Cerita Boris Bokir dan Aming soal Kenakalan Masa Kecil

Suara Pecari, Jakarta – Boris Bokir dan Aming membuka cerita mengenai kenakalan mereka saat masa kecil dalam sebuah konferensi pers film terbaru mereka, Yang Disebut Nakal, yang digelar di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Kedua aktor ini mengungkap sisi masa kecil mereka yang penuh kenakalan, yang pernah mereka lakukan, meskipun dalam konteks yang berbeda dengan karakter mereka dalam film tersebut.

Kenakalan Masa Kecil Boris Bokir dan Aming

Boris Bokir mengakui bahwa kenakalan masa kecilnya terbilang sederhana, seperti bolos les meski orang tuanya telah membayarnya. Ia merasa sulit mengaitkan pengalaman tersebut dengan perannya dalam film yang mengangkat tema kenakalan remaja. Sementara itu, Aming mengungkapkan pengalaman bolos sekolah dan juga memprovokasi teman-temannya untuk terlibat dalam tawuran. Meski demikian, Aming mengingatkan bahwa perilaku tersebut bukan contoh yang baik.

Baca juga:

Pesan di Balik Film Yang Disebut Nakal

Film Yang Disebut Nakal mengangkat cerita tentang sekelompok remaja dari latar belakang berbeda yang mengikuti program pembinaan selama 21 hari di sebuah tempat terpencil. Di sana, mereka belajar disiplin, tanggung jawab, dan menghadapi berbagai persoalan, termasuk masalah keluarga dan pertemanan. Boris melihat bahwa label ‘nakal’ sering muncul karena kurangnya pemahaman orang tua terhadap minat dan keinginan anak secara menyeluruh. Ia mencontohkan bagaimana perilaku anak yang suka bermain di sungai hingga sore hari bisa dianggap nakal karena pulang terlambat, padahal jika diarahkan dengan benar, hal itu dapat menjadi kemampuan yang berguna.

Peran Komunikasi Orang Tua dan Anak

Boris juga menyoroti pentingnya pola komunikasi yang adaptif antara orang tua dan anak. Ia menilai bahwa pola didikan lama yang bersifat satu arah perlu diganti dengan pola komunikasi yang lebih terbuka, dimana anak didengar terlebih dahulu sebelum mencari solusi bersama. Pendekatan ini diyakini dapat membantu mengurangi kesalahpahaman dan label negatif terhadap anak.

Film Yang Disebut Nakal dan Relevansinya

Dalam film ini, Boris berperan sebagai Goklas Panjaitan dan Aming sebagai Yayat, keduanya menjadi pelatih di Bina Laku Wanareksa, sebuah tempat pembinaan untuk remaja bermasalah. Film ini menyajikan bagaimana proses pembinaan dapat membantu para remaja menghadapi tantangan hidup dan mengubah perilaku nakal menjadi lebih positif.

Baca juga:

Melalui kisah nyata dan pesan yang disampaikan, film Yang Disebut Nakal menjadi refleksi penting bagi orang tua dan masyarakat dalam memahami dan mendukung perkembangan anak-anak dengan segala dinamika dan tantangannya.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *