Polisi Selidiki Kasus Lompat Siswi SD di Denpasar, Keluarga Minta Pengungkapan Motif
Suara Pecari | Polisi Denpasar Selatan mengumumkan hasil penyelidikan awal terkait kasus lompat siswi SD yang terjadi pada 19 April 2026. Penyelidikan mengaitkan insiden dengan konsumsi konten digital, khususnya game Omori, serta riwayat perilaku self‑harm korban.
Korb an, siswi kelas 6 SD berinisial KA, berusia 13 tahun, bersama lima temannya naik ke lantai tiga gedung Pasar Serangan yang juga berfungsi sebagai pos evakuasi tsunami. Tujuan mereka adalah mengambil foto pemandangan patung Garuda Wisnu Kencana.
Saat berada di balkon, KA menyalakan ponselnya dan memutar lagu My Time, soundtrack akhir dalam game Omori, lalu meminta teman merekamnya menari. Tanpa peringatan, ia berlari ke tepi dan melompat.
Tim medis berhasil menyelamatkan nyawa KA meski ia jatuh dari ketinggian puluhan meter; korban mengalami patah pada kedua kaki dan satu tangan, serta menjalani operasi pada 20 April. Saat ini ia berada di unit perawatan intensif.
Analisis forensik digital mengungkap bahwa KA menginstal game Omori dua hari sebelum kejadian, tepatnya pada 17 April 2026, melalui file APK. Game tersebut memiliki rating usia 17+ karena tema gelap dan adegan kekerasan.
Iptu Azel Arisandi, ketua unit reskrim Polsek Denpasar Selatan, menjelaskan bahwa imajinasi KA tampak terhubung dengan adegan dalam game, di mana karakter utama melakukan aksi melompat dari gedung pada akhir cerita. “Dampak psikologisnya sangat kuat, terutama pada anak usia remaja,” ujarnya.
Penyelidikan tidak menemukan bukti adanya perundungan atau bullying di lingkungan sekolah. Wali kelas melaporkan bahwa KA merupakan siswa pintar namun sangat pendiam, dan pernah menunjukkan perilaku menyakiti diri sendiri dengan memukul badan menggunakan pulpen.
Keluarga KA menyatakan keprihatinan mendalam dan menuntut penyelidikan menyeluruh agar motif sebenarnya terungkap. Mereka berharap hasil investigasi dapat menjadi dasar kebijakan pencegahan serupa di masa depan.
Polisi berencana melibatkan tim psikolog untuk melakukan wawancara lebih lanjut dengan teman‑teman KA serta orang tua, guna menelaah faktor psikologis dan sosial yang memicu tindakan ekstrem tersebut. Pendekatan multidisiplin diharapkan memperkaya pemahaman tentang kasus.
Iptu Azel juga menekankan pentingnya pengawasan orang tua terhadap penggunaan gadget dan konten digital anak. “Teknologi dapat menjadi pisau bermata dua; peran orang tua sangat krusial dalam memfilter dan membimbing,” tegasnya.
Kasus ini menimbulkan perdebatan publik mengenai regulasi rating game dan akses anak di bawah umur terhadap konten berbahaya. Pemerintah daerah Bali menyatakan akan meninjau kebijakan yang ada dan berkoordinasi dengan lembaga terkait.
Organisasi perlindungan anak mengingatkan pentingnya deteksi dini perilaku self‑harm di sekolah, serta perlunya pelatihan guru dalam mengidentifikasi tanda‑tanda stres psikologis pada murid. Mereka menambahkan bahwa intervensi cepat dapat mencegah tragedi.
Sementara itu, komunitas game lokal menanggapi isu ini dengan menolak klaim bahwa game Omori secara langsung menyebabkan tindakan kekerasan, mengingat banyak pemain yang menikmati cerita tanpa efek negatif. Mereka menyerukan dialog konstruktif antara industri dan regulator.
Penutup, kondisi fisik KA tetap dalam pengawasan medis, sementara proses penyelidikan hukum masih berlangsung. Keluarga mengharapkan kejelasan motif dan langkah pencegahan agar tidak ada lagi anak yang terjebak dalam situasi serupa.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.







