Karhutla dan Mutasi Polisi: Dinamika Ogan Komering Ilir di Tengah Musim Kemarau

Karhutla dan Mutasi Polisi: Dinamika Ogan Komering Ilir di Tengah Musim Kemarau

Suara Pecari | Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) di Sumatera Selatan tengah menghadapi berbagai tantangan di awal Juli 2026. Di satu sisi, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengancam seiring masuknya musim kemarau. Di sisi lain, jajaran Polres OKI melakukan mutasi perwira untuk penyegaran organisasi. Sementara itu, program cetak sawah rakyat terus didorong untuk memperkuat ketahanan pangan.

Karhutla di OKI: 14 Hektare Lahan Terbakar

Memasuki musim kemarau, ancaman karhutla kembali menghantui Ogan Komering Ilir. Dalam dua hari terakhir, sedikitnya 14 hektare lahan di dua kecamatan hangus terbakar. Kebakaran pertama terjadi di Jalan Lintas Timur Tanjung Kodok, Desa Tulung Selapan Ilir, Kecamatan Tulung Selapan, pada Kamis (2/7/2026). Berdasarkan patroli udara, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai delapan hektare. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD OKI, Nova Triyussanto, mengatakan api telah berhasil dikendalikan dan petugas masih melakukan pendinginan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru.

Sementara itu, di Kecamatan Pedamaran, kebakaran telah berlangsung selama tiga hari dan meluas hingga sekitar enam hektare. Tim gabungan dari Manggala Agni, BPBD, TNI-Polri, perusahaan, dan masyarakat terus berjibaku memadamkan api dari jalur darat maupun udara. Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, optimistis kebakaran dapat dipadamkan seluruhnya pada hari ini. “Target kami hari ini clear semua. Semua potensi kecil apa pun harus clear, sangat rawan kalau meninggalkan potensi kebakaran gambut,” ujarnya.

Nova Triyussanto mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar karena minimnya curah hujan meningkatkan risiko munculnya titik api baru, terutama di kawasan gambut. Satgas Karhutla terus melakukan patroli dan pendinginan di lokasi-lokasi yang rawan.

Mutasi Perwira di Polres OKI

Di tengah penanganan karhutla, Polres Ogan Komering Ilir melakukan penyegaran organisasi melalui rotasi jabatan sejumlah perwira. Sebanyak empat jabatan Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) resmi berganti dalam upacara serah terima jabatan (sertijab) yang digelar di Mapolres OKI, Sabtu (4/7/2026). Empat jabatan yang mengalami pergantian adalah Kapolsek Mesuji Raya, Kapolsek Sirah Pulau Padang, Kapolsek Mesuji, dan Kapolsek Pedamaran Timur.

IPTU Ramade Prawira dipercaya menjabat sebagai Kapolsek Mesuji Raya menggantikan IPTU Bambang yang mendapat penugasan baru. IPTU Darlansyah kini menjabat Kapolsek Sirah Pulau Padang. IPTU Dr. Ade Candra Saputra ditunjuk sebagai Kapolsek Mesuji, sementara IPTU Ujang menjadi Kapolsek Pedamaran Timur. Kapolres OKI AKBP Eko Rubiyanto menegaskan bahwa rotasi jabatan merupakan hal yang wajar sebagai bagian dari regenerasi dan penyegaran organisasi Polri. “Pejabat baru diminta segera beradaptasi, memperkuat sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan, serta menjaga keamanan dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujarnya.

Program Cetak Sawah Rakyat di OKI

Sementara itu, Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman memastikan petani yang mengikuti program cetak sawah rakyat di Ogan Komering Ilir akan mendapatkan pupuk dan bibit gratis. Program ini merupakan salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto untuk memperluas lahan tanam padi guna memperkuat ketahanan pangan nasional. “Petani tidak akan kesulitan masalah pupuk karena diberikan secara gratis, begitu juga bibit diberikan gratis. Yang jelas, penyuluh pertanian lapangan (PPL) setiap saat akan terus mendampingi sampai petani benar-benar sudah mapan,” kata Dudung saat meninjau lahan cetak sawah rakyat di Desa Tanjung Baru, Kecamatan Tanjung Lubuk, OKI, Kamis (2/7/2026).

Program ini diharapkan dapat meningkatkan produksi padi di OKI dan mengurangi ketergantungan pada impor beras. Dengan pendampingan intensif dari PPL, para petani diharapkan mampu mengelola lahan secara optimal.

Kesimpulan

Ogan Komering Ilir saat ini menghadapi tiga isu penting: karhutla yang mengancam lahan gambut, mutasi perwira Polri untuk meningkatkan pelayanan keamanan, serta program cetak sawah yang diharapkan memperkuat ketahanan pangan. Kolaborasi antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat sangat diperlukan untuk mengatasi tantangan musim kemarau dan mendukung pembangunan daerah. Dengan sinergi yang baik, OKI dapat terus maju dan sejahtera.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan