Komite Pasar Terbuka Federal Tahan Suku Bunga, Ini Dua Pertimbangan Utama
Suara Pecari – Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%-3,75% dalam rapat yang digelar pada 29 Juli 2026. Keputusan ini diambil dengan voting 9 berbanding 3, dengan tiga anggota FOMC yang berbeda pendapat menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Dua pertimbangan utama menjadi alasan di balik keputusan ini: ekonomi AS yang masih tumbuh solid dan inflasi yang belum kembali ke target 2%.
Keputusan ini menunjukkan bahwa The Fed masih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneternya di tengah ketidakpastian global, termasuk konflik di Timur Tengah yang mempengaruhi harga energi dan rantai pasok.
Pertimbangan Pertama: Ekonomi AS Tumbuh Solid
FOMC menilai bahwa aktivitas ekonomi AS terus berkembang dengan laju yang kuat. Produktivitas dan investasi modal masih tumbuh, sementara penyerapan tenaga kerja sejalan dengan pertumbuhan angkatan kerja. Tingkat pengangguran relatif tidak berubah, menunjukkan pasar tenaga kerja yang ketat. Pertumbuhan ekonomi yang solid ini memberi ruang bagi The Fed untuk tidak terburu-buru menurunkan suku bunga.
Pertimbangan Kedua: Inflasi Masih Tinggi
Meskipun ekonomi tumbuh, tekanan inflasi masih berada di atas target jangka panjang The Fed sebesar 2%. Kenaikan harga di sektor energi dan gangguan rantai pasok menjadi faktor utama yang mendorong inflasi tetap tinggi. FOMC menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas harga, sehingga suku bunga dipertahankan untuk mengendalikan inflasi.
Perbedaan Pendapat di Internal The Fed
Tiga anggota FOMC, yakni Presiden The Fed Dallas Lorie Logan, Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack, dan Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari, memilih menolak keputusan mayoritas dan menginginkan kenaikan suku bunga 25 basis poin. Mereka khawatir inflasi yang sudah bertahan di atas target selama lebih dari lima tahun memerlukan kebijakan yang lebih ketat. Ketua The Fed Kevin Warsh dalam konferensi pers menegaskan bahwa perbedaan suara tersebut tidak mengubah komitmen bank sentral untuk mengembalikan inflasi ke target 2%.
Dampak di Pasar Keuangan
Keputusan The Fed mempengaruhi nilai tukar rupiah dan harga emas. Rupiah dibuka melemah tipis ke Rp18.075 per dolar AS, meskipun sempat menguat tipis di awal perdagangan. Sementara itu, harga emas naik hampir 1% karena pelemahan dolar AS. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar masih mencerna sikap The Fed yang dianggap kurang hawkish dari perkiraan sebelumnya.
The Fed juga mempertahankan suku bunga atas saldo cadangan perbankan sebesar 3,65%, efektif mulai 30 Juli 2026. Keputusan ini diambil di tengah ketidakpastian yang masih tinggi, termasuk dampak konflik geopolitik dan volatilitas harga energi.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










