaan tidak menjadi penghalang utama bagi kemajuan sosial dan ekonomi di Singapura.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










