Fakta Upah Kupas Bawang Susanah: Rp700 Per Kilogram, Bukan Rp700 Ribu
Suara Pecari – Kontroversi mengenai upah seorang perempuan bernama Susanah asal Bogor yang disebut Presiden RI Prabowo Subianto sebagai pengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram, menjadi sorotan publik dan media. Namun hasil investigasi menunjukkan fakta yang berbeda dari pernyataan tersebut.
Dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD RI, Presiden Prabowo menyebut Susanah sebagai buruh harian pengupas bawang yang menerima upah Rp700 ribu per kilogram. Pernyataan ini kemudian viral dan memicu berbagai reaksi, termasuk sindiran dari pakar ekonomi yang menyoroti ketidakcocokan angka tersebut dengan kondisi ekonomi riil.
Klarifikasi dan Fakta Sesungguhnya
Setelah pemberitaan viral tersebut, muncul klarifikasi dari keluarga Susanah yang menegaskan bahwa Susanah bukanlah pengupas bawang, melainkan seorang penjahit kain majun dan juga bekerja sebagai petugas dapur makan bergizi gratis (MBG). Keluarga juga menyayangkan hujatan yang diterima Susanah akibat isu upah kupas bawang yang beredar.
Lebih lanjut, hasil peliputan menunjukkan bahwa upah yang sebenarnya diterima Susanah adalah Rp700 per kilogram, bukan Rp700 ribu. Data ini jauh berbeda dengan klaim awal dan menunjukkan kondisi ekonomi yang sulit dialami Susanah.
Harga Bawang dan Upah Kupas yang Realistis
Harga bawang merah di pasar tradisional selama enam bulan terakhir berkisar antara Rp29.000 hingga Rp45.000 per kilogram, dengan rata-rata nasional sekitar Rp42.050 per kilogram pada pertengahan Agustus 2026. Mengingat harga bawang tersebut, upah Rp700 ribu per kilogram untuk jasa kupas bawang tampak tidak realistis.
Perbandingan di daerah lain seperti Klungkung juga menunjukkan bahwa buruh pengupas bawang hanya menerima upah sekitar Rp1.000 per kilogram, yang lebih mendekati kondisi pasar sebenarnya.
Hilangnya Unggahan Resmi dan Pentingnya Informasi Akurat
Kementerian Komunikasi dan Digital sempat mengunggah informasi mengenai Susanah, namun postingan tersebut kemudian dihapus tanpa penjelasan resmi. Hal ini menimbulkan perhatian mengenai pentingnya penyampaian informasi yang utuh dan akurat agar tidak menyesatkan persepsi publik.
Kisah Susanah menggarisbawahi perlunya kehati-hatian dalam menyampaikan data yang dapat mempengaruhi opini masyarakat, khususnya ketika memuat contoh individu untuk menggambarkan kondisi ekonomi secara umum.
Reaksi dan Sorotan Ekonomi
Pakar ekonomi Ferry Latuhihin menyindir pernyataan Prabowo terkait upah Susanah sebagai contoh pertumbuhan ekonomi yang memiskinkan (immiserizing growth), menandakan ketidakselarasan antara klaim kemajuan ekonomi dengan realitas yang dialami masyarakat lapisan bawah.
Isu ini menjadi bahan diskusi penting dalam konteks kebijakan sosial dan ekonomi, khususnya mengenai program bantuan pemerintah seperti Program Keluarga Harapan (PKH) yang disebut turut membantu keluarga Susanah.
Secara keseluruhan, cerita Susanah menekankan pentingnya verifikasi fakta dan konteks yang lengkap dalam penyampaian informasi publik, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dan stigma negatif terhadap individu maupun kelompok masyarakat yang menjadi contoh.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










