Francis Bellamy: Jejak Sang Pencipta Pledge of Allegiance di Gereja Bersejarah Roma
Suara Pecari, Di sudut tenggara menara lonceng First Baptist Church of Rome, sebuah plakat besar yang saat ini tertutup karet menanti restorasi. Plakat itu memperingati salah satu warisan paling abadi dari seorang putra kota ini: Francis Bellamy, penulis Pledge of Allegiance. Bagi jemaat gereja, nama Francis bukan sekadar nama dalam buku sejarah; ia adalah bagian dari keluarga rohani mereka.
Francis Bellamy lahir pada 1855, putra dari Pendeta David Bellamy yang memimpin First Baptist Church of Rome dari 1859 hingga 1864. Setelah kematian mendadak sang ayah, jemaat gereja bergerak mendukung keluarga Bellamy, memungkinkan Francis menyelesaikan pendidikan di Rome Free Academy pada 1872. Meskipun kemudian melanjutkan studi ke Universitas Rochester dan Seminari Teologi Rochester, Francis tetap menjadi anggota First Baptist Church saat gedung gereja yang sekarang dibuka pada 1874. Dukungan gereja terhadap panggilan pelayanannya tidak pernah surut; bahkan pejabat gereja hadir dalam penahbisannya di Little Falls.
Pledge of Allegiance yang ditulis Francis pada 1892 awalnya dimuat di majalah The Youth’s Companion sebagai bagian dari perayaan 400 tahun kedatangan Columbus. Sumpah setia itu mengalami beberapa revisi, tetapi inti kata-kata Francis tetap abadi. Di First Baptist Church of Rome, sebuah jendela kaca patri yang dirancang oleh anggota jemaat menggambarkan versi asli Pledge of Allegiance, menjadi pengingat visual setiap minggu bagi para penyembah.
Plakat perunggu yang dipasang di menara lonceng kini membutuhkan perbaikan. Dana restorasi sedang dikumpulkan, dan ketika pekerjaan selesai, plakat itu akan kembali bersinar, mengingatkan pengunjung bahwa penulis sumpah setia Amerika ini adalah anak dari kota Roma, New York. Bagi sejarawan dan wisatawan, First Baptist Church of Rome menawarkan jendela unik ke masa lalu, tempat di mana iman, komunitas, dan patriotisme bertemu dalam kehidupan seorang Francis Bellamy.
Kisah Bellamy juga mengingatkan kita bahwa sumpah setia, yang diucapkan jutaan anak sekolah setiap hari, lahir dari konteks lokal yang sangat manusiawi. Gereja yang mendukung keluarganya di masa sulit, pendidikan yang diterimanya, dan komunitas yang membesarkannya semuanya berkontribusi pada momen bersejarah ketika Francis menuangkan kata-kata yang akan bergema sepanjang zaman. Kini, saat plakat itu menunggu pemulihan, semangat Francis Bellamy terus hidup di setiap kelas tempat anak-anak berdiri dan mengucapkan Pledge of Allegiance.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










