Menpora Erick Thohir: Olahraga Bukan Lagi Beban, Melainkan Mesin Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Menpora Erick Thohir: Olahraga Bukan Lagi Beban, Melainkan Mesin Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Suara Pecari | Jakarta, 4 Juli 2026 – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Erick Thohir, secara tegas mengubah paradigma lama yang memandang olahraga sekadar sebagai beban anggaran. Dalam konferensi pers Badan Komunikasi (Bakom) RI di Jakarta, Kamis (27/2/2026), Erick memaparkan visi baru bahwa olahraga harus diposisikan sebagai revenue opportunity dan national branding yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

“Selama ini olahraga dipersepsikan sebagai cost atau beban. Padahal sejatinya olahraga saat ini mesti dilihat sebagai potensi pendapatan dan citra bangsa. Jadi ini paradigma yang kami dari Kemenpora sekarang sedang mencoba menyamakan pola pikir dengan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Erick di hadapan awak media.

Sport Tourism: Pilar Ekonomi Baru

Salah satu sektor yang menjadi sorotan utama adalah sport tourism. Secara global, industri ini menyumbang pendapatan hampir USD 625 miliar (sekitar Rp 9.800 triliun) dengan pertumbuhan 8 persen per tahun. Erick menekankan bahwa angka ini sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.

“Berapa negara di dunia yang punya pertumbuhan ekonomi sampai 8 persen? Bapak Presiden ingin 8 persen. Artinya komponen sport tourism ini mesti menjadi salah satu bagian dari pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh,” tegasnya.

Selain sport tourism, industri olahraga global mencapai USD 521 miliar (Rp 8.000 triliun) dan diprediksi tumbuh 25 persen hingga 2032. Indonesia, dengan kekayaan alam dan budaya, memiliki potensi besar untuk mengambil porsi signifikan dari pasar tersebut.

Dampak Nyata Event Olahraga

Erick memberikan contoh konkret bagaimana event olahraga mampu menggerakkan ekonomi. Event lari maraton di Indonesia mencapai 104 event dengan total 10,4 juta pelari. Dari angka tersebut, dapat dibayangkan berapa transaksi yang tercipta, mulai dari pembelian sepatu lari hingga biaya akomodasi.

“Kalau saya melihat sekarang beberapa pameran olahraga sudah banyak mulai diisi brand lokal. Di Bandung saja, total pendaftar maraton bisa 15 ribu sampai 20 ribu pelari. Mereka cari hotel, habis lari makan-makan. Ini perputaran ekonomi yang kadang-kadang kita lupakan,” jelasnya.

Kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, dan Malang juga mencatat peningkatan hunian hotel selama event berlangsung. Bahkan Mandalika, yang menjadi tuan rumah MotoGP, mengalami dampak ekonomi hingga Rp 4,9 triliun. Banyak rumah makan dan vila baru bermunculan di kawasan pesisir.

Event Dampak Ekonomi Jumlah Peserta
Maraton Bandung Miliaran rupiah 15.000-20.000
MotoGP Mandalika Rp 4,9 triliun Ratusan ribu
Event Lari Nasional Triliunan rupiah 10,4 juta total

“Event besar seperti MotoGP dan Formula 1 menjadi rebutan banyak negara. Singapura bahkan menjadwalkan Formula 1 bersamaan dengan MotoGP Indonesia. Artinya market kita besar, sehingga event besar kita ditabrak dengan event besar lainnya. Itu realita,” ungkap Erick.

Potensi Olahraga Lain yang Belum Tergarap

Erick menyoroti masih banyak potensi sport tourism Indonesia yang belum dimaksimalkan, seperti selancar air dan pendakian gunung. Indonesia memiliki garis pantai panjang dan gunung-gunung terkenal yang bisa menjadi destinasi wisata olahraga dunia.

  • Selancar air: Pantai-pantai di Bali, Lombok, Mentawai, dan lainnya telah dikenal internasional, namun belum dikelola secara optimal untuk menarik wisatawan.
  • Pendakian gunung: Gunung Rinjani, Semeru, dan lainnya memiliki jalur pendakian yang menantang, namun perlu dipromosikan sebagai paket wisata olahraga.

“Hal-hal seperti ini yang membuat sebuah event besar olahraga akan menurunkan juga tetesan uang ke subjek wisata lainnya. Multiplier effect-nya pun terjadi,” tegas Erick.

Liga Olahraga Dalam Negeri: Potensi Ekonomi yang Belut

Di sisi lain, kompetisi liga olahraga dalam negeri juga berkontribusi pada perputaran ekonomi. Saat ini, liga sepak bola Indonesia mencatat perputaran sekitar Rp 700 miliar, sementara liga bola basket mencapai Rp 60 miliar. Angka tersebut belum termasuk pengeluaran masing-masing klub.

“Bayangkan kalau di Indonesia ada sembilan liga olahraga. Sekarang ini baru sepak bola, bola basket, dan bola voli. Untuk yang lainnya masih belum,” jelas Menpora.

Erick mencontohkan Amerika Serikat yang memiliki banyak liga olahraga berkelas dunia seperti NBA dan MLB. Industri olahraga di AS sangat masif dan mendominasi pendapatan global. Indonesia bisa belajar dari keberhasilan tersebut.

Liga Olahraga Perputaran Ekonomi (Estimasi)
Sepak Bola Rp 700 miliar
Bola Basket Rp 60 miliar
Bola Voli Belum terdata

“Jadi perspektif ini yang kami di Kemenpora ingin mengingatkan, bahwa olahraga ini bukan cost center, tetapi revenue opportunity. Apalagi Bapak Presiden pada beberapa pernyataannya mengatakan, bahwa dalam pembangunan sebuah negara, olahraga adalah suatu cermin dari keberhasilan negara tersebut,” ujar Erick.

Program Prioritas Kemenpora 2026

Selain membahas potensi ekonomi, Erick juga memaparkan program-program prioritas Kemenpora tahun 2026. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Pembinaan prestasi atlet jangka panjang dengan sistem yang terstruktur.
  • Inisiasi dana pensiun bagi atlet untuk menjamin kesejahteraan mereka setelah pensiun.
  • Penyederhanaan peraturan keolahragaan agar lebih kondusif bagi investasi.
  • Kerja sama lintas kementerian untuk mengintegrasikan olahraga dengan sektor pariwisata, pendidikan, dan ekonomi.
  • Pemerataan kesempatan pada olahraga disabilitas sebagai bentuk inklusivitas.

Erick menegaskan bahwa transformasi paradigma ini membutuhkan dukungan semua pihak. “Kami dari Kemenpora terus berupaya menyamakan pola pikir dengan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, swasta, hingga masyarakat. Olahraga bukan lagi sekadar kegiatan fisik, melainkan investasi masa depan bangsa,” pungkasnya.

Dengan langkah konkret dan kolaborasi lintas sektor, Indonesia berpeluang besar menjadikan olahraga sebagai salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi, sekaligus memperkuat citra positif di mata dunia.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan