Bentrok Antar Desa di Flores NTT: 3 Tewas, 20 Rumah Dibakar, Ratusan Warga Mengungsi
Bentrok Berdarah di Pulau Adonara: Tiga Tewas, Puluhan Rumah Ludes Terbakar
Suara Pecari, Flores Timur, NTT – Suasana duka dan kepanikan menyelimuti dua desa di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, setelah bentrok antarwarga Desa Narasaosina dan Desa Waiburak pecah pada Sabtu malam (23/7/2026). Bentrokan yang berlangsung hingga Minggu dini hari itu menewaskan tiga orang dan menghanguskan setidaknya 20 rumah warga. TNI dan Polri dikerahkan untuk mengamankan lokasi dan mencegah eskalasi konflik lebih lanjut.
Kasi Humas Polres Flores Timur, AKP Eliezer A. Kalelado, mengonfirmasi jumlah korban dan kerusakan dalam keterangan resminya, Minggu (24/7/2026). “Tiga orang meninggal dunia, lima orang luka ringan, dan 20 unit rumah terbakar,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa korban luka telah mendapatkan perawatan medis di puskesmas terdekat, sementara korban meninggal masih dalam proses identifikasi.
Kronologi Bentrok
Berdasarkan keterangan saksi dan laporan awal dari aparat, bentrokan dipicu oleh sengketa lahan yang sudah berlangsung lama antara warga kedua desa. Ketegangan memuncak ketika sekelompok warga dari Desa Waiburak diduga melintasi batas wilayah yang disengketakan untuk mengambil hasil kebun. Warga Desa Narasaosina yang merasa wilayahnya dilanggar kemudian bereaksi dengan melakukan sweeping.
“Awalnya hanya adu mulut, lalu saling lempar batu. Namun tak lama kemudian, sekelompok massa membawa senjata tajam dan obor,” ujar seorang saksi yang enggan disebutkan namanya. Api dengan cepat menjalar ke rumah-rumah warga yang sebagian besar berbahan kayu dan beratap rumbia. Kobaran api baru berhasil dipadamkan setelah petugas pemadam kebakaran tiba sekitar pukul 03.00 WITA.
Polisi masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap motif pasti dan pihak-pihak yang terlibat. “Kami belum bisa menyimpulkan penyebab utama karena masih dalam proses penyelidikan,” kata AKP Eliezer. Namun, ia memastikan bahwa situasi telah berhasil dikendalikan.
Dampak dan Kerusakan
Bentrok ini tidak hanya menelan korban jiwa dan luka, tetapi juga menyebabkan kerusakan material yang signifikan. Berikut rincian kerusakan berdasarkan data sementara:
| Jenis Kerusakan | Jumlah | Keterangan |
|---|---|---|
| Korban Meninggal | 3 orang | Dua laki-laki, satu perempuan |
| Korban Luka Ringan | 5 orang | Luka lecet dan memar |
| Rumah Terbakar | 20 unit | Termasuk 3 rumah semi-permanen |
| Kendaraan Rusak | 4 unit | 2 sepeda motor, 2 mobil |
| Pengungsi | ±150 jiwa | Mengungsi di rumah kerabat dan posko |
Ratusan warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman, seperti rumah kerabat di desa tetangga dan posko pengungsian yang didirikan oleh pemerintah desa. Bantuan logistik mulai berdatangan dari Dinas Sosial Flores Timur dan Palang Merah Indonesia (PMI) setempat.
Upaya Aparat dan Imbauan
Personel gabungan TNI-Polri dikerahkan untuk mengamankan lokasi bentrok. Pos-pos pengamanan didirikan di titik-titik rawan, dan patroli gabungan dilakukan secara rutin. Aparat juga melakukan pendekatan persuasif kepada tokoh masyarakat dan pemuda kedua desa untuk meredakan ketegangan.
AKP Eliezer mengimbau masyarakat untuk tidak terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi. “Kami mengajak seluruh warga untuk tetap tenang, tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu benar, serta bersama-sama menjaga persaudaraan demi terciptanya situasi kamtibmas yang aman dan kondusif,” tandasnya.
Pemerintah Kabupaten Flores Timur juga telah membuka posko pengaduan dan pelayanan bagi warga yang terdampak. Bupati Flores Timur, Antonius Hadjon, dijadwalkan akan mengunjungi lokasi pada Senin (25/7/2026) untuk meninjau langsung kondisi dan memberikan bantuan.
Konflik Lahan yang Berulang
Pulau Adonara memang dikenal sebagai wilayah yang rawan konflik horizontal, terutama terkait sengketa batas desa dan lahan pertanian. Beberapa kali terjadi bentrok antarwarga yang berujung pada pembakaran rumah dan fasilitas umum. Faktor kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan, serta lemahnya penegakan hukum sering disebut sebagai pemicu utama.
Menurut catatan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (LSAM) Flores, sejak tahun 2018 sudah terjadi setidaknya lima konflik lahan berskala besar di Pulau Adonara. “Konflik lahan di Adonara seperti api dalam sekam. Butuh penanganan serius dari pemerintah, bukan hanya pendekatan keamanan, tetapi juga penyelesaian akar masalah melalui mediasi dan penetapan batas wilayah yang jelas,” ujar Direktur LSAM, Maria Goreti.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Bentrok ini dipastikan akan berdampak pada aktivitas ekonomi warga. Sebagian besar penduduk kedua desa bekerja sebagai petani dan nelayan. Dengan terbakarnya rumah dan lumbung padi, banyak keluarga kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan. Anak-anak terpaksa putus sekolah sementara karena fasilitas pendidikan rusak atau orang tua mereka fokus pada pemulihan.
“Saya kehilangan semua tabungan dan hasil panen yang tersimpan di dalam rumah. Sekarang saya dan keluarga tinggal di tenda darurat,” keluh Markus Bura, seorang warga Desa Narasaosina. Ia berharap pemerintah segera memberikan bantuan modal usaha untuk memulai kembali kehidupan.
Penutup
Bentrok antar desa di Flores NTT ini meninggalkan duka mendalam dan luka yang tak mudah sembuh. Di tengah upaya aparat mengamankan situasi, masyarakat berharap agar konflik serupa tidak terulang kembali. Pemerintah daerah dituntut untuk tidak hanya bersikap reaktif, tetapi proaktif dalam menyelesaikan sengketa lahan secara adil dan tuntas. Perdamaian sejati hanya akan terwujud jika setiap warga mau membuka hati untuk saling memaafkan dan membangun kembali kebersamaan. Flores yang damai adalah impian bersama yang harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










