Negara-negara Islam dan Arab Peringatkan Aneksasi Israel di Palestina: Ancaman Serius bagi Solusi Dua Negara
Suara Pecari | Negara-negara Islam dan Arab Peringatkan Aneksasi Israel di Palestina LPP RRI – Dalam konferensi di Perserikatan Bangsa-Bangsa, Palestina, Kelompok Arab, dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) secara resmi memperingatkan adanya aneksasi Israel di wilayah Palestina yang diduduki. Mereka menilai Israel memanfaatkan ketidakstabilan regional untuk mempercepat perubahan status quo di Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Jalur Gaza. Peringatan ini disampaikan pada Sabtu, 6 Juni 2026, dan menjadi sorotan utama dalam sidang Dewan Keamanan PBB.
Utusan Palestina untuk PBB, Riyad Mansour, menyatakan bahwa situasi di wilayah pendudukan semakin memburuk. Ia memperingatkan bahwa Israel tengah melakukan perubahan besar di balik situasi perang, termasuk kemungkinan aneksasi wilayah Palestina yang dapat menghancurkan peluang solusi dua negara. “Kami melihat adanya upaya sistematis untuk mengubah demografi dan geografi Palestina,” ujar Mansour. Ia juga menyoroti potensi memburuknya situasi kemanusiaan di Gaza, di mana blokade dan serangan militer terus berlangsung.
Dalam surat yang dikirim Palestina kepada Dewan Keamanan PBB, mereka menyoroti berbagai pelanggaran yang terjadi di Tepi Barat, termasuk rencana permukiman E1. Rencana ini bertujuan menghubungkan Yerusalem Timur dengan permukiman ilegal di sekitarnya melalui penyitaan tanah dan pembangunan permukiman baru. Mansour menyebut rencana tersebut sangat berbahaya dan mendesak Dewan Keamanan untuk menjalankan tanggung jawabnya sesuai Resolusi 2334, yang menegaskan ilegalnya permukiman Israel di wilayah pendudukan.
Negara-negara Islam dan Arab Peringatkan Aneksasi Israel di Palestina LPP RRI juga menekankan perlunya tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan simbolis. Mansour menegaskan bahwa rakyat Palestina tidak memiliki tanah air selain Palestina, dan menolak jika Dewan Keamanan menghindari tanggung jawabnya dengan alasan hak veto. Ia juga mengutip pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menolak aneksasi, berharap AS dapat menggunakan pengaruhnya untuk menekan Israel.
Dalam pertemuan yang sama, wakil Turki untuk PBB yang berbicara atas nama OKI mengutuk keras upaya penguatan pendudukan dan aneksasi Israel. Mereka mendesak tindakan internasional untuk menghentikan perluasan permukiman dan pengusiran paksa warga Palestina. Utusan Kelompok Arab menyebut rencana E1 sebagai ancaman eksistensial bagi Palestina dan prospek perdamaian. Ia menyerukan agar Dewan Keamanan dan komunitas internasional mengambil tindakan tegas untuk menghentikan aktivitas terkait aneksasi serta menghentikan ekspansi permukiman.
Negara-negara Islam dan Arab Peringatkan Aneksasi Israel di Palestina LPP RRI menyoroti bahwa eskalasi ini terjadi di tengah ketidakstabilan regional yang dipicu oleh konflik di Gaza dan ketegangan dengan Iran. Israel, menurut para pengamat, mencoba memanfaatkan kekacauan untuk memperkuat kendali atas wilayah yang diduduki sejak 1967. Rencana permukiman E1, jika terealisasi, akan memutus kontinuitas wilayah Palestina dan membuat solusi dua negara semakin mustahil.
Komunitas internasional, termasuk Uni Eropa dan Liga Arab, telah berulang kali mengecam perluasan permukiman Israel. Namun, tanpa mekanisme penegakan yang kuat, kecaman tersebut seringkali diabaikan. Dalam sidang Dewan Keamanan, perwakilan beberapa negara menekankan pentingnya akuntabilitas sesuai hukum internasional, termasuk kemungkinan sanksi jika Israel terus melanggar resolusi PBB.
Kesimpulannya, peringatan dari Negara-negara Islam dan Arab Peringatkan Aneksasi Israel di Palestina LPP RRI merupakan sinyal bahaya bagi perdamaian di Timur Tengah. Tanpa tindakan tegas dari Dewan Keamanan dan negara-negara berpengaruh, aneksasi de facto dapat menjadi permanen, menghancurkan harapan rakyat Palestina untuk merdeka dan hidup berdampingan secara damai dengan Israel. Situasi ini menuntut respons global yang segera dan konkret, bukan sekadar retorika diplomatik.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.











