Ekspor Nikel-Sawit Dorong Surplus Dagang Nonmigas USD 16,31 M
Suara Pecari | Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja positif neraca perdagangan nonmigas Indonesia sepanjang Januari hingga Mei 2026. Surplus sebesar USD 16,31 miliar berhasil diraih berkat lonjakan ekspor komoditas industri pengolahan, terutama nikel dan minyak kelapa sawit. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengungkapkan bahwa nilai ekspor nonmigas mencapai USD 110,19 miliar, sementara impor hanya USD 93,88 miliar.
Kinerja Ekspor Nonmigas yang Solid
Secara keseluruhan, ekspor nonmigas tumbuh 3,89 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kontribusinya terhadap total ekspor nasional semakin dominan, mencapai 95,52 persen, meningkat dari 94,71 persen pada tahun lalu. Sektor industri pengolahan menjadi motor utama dengan nilai ekspor USD 94,62 miliar, naik 6,80 persen secara tahunan.
Komoditas Unggulan: Nikel dan Sawit
Ekspor olahan nikel mencatat pertumbuhan paling pesat, yakni 61,06 persen menjadi USD 5,41 miliar. Sementara itu, ekspor minyak kelapa sawit mencapai USD 11,50 miliar, naik 8,58 persen. Komoditas lain yang juga menonjol adalah kimia dasar organik berbasis pertanian (USD 4,99 miliar, naik 21,39 persen) dan kimia dasar anorganik lainnya (USD 1,38 miliar, naik 84,34 persen).
| Komoditas | Nilai Ekspor (USD) | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|
| Minyak Kelapa Sawit | 11,50 miliar | 8,58% |
| Olahan Nikel | 5,41 miliar | 61,06% |
| Kimia Dasar Organik | 4,99 miliar | 21,39% |
| Kimia Dasar Anorganik | 1,38 miliar | 84,34% |
Negara Tujuan Utama Ekspor
Tiongkok tetap menjadi pasar utama dengan nilai USD 28,54 miliar, tumbuh 17,68 persen. Disusul ASEAN (USD 22,13 miliar), Amerika Serikat (USD 12,73 miliar), Uni Eropa (USD 7,99 miliar), dan India (USD 7,43 miliar). Diversifikasi pasar ini menunjukkan daya saing produk Indonesia yang semakin kuat.
- Tiongkok: USD 28,54 miliar (+17,68%)
- ASEAN: USD 22,13 miliar
- Amerika Serikat: USD 12,73 miliar
- Uni Eropa: USD 7,99 miliar
- India: USD 7,43 miliar
Impor Nonmigas: Mesin dan Peralatan Mendominasi
Impor nonmigas tercatat sebesar USD 93,88 miliar. Tiga komoditas impor terbesar adalah mesin dan peralatan mekanis (USD 16,16 miliar), mesin dan perlengkapan elektrik (USD 13,95 miliar), serta plastik dan barang dari plastik (USD 4,92 miliar). Ketiganya menyumbang 37,31 persen dari total impor nonmigas. Hal ini mengindikasikan ketergantungan Indonesia pada barang modal dan bahan baku industri.
Dampak dan Implikasi
Surplus dagang nonmigas ini memberikan dampak positif pada cadangan devisa dan stabilitas nilai tukar rupiah. Bagi industri, pertumbuhan ekspor nikel dan sawit menandakan keberhasilan hilirisasi dan peningkatan nilai tambah. Namun, ketergantungan pada komoditas primer tetap menjadi risiko jika harga global berfluktuasi. Pemerintah perlu terus mendorong diversifikasi produk ekspor bernilai tambah tinggi.
Di sisi lain, impor mesin yang tinggi menunjukkan bahwa industri dalam negeri masih membutuhkan peralatan canggih dari luar. Hal ini bisa menjadi peluang bagi pengembangan industri manufaktur pendukung di dalam negeri.
Prospek ke Depan
Dengan tren positif ini, Indonesia diharapkan mampu mempertahankan surplus dagang hingga akhir tahun. Namun, tantangan seperti perlambatan ekonomi global dan ketegangan geopolitik perlu diantisipasi. Kebijakan yang mendorong investasi di sektor hilirisasi dan pengembangan SDM akan menjadi kunci keberlanjutan kinerja ekspor.
Data BPS ini menjadi angin segar bagi perekonomian nasional. Surplus USD 16,31 miliar bukan sekadar angka, melainkan cerminan kerja keras para pelaku industri dan efektivitas kebijakan perdagangan. Dengan fondasi yang kuat, Indonesia optimis melangkah menuju pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.






