Gandrung Sewu: Melestarikan Tradisi Seni dan Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Banyuwangi

Suara Pecari, Banyuwangi – Pagelaran Gandrung Sewu kembali digelar pada Sabtu malam, 24 Oktober 2026, di Pantai Boom Marina Banyuwangi. Pertunjukan tari kolosal yang sudah berjalan sejak 2012 ini menjadi salah satu cara utama untuk melestarikan tradisi seni budaya sekaligus mengembangkan ekonomi masyarakat setempat.

Sejarah dan Perkembangan Gandrung Sewu

Gandrung Sewu lahir dari upaya mengangkat dan mengenalkan sejarah Tari Gandrung, sebuah tarian tradisional khas Banyuwangi. Pertunjukan ini pertama kali digelar pada era kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas dan telah memasuki tahun ke-14 penyelenggaraan pada 2026. Setiap tahun, Gandrung Sewu mengusung tema berbeda yang mengangkat berbagai aspek sejarah, adat, perjuangan, dan keberagaman budaya Banyuwangi.

Baca juga:

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyatakan bahwa lebih dari satu dekade ribuan penari telah berpartisipasi dalam pertunjukan ini, yang menampilkan latar belakang Selat Bali yang indah. Tema-tema yang diangkat selama ini seperti Jejer Gandrung (2012) yang bercerita tentang kelahiran Tari Gandrung, hingga Payung Agung The Diversity of Culture (2024) yang menonjolkan keberagaman budaya di Banyuwangi.

Peran Gandrung Sewu dalam Pelestarian Budaya dan Ekonomi

Selain sebagai ajang pelestarian seni budaya, Gandrung Sewu juga berperan penting dalam menggerakkan ekonomi lokal. Pertunjukan yang masuk dalam kalender Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata ini menarik wisatawan dan pengunjung, sehingga memberikan dampak positif bagi pelaku ekonomi kreatif dan usaha mikro di Banyuwangi.

Pada 2026, Gandrung Sewu menghadirkan inovasi dengan menggelar pertunjukan pada malam hari yang menggabungkan seni tradisi, tata cahaya, dan teknologi pertunjukan. Tema tahun ini, Kembang Dermo, menampilkan nilai-nilai adat dan tradisi yang tetap hidup dan berkembang di masyarakat Banyuwangi.

Transformasi dan Inovasi dalam Pertunjukan

Perubahan waktu pertunjukan menjadi malam hari memberi pengalaman baru bagi penonton tanpa menghilangkan akar budaya. Ini juga memperlihatkan bagaimana tradisi dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan zaman sambil tetap mempertahankan keaslian dan makna budaya yang mendalam.

Gandrung Sewu Glow in the Dark menjadi langkah strategis untuk meningkatkan daya tarik dan memperluas jangkauan seni pertunjukan tradisional ini kepada publik yang lebih luas, termasuk generasi muda dan wisatawan.

Baca juga:

Kesimpulan

Gandrung Sewu bukan hanya sebuah pagelaran seni, tetapi juga simbol kebanggaan dan identitas masyarakat Banyuwangi. Dengan menggabungkan pelestarian tradisi dan pengembangan ekonomi, acara ini menjadi contoh nyata bagaimana budaya lokal dapat menjadi sumber kekuatan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.

Dengan dukungan pemerintah daerah dan partisipasi masyarakat, Gandrung Sewu terus berinovasi untuk menjaga warisan budaya serta memberikan kontribusi positif bagi kemajuan masyarakat Banyuwangi.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *