Trump Ancam Bom Oman Jika Halangi Negosiasi AS-Iran

Trump Ancam Bom Oman Jika Halangi Negosiasi AS-Iran

Suara Pecari – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam akan melakukan serangan militer terhadap Oman jika negara tersebut menghalangi proses negosiasi antara AS dan Iran. Pernyataan ini disampaikan menyusul ketegangan yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait pembicaraan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang sangat penting bagi perdagangan minyak global.

Trump menegaskan dalam wawancara bersama Fox News bahwa jika Oman menghambat jalannya negosiasi, AS tidak segan-segan melakukan bombardir habis-habisan. Ia juga menyebut Oman sebagai sekutu strategis yang kini dianggap tidak berperilaku baik dalam konteks diplomasi yang sedang berlangsung.

Gencatan Senjata dan Negosiasi yang Mandek

Perjanjian gencatan senjata selama 60 hari antara AS dan Iran yang ditandatangani pada pertengahan Juni 2026 telah berakhir pada 17 Agustus tanpa tercapainya kesepakatan resmi. Meskipun ada pembicaraan informal antara Washington dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Trump mengaku tidak terburu-buru untuk menyelesaikan perundingan tersebut.

Iran dan Oman sendiri telah melakukan negosiasi terpisah mengenai pengaturan pelayaran di Selat Hormuz, yang sebelumnya hampir ditutup selama enam bulan akibat konflik antara kedua negara. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan kedua pihak tengah menyusun deklarasi bersama untuk mengatur jalur pelayaran strategis tersebut.

Respons dan Dampak Regional

Kementerian Luar Negeri Iran menilai batas waktu 60 hari yang tercantum dalam nota kesepahaman sudah tidak relevan karena AS dianggap telah melanggar kesepakatan sejak awal. Sementara itu, ketegangan di kawasan masih terus berlanjut dengan adanya insiden militer seperti serangan terhadap kantor Perdana Menteri wilayah otonomi Kurdistan yang diduga melibatkan Iran.

Ancaman Trump terhadap Oman menandai eskalasi retorika yang dapat memperburuk situasi di Timur Tengah. Selat Hormuz menjadi jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia, sehingga stabilitas di kawasan ini sangat penting bagi perekonomian global.

Trump juga menyerukan agar Iran menyerah dalam konflik yang sedang berlangsung, menyebut bahwa Iran adalah “pemain poker yang hebat” tetapi dalam posisi yang lemah. Komunikasi tidak resmi antara AS dan IRGC masih berlangsung meskipun negosiasi resmi belum membuahkan hasil.

Situasi ini menunjukkan kompleksitas dan ketegangan yang masih membayangi hubungan AS dan Iran, serta peran negara-negara Teluk seperti Oman dalam diplomasi regional yang sangat sensitif.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *