Kontroversi Tuchel dan Bellingham Warnai Perjalanan Inggris ke Semifinal Piala Dunia 2026
Suara Pecari, Jude Bellingham menjadi pahlawan Inggris setelah mencetak dua gol yang membawa The Three Lions menang 2-1 atas Norwegia di perempat final Piala Dunia 2026, Sabtu lalu di Miami. Namun, di balik kemenangan dramatis yang memastikan tiket semifinal melawan Argentina, muncul ketegangan antara sang bintang dan pelatih Thomas Tuchel. Tuchel secara terbuka mengkritik performa timnya, menyebut mereka ‘beruntung’ dan ‘ceroboh’, yang kemudian mendapat respons dingin dari Jude Bellingham. Insiden ini justru menjadi cerminan dinamika unik dalam skuad Inggris yang tengah berjuang mengakhiri puasa gelar sejak 1966.
Dalam konferensi pers usai pertandingan, Tuchel meluapkan kekesalannya. “Kami beruntung. Kami membuat hidup kami sangat sulit. Hasilnya fantastis, kami di empat besar, itu luar biasa, tapi saya tidak senang dengan performa,” ujar pelatih asal Jerman itu. Ia menyoroti banyaknya kesalahan teknis, kurangnya kecepatan, dan ketidakmampuan tim mengulang pola permainan. Kritik ini disampaikan di hadapan wartawan Gabriel Clarke, yang kemudian menyampaikannya kepada Jude Bellingham. Bellingham, yang baru saja menjadi pahlawan, merespons dengan nada sinis. “Mungkin dia tidak tahu bagaimana rasanya bermain dalam kondisi seperti itu melawan Erling Haaland, Martin Odegaard, Antonio Nusa, Alexander Sorloth. Terkadang Anda harus menang dengan cara kotor, dan kami melakukannya lagi malam ini,” kata gelandang Real Madrid itu.
Ketegangan antara Tuchel dan Jude Bellingham sebenarnya bukan hal baru. Sebelum turnamen, Tuchel pernah meminta maaf setelah komentarnya tentang sikap Bellingham di lapangan yang disebut ‘menjijikkan’ oleh ibunya. Namun, di Piala Dunia ini, keduanya menunjukkan kesamaan visi: membawa Inggris juara. Bellingham telah menjadi motor permainan Inggris, dengan enam gol sejauh ini, termasuk dua gol krusial melawan Norwegia. Kontribusinya membuat Real Madrid, klubnya, menjadi klub dengan pencetak gol terbanyak dalam satu edisi Piala Dunia, dengan 19 gol dari para pemainnya.
Pertandingan melawan Norwegia sendiri berlangsung sengit. Norwegia unggul lebih dulu melalui Andreas Schjelderup, dan sempat membuang peluang emas untuk menggandakan keunggulan. Inggris baru bisa menyamakan kedudukan di babak kedua berkat gol Jude Bellingham, sebelum ia kembali mencetak gol penentu di babak perpanjangan waktu. Bek Marc Guehi tampil impresif dengan meredam Haaland, sementara Elliot Anderson dan Nico O’Reilly juga mendapat pujian. Namun, kiper Jordan Pickford tampil kurang meyakinkan.
Kritik Tuchel mungkin keras, tetapi banyak pengamat menilai apa yang dikatakannya benar. Inggris memang beruntung, terutama karena gol pertama mereka terbantu sentuhan kabel TV. Namun, seperti ditulis Jamie Griffith dalam analisisnya, “Pemenang selalu berusaha lebih. Tuchel benar, Inggris bisa bermain lebih baik – tapi mereka belum perlu melakukannya sekarang.” Yang terpenting, Inggris sudah di semifinal dan akan menghadapi juara bertahan Argentina, yang tak terkalahkan sejauh ini. Laga ini akan menjadi ujian sesungguhnya bagi ketangguhan mental skuad asuhan Tuchel.
Di sisi lain, hubungan Tuchel dan Jude Bellingham justru bisa menjadi kekuatan. Tuchel dikenal sebagai pelatih yang mampu mengeluarkan versi terbaik pemainnya, dan Bellingham adalah contoh nyata. Ia telah ‘menyeret’ Inggris sepanjang turnamen, seperti dinilai oleh BBC Sport. Kini, dengan semifinal melawan Argentina, semua mata tertuju pada Bellingham. Mampukah ia kembali menjadi penentu? Atau justru ketegangan dengan pelatih akan menjadi bumerang?
Kesimpulannya, perjalanan Inggris di Piala Dunia 2026 penuh drama. Kontroversi antara Tuchel dan Jude Bellingham menambah bumbu, tapi juga menunjukkan bahwa keduanya memiliki ambisi yang sama: membawa pulang trofi. Semifinal melawan Argentina akan menjadi panggung pembuktian, bukan hanya bagi tim, tetapi juga bagi hubungan pelatih-pemain yang unik ini. Inggris mungkin belum tampil sempurna, tetapi mereka berada di posisi yang tepat untuk bermimpi.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










