Douglas Santos Jadi Celah Krusial: 3 Masalah Ancelotti Usai Brasil Ditahan Maroko
Suara Pecari | Pertandingan pembuka Brasil di Piala Dunia 2026 berakhir dengan hasil imbang 1-1 melawan Maroko di Stadion MetLife, New Jersey, Sabtu (13/6) malam. Gol indah Vinicius Junior pada menit ke-32 menyelamatkan Selecao dari kekalahan, namun pertandingan ini mengungkap sejumlah masalah serius yang harus segera dibenahi Carlo Ancelotti. Salah satu sorotan utama adalah performa Douglas Santos yang menjadi titik lemah pertahanan Brasil.
Sejak menit awal, Brasil tampil tidak siap. Maroko langsung mengambil inisiatif dan mendominasi penguasaan bola, terutama melalui serangan bertubi-tubi di sisi kiri pertahanan Brasil yang dijaga Douglas Santos. Bek asal klub Rusia itu kerap kewalahan menghadapi kecepatan Brahim Diaz dan Achraf Hakimi. Douglas Santos memang menjadi pilihan mengejutkan Ancelotti di pos bek kiri, menggeser Alex Sandro yang lebih senior. Namun, keputusan itu belum membuahkan hasil optimal.
Gol pembuka Maroko yang dicetak Ismael Saibari pada menit ke-21 bermula dari ruang kosong yang ditinggalkan Douglas Santos saat naik membantu serangan. Brahim Diaz dengan leluasa mengirim umpan terobosan yang memecah konsentrasi Gabriel Magalhaes dan Marquinhos. Ancelotti mengakui bahwa organisasi pertahanan timnya masih rapuh. “Kami harus bekerja lebih keras, terutama dalam transisi bertahan,” ujar pelatih asal Italia itu dalam konferensi pers usai laga.
Masalah kedua adalah lini tengah yang kurang agresif. Casemiro tampil di bawah performa terbaiknya dan gagal menekan pemain kunci Maroko sebelum gol tercipta. Ia bahkan mendapatkan kartu kuning dan ditarik keluar saat turun minum. Ancelotti perlu segera menemukan formula yang tepat di sektor tengah, karena Bruno Guimaraes dan Lucas Paqueta juga belum mampu mengendalikan tempo permainan.
Masalah ketiga adalah ketergantungan berlebih pada Vinicius Junior. Ketika permainan kolektif macet, Vinicius menjadi satu-satunya ancaman. Gol spektakulernya memang membangkitkan semangat tim, namun Brasil tidak bisa terus-menerus mengandalkan momen individu. Apalagi, Neymar masih absen karena cedera betis dan diperkirakan baru bisa bermain penuh pada laga terakhir fase grup melawan Skotlandia.
Meski demikian, ada sisi positif yang bisa diambil. Douglas Santos menunjukkan peningkatan di babak kedua. Ia mulai rapat dengan lini belakang dan beberapa kali memenangkan duel udara. Penampilannya yang membaik memberi harapan bahwa ia bisa menjadi pilihan utama ke depannya. Ancelotti pun mempertahankan Douglas Santos sepanjang pertandingan sebagai bentuk kepercayaan.
Hasil imbang ini membuat Brasil hanya mengoleksi satu poin di Grup C. Mereka akan menghadapi Haiti pada 19 Juni dan Skotlandia pada 25 Juni. Ancelotti harus segera membenahi tiga masalah utama: kesiapan awal, pertahanan sisi kiri, dan kreativitas lini tengah. Jika tidak, ambisi meraih gelar Piala Dunia keenam bisa kandas lebih awal.
Kesimpulannya, Douglas Santos menjadi simbol persoalan yang dihadapi Brasil saat ini. Namun, dengan evaluasi yang tepat, ia bisa menjadi solusi jangka panjang. Ancelotti perlu mengoptimalkan potensi skuadnya agar tidak hanya bergantung pada Vinicius Junior. Piala Dunia masih panjang, dan Brasil memiliki kualitas untuk bangkit.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












