Kejar Kebutuhan B50, Pemerintah Dorong Batu Bara Diolah Jadi Metanol
Suara Pecari – Pemerintah Indonesia tengah mendorong pemanfaatan batu bara tidak hanya sebagai sumber energi langsung, tetapi juga sebagai bahan baku untuk produk turunan bernilai tambah, seperti metanol. Langkah ini diambil guna memenuhi kebutuhan metanol nasional yang semakin meningkat seiring penerapan program bahan bakar nabati B50.
Pemanfaatan Batu Bara untuk Metanol
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Todotua Pasaribu, menyampaikan dukungan pemerintah terhadap inisiatif pengolahan batu bara menjadi metanol. Contoh pengembangan serupa telah dilakukan di China, di mana sekitar 30 persen dari total pemanfaatan batu bara diarahkan untuk produksi produk turunan seperti metanol.
Di Indonesia, pemanfaatan batu bara saat ini masih didominasi oleh sektor energi. Pemerintah membuka peluang melalui proses gasifikasi batu bara agar bisa diolah menjadi synthetic gas, metanol sintetis, dan produk lanjutan seperti dimethyl ether (DME).
Kebutuhan dan Produksi Metanol di Indonesia
Produksi metanol domestik saat ini hanya berasal dari satu pabrik di Kalimantan Timur dengan kapasitas sekitar 660 ribu ton per tahun. Namun, kebutuhan nasional metanol masih mengalami defisit hampir 2 juta ton. Proyeksi kebutuhan metanol diperkirakan mencapai 2,5 hingga 3 juta ton seiring penerapan B50 yang mensyaratkan pencampuran 50 persen biodiesel dalam bahan bakar.
Selama ini, metanol diproduksi menggunakan gas sebagai bahan baku, namun ketersediaan gas domestik masih terbatas. Salah satu sumber gas potensial adalah Blok Masela, namun pemerintah juga melihat gasifikasi batu bara sebagai alternatif strategis untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Proyek Gasifikasi Batu Bara dan Pengembangan DME
Proyek hilirisasi batu bara menjadi DME masih dalam tahap penjajakan. Pemerintah dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) tengah mencari mitra teknologi dan investor untuk merealisasikan pengembangan industri DME. Tantangan utama meliputi aspek keekonomian dan teknologi, serta kebutuhan untuk mempertimbangkan industri penyerap produk DME.
China menjadi acuan karena telah lebih maju dalam mengembangkan industri DME, sehingga Indonesia berharap dapat belajar dari pengalaman tersebut untuk mempercepat program hilirisasi batu bara.
Signifikansi Pengembangan Batu Bara Jadi Metanol
Pengolahan batu bara menjadi metanol diharapkan dapat menambah nilai tambah sumber daya alam Indonesia, mengurangi ketergantungan pada impor metanol, dan mendukung target penggunaan bahan bakar nabati B50. Dengan memperkuat hilirisasi batu bara, pemerintah juga mendorong pertumbuhan industri dalam negeri dan pemanfaatan teknologi ramah lingkungan.
Langkah ini sejalan dengan upaya diversifikasi energi dan optimalisasi sumber daya nasional untuk mencapai kemandirian energi yang lebih baik di masa depan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










