Sebelum Dibunuh, Bayi 20 Bulan di Kebayoran Lama Kerap Disiksa dan Kekurangan Gizi

Sebelum Dibunuh, Bayi 20 Bulan di Kebayoran Lama Kerap Disiksa dan Kekurangan Gizi

Suara Pecari, Jakarta – Bayi perempuan berusia 20 bulan di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, ditemukan meninggal dunia akibat penganiayaan yang dilakukan oleh ibu kandung dan ayah tirinya. Sebelum meninggal, bayi tersebut diketahui kerap mengalami penyiksaan dan kekurangan gizi.

Temuan Kekerasan dan Kondisi Korban

Dokter spesialis forensik dari Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Asri Megaratri Pralebda, mengungkapkan hasil pemeriksaan jenazah bayi berinisial SF yang diterima pada Minggu (11/1/2026). Pemeriksaan luar dan autopsi menunjukkan adanya luka-luka yang baru dan lama di wajah, perut, dada, serta keempat anggota gerak korban. Selain itu, ditemukan juga tanda-tanda patah tulang hasil pemeriksaan rontgen, serta cedera pada organ dalam terutama di bagian dada dan perut.

Baca juga:

Proses Forensik dan Penyidikan

Tim forensik masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium, termasuk histopatologi dan toksikologi, untuk memastikan penyebab pasti kematian korban. Sementara itu, polisi telah menetapkan ibu kandung JM (20) dan ayah tiri AR (22) sebagai tersangka dalam kasus ini. Keduanya dijerat dengan pasal berlapis terkait kekerasan terhadap anak berdasarkan UU Perlindungan Anak dan KUHP.

Motif dan Kronologi Kasus

Kapolsek Kebayoran Lama, Kompol Seala Syah Alam, menjelaskan bahwa pembunuhan dilakukan dengan cara menenggelamkan korban di toilet umum Pasar Kebayoran Lama. Motif yang diungkap adalah masalah ekonomi, di mana kedua pelaku tidak mampu memenuhi kebutuhan bayi tersebut sehingga melakukan kekerasan hingga menyebabkan kematian.

Kontroversi dan Implikasi

Kasus ini menyoroti pentingnya perlindungan anak dari kekerasan dalam keluarga, terutama dalam kondisi ekonomi yang sulit. Penanganan dan pemeriksaan forensik yang komprehensif menjadi kunci dalam mengungkap fakta dan memberikan keadilan bagi korban.

Baca juga:

Pemerintah dan lembaga terkait diharapkan dapat meningkatkan pengawasan dan memberikan dukungan kepada keluarga rentan agar kasus serupa tidak terulang kembali.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *