Kanker: Upaya Penanganan dan Inovasi Terbaru di Jakarta dan Asia
Suara Pecari | Penyintas kanker serviks di Jakarta Selatan, Mariam, telah mengabdikan diri sebagai kader paliatif selama 11 tahun. Ia berkomitmen memberikan dukungan kesehatan kepada masyarakat, terutama bagi mereka yang menderita kanker. Mariam memulai perjalanannya setelah didiagnosis kanker serviks, yang mengubah pandangannya terhadap penyakit tersebut. ‘Dulu saya berpikir, penderita kanker pasti akan meninggal. Namun, setelah mendapatkan pelatihan, saya ingin membantu,’ ujarnya.
Pemerintah Kota Jakarta Selatan memberikan penghargaan kepada kader-kader paliatif, termasuk Mariam, atas dedikasi mereka dalam merawat pasien kanker, terutama yang berada pada stadium lanjut. Wali Kota Jakarta Selatan, Muhammad Anwar, menyatakan bahwa kehadiran kader paliatif tidak hanya membantu pelayanan kesehatan, tetapi juga membawa semangat kemanusiaan dan empati dalam masyarakat.
Di sisi lain, AstraZeneca dan Roche Diagnostics Asia Pacific menjalin kerjasama untuk mempercepat pengembangan patologi digital berbasis kecerdasan buatan (AI) di sembilan negara Asia. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan kanker payudara dan paru-paru, dengan fokus pada pengujian biomarker yang lebih tepat bagi pasien. Arun Krishna dari AstraZeneca menekankan pentingnya kolaborasi ini untuk mengatasi kesenjangan dalam layanan diagnostik di kawasan tersebut.
Teknologi patologi digital yang berbasis AI diharapkan dapat meningkatkan akurasi diagnosis dan membantu dokter dalam menentukan terapi yang paling sesuai. Saat ini, masih terdapat tantangan besar dalam adopsi teknologi ini, termasuk kurangnya pemahaman di kalangan tenaga medis dan keterbatasan akses terhadap fasilitas pengujian di beberapa negara.
Di Indonesia, RSUD Seodjono Selong baru-baru ini menerima alat pendeteksi dini kanker payudara dari Kementerian Kesehatan. Alat ini diharapkan dapat membantu meningkatkan deteksi dini kanker payudara di masyarakat, yang merupakan langkah vital dalam pengobatan kanker.
Di tengah upaya meningkatkan kesadaran mengenai kanker, Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia juga menggelar acara mini soccer charity bernama Cepak Bola, yang bertujuan menggalang dana untuk anak-anak pejuang kanker. Acara ini melibatkan komunitas sepak bola dan publik figur untuk mendukung anak-anak dari keluarga kurang mampu yang berjuang melawan kanker.
Dalam konteks ini, penting untuk memperhatikan bahwa perempuan dengan payudara padat memiliki risiko lebih tinggi untuk kanker payudara. Meski demikian, penelitian menunjukkan bahwa pasien dengan payudara padat tidak memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk meninggal karena kanker dibandingkan dengan mereka yang memiliki payudara tidak padat. Penelitian menunjukkan bahwa payudara yang padat meningkatkan risiko kanker payudara hingga 2,37 kali lipat.
Melalui serangkaian inisiatif ini, baik di tingkat lokal maupun internasional, diharapkan kesadaran dan penanganan kanker dapat ditingkatkan. Kerjasama antara pemerintah, lembaga medis, dan masyarakat menjadi kunci untuk mengatasi tantangan yang dihadapi dalam upaya pengendalian kanker di era modern ini.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












