Israel Serang Warga Palestina saat Pemakaman di Gaza: 8 Tewas, 20 Luka, Eskalasi Baru di Tengah Gencatan Senjata yang Runtuh
Suara Pecari, Serangan udara Israel kembali mengguncang Jalur Gaza pada Jumat, 22 Juli 2026, menargetkan sekelompok warga Palestina yang tengah menghadiri pemakaman di kamp pengungsi Nuseirat, Gaza tengah. Insiden ini menewaskan sedikitnya 8 orang dan melukai 20 lainnya, menurut petugas medis setempat. Tragedi ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan setelah runtuhnya gencatan senjata yang telah berlangsung selama beberapa minggu.
Kronologi Serangan Mematikan
Menurut laporan saksi mata, sekitar pukul 14.00 waktu setempat, ribuan pelayat berkumpul di pemakaman Nuseirat untuk menguburkan seorang warga yang tewas dalam serangan Israel sehari sebelumnya. Tanpa peringatan, pesawat tempur Israel meluncurkan dua rudal yang menghantam area pemakaman. Ledakan dahsyat mengoyak kerumunan, meninggalkan pemandangan mengerikan dengan korban berserakan di antara nisan-nisan.
Tim penyelamat dan ambulans berusaha keras mengevakuasi korban ke rumah sakit terdekat, namun keterbatasan akses dan pasokan medis akibat blokade yang berkepanjangan membuat penanganan korban luka menjadi sangat sulit. Rumah Sakit Al-Aqsa di Deir al-Balah kewalahan menerima puluhan korban luka, dengan sebagian besar mengalami luka serius akibat pecahan peluru dan luka bakar.
Dampak Langsung: Korban Jiwa dan Kerusakan Infrastruktur
| Lokasi | Jumlah Tewas | Jumlah Luka | Kerusakan |
|---|---|---|---|
| Nuseirat (pemakaman) | 8 | 20 | Rusak berat, termasuk kendaraan dan tenda |
| Wilayah lain Gaza (hari yang sama) | 3 | 15 | Rumah dan fasilitas umum |
| Total (22 Juli 2026) | 12 | 35+ | — |
Data dari petugas medis Gaza mencatat total 12 orang tewas pada hari Jumat tersebut, termasuk 8 di Nuseirat dan 3 di serangan terpisah di wilayah lain. Jumlah korban luka diperkirakan terus bertambah seiring proses evakuasi dan pencarian korban yang mungkin masih tertimbun reruntuhan.
Respons Militer Israel
Ketika dimintai konfirmasi, militer Israel menyatakan bahwa serangan di Nuseirat menargetkan “sel milik kelompok militan Jihad Islam” yang menurut mereka beroperasi di area tersebut. Israel mengklaim bahwa kelompok tersebut tengah merencanakan serangan terhadap posisi Israel. Namun, klaim ini dibantah keras oleh warga setempat yang menyatakan tidak ada aktivitas militer di lokasi pemakaman. Jihad Islam, bersama Hamas, menguasai sebagian besar wilayah Gaza dan sering menjadi sasaran operasi militer Israel.
Kecaman dan Seruan Internasional
Hamas dengan tegas mengutuk serangan tersebut sebagai “pembantaian brutal terhadap para pelayat yang tak berdosa”. Dalam pernyataan resminya, Hamas mendesak para mediator internasional, termasuk Mesir, Qatar, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), untuk segera bertindak menghentikan agresi Israel di Gaza. “Ini adalah kejahatan perang yang nyata. Menargetkan pemakaman adalah pelanggaran hukum humaniter internasional yang paling keji,” kata juru bicara Hamas.
PBB melalui Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyatakan keprihatinan mendalam dan menyerukan dilakukannya penyelidikan independen. Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia menambahkan bahwa serangan terhadap warga sipil yang sedang berkabung tidak dapat dibenarkan dalam keadaan apa pun.
Dampak Kemanusiaan dan Krisis yang Semakin Dalam
Serangan ini terjadi di tengah situasi kemanusiaan yang sudah sangat memprihatinkan di Gaza. Lebih dari 2,3 juta penduduk Gaza hidup di bawah blokade ketat Israel dan Mesir selama bertahun-tahun, mengakibatkan kekurangan air bersih, listrik, obat-obatan, dan pangan. Rumah sakit beroperasi dengan kapasitas terbatas, dan warga sipil terus menjadi korban utama konflik.
Menurut data terbaru, sejak eskalasi terakhir pada Mei 2026, lebih dari 500 warga Palestina tewas dan ribuan lainnya luka-luka. Infrastruktur sipil seperti sekolah, masjid, dan fasilitas kesehatan juga mengalami kerusakan parah. Organisasi kemanusiaan seperti Palang Merah dan UNRWA berjuang untuk memberikan bantuan, namun akses terbatas dan dana yang tidak mencukupi menghambat upaya mereka.
Dampak Psikologis bagi Warga Gaza
Serangan terhadap pemakaman memiliki dampak psikologis yang mendalam. Tradisi pemakaman adalah momen sakral bagi keluarga Palestina untuk melepas kepergian orang tercinta. Tindakan menyerang saat prosesi pemakaman dianggap sebagai penghinaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan agama. Banyak warga yang kini merasa takut untuk menghadiri pemakaman atau bahkan berkumpul di ruang terbuka, mengingat risiko serangan udara yang sewaktu-waktu bisa terjadi.
Implikasi Politik dan Prospek ke Depan
Serangan ini semakin memperumit upaya perdamaian yang sudah rapuh. Perundingan gencatan senjata yang dimediasi oleh Mesir dan Qatar mengalami kebuntuan setelah Israel menolak tuntutan Hamas untuk mencabut blokade secara bertahap. Analis politik menilai bahwa serangan semacam ini justru memperkuat posisi kelompok garis keras di kedua belah pihak, sehingga memperkecil peluang untuk mencapai solusi damai.
Sementara itu, komunitas internasional tampak terpecah. Amerika Serikat, sekutu utama Israel, kembali memberikan dukungan penuh dengan menyatakan hak Israel untuk membela diri. Sebaliknya, negara-negara Liga Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mengutuk keras serangan tersebut dan mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengambil tindakan tegas. Namun, veto AS di Dewan Keamanan selama ini sering menghalangi resolusi yang mengkritik Israel.
Penutup Naratif
Di balik angka-angka korban dan pernyataan politik, tragedi di Nuseirat menyisakan duka mendalam bagi keluarga yang kehilangan orang tercinta. Di tengah reruntuhan pemakaman, seorang ibu memeluk jasad anaknya yang tewas, sementara seorang anak kecil menangis di samping ayahnya yang sekarat. Inilah realitas pahit yang terus berulang di Gaza—sebuah siklus kekerasan yang seakan tak berujung. Tanpa tekanan internasional yang kuat dan kemauan politik dari semua pihak, warga sipil akan terus menjadi korban dari konflik yang tak kunjung usai. Saat dunia masih berdebat, nyawa-nyawa terus melayang di tanah yang terkepung.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










