Fenomena Bediding di Jember: IDI Ingatkan Risiko Kesehatan pada Kelompok Rentan

Fenomena Bediding di Jember: IDI Ingatkan Risiko Kesehatan pada Kelompok Rentan

Suara Pecari | Jember, Jawa Timur – Fenomena bediding yang melanda wilayah Jember dalam beberapa pekan terakhir telah menurunkan suhu udara hingga di bawah 19 derajat Celcius, kondisi yang tergolong dingin bagi daerah tropis. Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Jember, dr. Ali Shodikin, mengingatkan masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, untuk waspada terhadap dampak kesehatan yang ditimbulkan. Cuaca dingin yang berkepanjangan tidak hanya menyebabkan ketidaknyamanan, tetapi juga memicu berbagai gangguan kesehatan serius jika tidak diantisipasi dengan baik.

Apa Itu Fenomena Bediding?

Bediding adalah istilah lokal yang digunakan masyarakat Jawa Timur untuk menggambarkan kondisi cuaca dingin yang ekstrem, biasanya terjadi pada musim kemarau saat angin dari Australia bertiup membawa massa udara kering dan dingin. Fenomena ini menyebabkan suhu udara di malam hari hingga pagi hari turun drastis, seringkali mencapai 15-19 derajat Celcius. Di Jember, suhu di bawah 19 derajat Celcius sudah dianggap dingin dan berpotensi memengaruhi kesehatan, terutama bagi mereka yang memiliki daya tahan tubuh lemah.

Kelompok Rentan: Anak-Anak dan Lansia

Dr. Ali Shodikin menegaskan bahwa anak-anak dan lansia adalah kelompok yang paling rentan terdampak cuaca dingin. Anak-anak, terutama balita, memiliki sistem termoregulasi yang belum sempurna sehingga lebih mudah kehilangan panas tubuh. Sementara itu, lansia seringkali memiliki penyakit degeneratif yang diperparah oleh suhu rendah. Berdasarkan data dari IDI Jember, kunjungan pasien dengan keluhan terkait cuaca dingin meningkat 30% dalam dua minggu terakhir dibandingkan periode normal.

Kelompok Risiko Utama Gejala Umum
Anak-anak Gangguan pernapasan, alergi dingin, hipotermia Pilek, batuk, biduran, sesak napas
Lansia Nyeri sendi, pneumonia, gangguan tidur Nyeri lutut, batuk berdahak, sulit tidur
Penderita penyakit kronis Eksaserbasi asma, hipertensi tidak terkontrol Sesak napas, pusing, tekanan darah tinggi

Gangguan Kesehatan yang Dipicu Cuaca Dingin

Menurut dr. Ali, cuaca dingin memicu rinitis atau pilek karena mukosa hidung bereaksi terhadap suhu rendah. Jika lendir masuk ke saluran napas, dapat merangsang batuk dan berpotensi berkembang menjadi infeksi saluran napas bawah seperti pneumonia. Pneumonia pada lansia dan anak-anak bisa berakibat fatal jika tidak ditangani cepat. Selain itu, alergi dingin atau urtikaria dingin juga semakin sering ditemui, ditandai dengan bentol-bentol merah pada kulit yang terasa gatal.

Bagi lansia dengan osteoartritis, cuaca dingin memperburuk nyeri sendi. Penurunan suhu menyebabkan kontraksi pada jaringan sendi dan meningkatkan kekakuan. Dr. Ali menyarankan agar lansia tetap aktif bergerak dan menggunakan pakaian hangat untuk mengurangi keluhan.

Dampak Tidak Langsung: Gangguan Tidur dan Kualitas Hidup

Meskipun cuaca dingin tidak secara langsung memperburuk penyakit seperti hipertensi atau gangguan jantung, dr. Ali menjelaskan bahwa suhu dingin dapat mengganggu kualitas tidur. Tidur yang tidak nyenyak meningkatkan stres oksidatif dan memicu peningkatan tekanan darah serta detak jantung. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memperburuk kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Langkah Antisipasi dan Imbauan IDI

IDI Jember mengimbau masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan dan minuman hangat, seperti sup, teh, atau minuman berbahan jahe. Jahe memiliki sifat antiinflamasi yang dapat menghangatkan tubuh dan meredakan gejala pilek. Namun, dr. Ali mengingatkan agar tidak berlebihan mengonsumsi makanan pedas karena dapat mengiritasi lambung, terutama pada anak-anak.

  • Gunakan pakaian hangat berlapis, terutama saat beraktivitas di luar rumah pada pagi dan malam hari.
  • Hindari mandi terlalu malam atau menggunakan air dingin saat mandi.
  • Jaga kelembapan ruangan dengan menggunakan pelembap udara jika perlu.
  • Perbanyak minum air putih hangat untuk menjaga hidrasi.
  • Segera periksakan ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala hipotermia, seperti menggigil hebat, kebingungan, atau suhu tubuh di bawah 36 derajat Celcius.

Kewaspadaan pada Bayi Baru Lahir

Dr. Ali secara khusus menyoroti risiko pada bayi baru lahir. Hipotermia pada bayi dapat memicu gangguan pernapasan dan irama jantung yang mengancam jiwa. Orang tua diminta untuk selalu memastikan bayi dalam keadaan hangat, menggunakan selimut, dan menghindarkan bayi dari paparan angin dingin langsung.

Penutup: Menghadapi Bediding dengan Bijak

Fenomena bediding di Jember diperkirakan masih akan berlangsung beberapa pekan ke depan. Masyarakat diharapkan tidak panik, tetapi tetap waspada dan menerapkan langkah-langkah pencegahan yang dianjurkan. IDI Jember akan terus memantau perkembangan kasus dan memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat. Dengan kesadaran dan tindakan yang tepat, dampak negatif cuaca dingin dapat diminimalkan, sehingga kesehatan masyarakat tetap terjaga.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan