Seorang PKJR Meninggal Dunia saat Tolong Truk di Jurang Sitinjau Lauik
Suara Pecari, Bukittinggi – Duka menyelimuti komunitas pekerja penarik kendaraan (PKJR) di Sumatera Barat setelah salah satu anggotanya, Muhammad Fajri (32), meninggal dunia saat berusaha menolong sebuah truk yang masuk jurang di kawasan Sitinjau Lauik, Padang. Peristiwa nahas ini terjadi pada Kamis, 2 Juli 2026, sekitar pukul 21.30 WIB di Pendakian Tunggua Panorama II, Kelurahan Indarung. Fajri, warga Tarantang, Kecamatan Lubuk Kilangan, dikenal sebagai sosok yang selalu siap membantu pengendara yang mengalami kesulitan di jalur ekstrem tersebut.
Kronologi Kejadian
Menurut keterangan Kepala Satlantas Polresta Padang AKP Riwal Maulidinata, truk yang dikemudikan oleh sopir berinisial D (45) mengalami rem blong saat melintasi turunan curam Sitinjau Lauik. Akibatnya, truk oleng dan terjun ke jurang sedalam sekitar 50 meter. Fajri yang saat itu sedang berjaga di pos PKJR setempat segera mendatangi lokasi untuk memberikan pertolongan. Namun, nahas, saat ia berusaha memasuki kabin truk untuk mengevakuasi sopir, truk tergelincir lebih dalam dan menjepit tubuh Fajri. Tim gabungan dari kepolisian, relawan, dan warga langsung melakukan evakuasi. Proses evakuasi berlangsung sulit karena medan jurang yang curam dan minim penerangan. Butuh waktu lebih dari tiga jam untuk mengevakuasi jenazah Fajri yang akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Padang untuk identifikasi.
| Waktu | Kejadian |
|---|---|
| 21.00 WIB | Truk melintas di Sitinjau Lauik, rem blong |
| 21.15 WIB | Truk terjun ke jurang sedalam 50 meter |
| 21.30 WIB | Fajri tiba di lokasi, berusaha menolong |
| 21.45 WIB | Fajri terjepit truk yang tergelincir |
| 22.00-01.00 WIB | Evakuasi oleh tim gabungan |
| 01.30 WIB | Jenazah berhasil dievakuasi |
Sosok Muhammad Fajri: Pahlawan Jalanan
Muhammad Fajri dikenal sebagai ‘anak tikuang’—sebutan lokal untuk PKJR—yang setiap hari berjaga di jalur Sitinjau Lauik. Ia kerap membantu pengendara yang kendaraannya mogok atau mengalami masalah di tanjakan dan turunan curam. Rekan sesama PKJR mengenang Fajri sebagai sosok yang peduli dan ringan tangan. “Dia selalu siap sedia, bahkan tengah malam sekalipun,” ujar Andri, salah satu rekan Fajri. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi komunitas penolong di jalur tersebut. Fajri meninggalkan seorang istri dan dua anak yang masih kecil.
Risiko Tinggi Profesi PKJR
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya keselamatan bagi para relawan jalanan. Risiko tinggi selalu mengintai setiap kali mereka bertugas di lapangan. Berdasarkan data Polresta Padang, sepanjang tahun 2025 terdapat 12 kecelakaan yang melibatkan PKJR di jalur Sitinjau Lauik, dengan 3 di antaranya fatal. Faktor utama adalah minimnya alat pelindung diri (APD) dan kurangnya pelatihan evakuasi darurat.
- APD yang tidak memadai: helm, rompi reflektif, dan sepatu safety sering diabaikan.
- Kurangnya pelatihan: banyak PKJR tidak memiliki pengetahuan tentang teknik evakuasi aman.
- Kondisi medan ekstrem: jurang curam dan minim penerangan meningkatkan risiko.
Dampak dan Implikasi
Kematian Fajri menyoroti perlunya regulasi yang lebih ketat dan dukungan bagi PKJR. Pemerintah daerah dan kepolisian diharapkan dapat menyediakan pelatihan keselamatan serta APD gratis. Selain itu, jalur Sitinjau Lauik yang terkenal rawan kecelakaan membutuhkan perbaikan infrastruktur seperti pemasangan lampu penerangan dan pembatas jalan yang lebih kuat. Masyarakat sekitar juga mengimbau agar pengendara lebih berhati-hati, terutama saat melintas di malam hari. Polresta Padang telah mengeluarkan imbauan resmi agar pengendara memeriksa rem kendaraan sebelum melintasi jalur tersebut.
Penutup
Di balik setiap nyawa yang melayang di Sitinjau Lauik, ada cerita tentang pengabdian tanpa pamrih. Muhammad Fajri telah memberikan segalanya, bahkan nyawanya, untuk menolong sesama. Semoga peristiwa ini menjadi titik balik bagi semua pihak untuk lebih peduli terhadap keselamatan para pahlawan jalanan. Mereka yang setiap hari mempertaruhkan hidup di tikungan tajam dan jurang curam, layak mendapatkan perlindungan dan penghargaan setinggi-tingginya.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.









