Membedah Gurita Bisnis dan Cengkeraman Haji Isam di JARR, PACK, RANS hingga BYAN
Suara Pecari – Andi Syamsuddin Arsyad, yang lebih dikenal sebagai Haji Isam, semakin memperkuat cengkeraman bisnisnya di pasar modal Indonesia melalui ekspansi di berbagai sektor strategis, mulai dari pertambangan batu bara hingga nikel, serta sektor perkebunan kelapa sawit dan energi terbarukan.
Langkah terbaru Haji Isam adalah akuisisi 30% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN), yang setara dengan 10 miliar saham, dari konglomerat Low Tuck Kwong dan putrinya Elaine Low. Akuisisi ini dilakukan melalui perusahaan miliknya, PT Jhonlin Baratama, yang merupakan bagian dari Jhonlin Group dan berfokus pada jasa pertambangan batu bara.
Saham BYAN mencatatkan kenaikan signifikan hingga mencapai auto reject atas (ARA) dengan kenaikan 19,96% menjadi Rp 13.825 per saham pada perdagangan 18 September 2026. Pergerakan saham ini menunjukkan antusiasme pasar terhadap langkah strategis Haji Isam dalam memperluas bisnis di sektor pertambangan.
Ekspansi ke Bisnis Nikel dan Perkebunan Kelapa Sawit
Sebelumnya, pada Mei 2026, Haji Isam juga memperluas portofolio bisnisnya ke sektor nikel dengan membeli 6,83 miliar saham PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) seharga Rp 137 per saham. Transaksi ini menjadikan ia menguasai 21,12% saham PACK dengan nilai mencapai sekitar Rp 936,65 miliar. Langkah ini merupakan diversifikasi dari bisnis inti Jhonlin Group yang sebelumnya berfokus pada batu bara, kelapa sawit, dan logistik.
Dalam sektor perkebunan kelapa sawit, PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) menjadi andalan Haji Isam. Perusahaan ini bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit dan pengolahan biodiesel. Saham JARR mengalami kenaikan signifikan, sebesar 17,26% dalam sebulan terakhir dan 11,46% secara year to date (ytd) pada September 2026, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 33,23 triliun.
Kinerja Saham dan Prospek Bisnis
Saham PT Abadi Nusantara Jaya Tbk (PACK) juga menunjukkan performa luar biasa dengan kenaikan 46,37% dalam sebulan dan melonjak 208,44% secara ytd. Hal ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek bisnis nikel yang tengah berkembang, seiring dengan meningkatnya permintaan komoditas tersebut di pasar global.
Selain itu, sentimen positif terhadap kebijakan biodiesel B50 di Indonesia turut mendukung kenaikan saham JARR. Kebijakan ini meningkatkan kadar campuran minyak sawit dalam bahan bakar diesel menjadi 50%, yang secara langsung memperbesar permintaan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dan mendorong aktivitas produksi biodiesel JARR.
Meskipun demikian, risiko valuasi tetap menjadi perhatian pasar, terutama terkait fluktuasi harga bahan baku crude palm oil (CPO) yang dapat memengaruhi margin keuntungan perusahaan.
Investasi di Sektor Makanan
Selain bidang pertambangan dan perkebunan, Haji Isam juga merambah sektor makanan melalui akuisisi pengelola jaringan KFC Indonesia, PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), yang dilaksanakan melalui anak-anaknya. Pada 2025, FAST menjual 15% saham PT Jagonya Ayam Indonesia (JAI) kepada PT Shankara Fortuna Nusantara (SFN) senilai Rp 54,44 miliar, efektif per 30 Juni 2025.
Profil PT Jhonlin Baratama dan Jhonlin Group
PT Jhonlin Baratama didirikan pada 2003 dan menjadi fondasi utama bisnis Jhonlin Group yang dikaitkan erat dengan Haji Isam. Perusahaan ini fokus pada kontraktor dan penyedia jasa pertambangan batu bara, menjadi pilar penting dalam ekspansi bisnis Haji Isam di sektor sumber daya alam.
Portofolio saham yang dikuasai oleh Haji Isam dan kelompok usahanya, terutama di JARR, PACK, RANS, dan BYAN, mencerminkan strategi diversifikasi yang solid dan penguatan posisi di berbagai sektor industri utama di Indonesia.
Dengan langkah akuisisi strategis dan performa saham yang terus meningkat, Haji Isam memperlihatkan bagaimana pengusaha nasional ini membangun gurita bisnis yang kuat dan berpengaruh di pasar modal Indonesia, khususnya di sektor komoditas dan energi terbarukan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










