Kontroversi Gestur ‘White Power’ Wasit Piala Dunia di Siaran TV, FIFA Diminta Bertindak

Kontroversi Gestur 'White Power' Wasit Piala Dunia di Siaran TV, FIFA Diminta Bertindak

Suara Pecari | Seorang wasit Piala Dunia 2026, Shaun Evans, menjadi sorotan publik setelah tertangkap kamera televisi melakukan gestur tangan yang dianggap sebagai simbol ‘White power’. Kejadian ini terjadi saat siaran langsung pertandingan, memicu kecaman dari berbagai pihak, termasuk jaringan pemantau rasisme Fare network. Dalam tayangan ulang di layar kaca, Evans terlihat membentuk lingkaran dengan ibu jari dan telunjuk, sementara jari lainnya lurus ke atas—gestur yang oleh Anti-Defamation League (ADL) telah dimasukkan dalam daftar simbol kebencian sejak 2019.

FIFA menyatakan sedang menyelidiki insiden tersebut, namun Fare network mendesak agar wasit asal Australia itu segera dikeluarkan dari turnamen. “Penonton global tidak boleh disuguhi simbol neo-Nazi dari oknum ekstremis kanan jauh saat bersiap menonton pertandingan,” demikian pernyataan resmi Fare. Kasus ini menambah daftar kontroversi di Piala Dunia yang disiarkan luas melalui berbagai stasiun televisi dunia, termasuk di Indonesia.

Sementara itu, di tengah hiruk-pikuk Piala Dunia, dunia hiburan televisi juga diramaikan oleh kehadiran serial komedi-spionase berjudul ‘Ponies’. Tayangan di platform streaming Peacock ini menggabungkan elemen komedi dengan cerita mata-mata yang gelap, menampilkan Emilia Clarke dan Haley Lu Richardson sebagai janda agen CIA yang menjadi aset intelijen di Uni Soviet era 1970-an. Meski berdurasi satu jam—biasanya identik dengan genre drama—serial ini didaftarkan sebagai komedi untuk nominasi Emmy. Showrunner Susanna Fogel dan David Iserson mengaku sengaja membaurkan nada serius dan lucu. “Orang lucu dalam situasi serius adalah ciri khas kami,” ujar Fogel. Keputusan ini menunjukkan bagaimana industri televisi semakin luwes dalam mendefinisikan genre.

Di sisi lain, popularitas serial televisi juga terlihat dari fenomena ‘Off Campus’ yang tayang di Prime Video. Serial ini, yang diadaptasi dari novel Elle Kennedy, menceritakan kehidupan para pemain hoki kampus. Pemeran Jalen Thomas Brooks, yang memerankan John Tucker, mengaku senang dengan sambutan penonton. “Menyenangkan melihat orang-orang protektif terhadap karakter saya,” katanya. Kesuksesan serial ini menandai tren baru di televisi: cerita romansa dewasa muda yang dikemas dengan humor dan drama.

Selain itu, Piala Dunia juga membawa dampak unik bagi kota-kota di Amerika Serikat yang menjadi basis tim peserta. Misalnya, timnas Spanyol memilih Chattanooga, Tennessee, sebagai kamp latihan. Ribuan penduduk setempat antusias menyambut La Roja, dengan spanduk ‘Bienvenidos’ terpampang di bandara. Fenomena ini menunjukkan bagaimana siaran televisi dan liputan media mampu mengubah kota kecil menjadi pusat perhatian global.

Kesimpulannya, dunia televisi terus menjadi medium yang kuat dalam menyebarkan informasi dan hiburan, sekaligus menjadi sorotan atas isu-isu sensitif seperti rasisme. Insiden gestur wasit Evans mengingatkan kita akan tanggung jawab besar yang diemban oleh para figur publik di depan kamera. Sementara itu, inovasi genre dan cerita di layar kaca membuktikan bahwa televisi tetap relevan sebagai cermin dinamika sosial dan budaya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan