Profesor Gudang Moral: Tanggung Jawab Akademik dan Integritas di Era Digital

Profesor Gudang Moral: Tanggung Jawab Akademik dan Integritas di Era Digital

Suara Pecari | Pekan lalu, Banda Aceh menjadi tuan rumah lokakarya “Growth with Nature” yang menghadirkan Dirjen Bina Adwil Kemendagri sebagai narasumber. Dalam acara ini, yang dihadiri oleh generasi muda, disampaikan pentingnya membangun Aceh dengan prinsip menjaga alam, bukan menaklukkan. Narasumber mengingatkan peserta akan bencana gempa dan tsunami 2004 serta bencana hidrometeorologi 2025 sebagai pengingat untuk merawat ekosistem. “Kita jaga alam, alam jaga kita,” ujarnya.

Pada hari berikutnya, Dirjen juga berbicara di forum Workshop Kreator Informasi Lokal di bawah Direktorat Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Digital. Ia menekankan pentingnya penyampaian informasi yang jelas dan dapat dipahami, terutama di era digital saat ini. “Siapa yang menguasai informasi, maka menguasai dunia,” katanya, berharap agar workshop ini dapat melahirkan pembuat konten yang berkualitas.

Di lokasi berbeda hari yang sama, Dirjen berbagi ilmu sebagai dosen di FISIP USK dengan tema “Dinamika Hubungan Pusat Daerah”. Pengalamannya sebagai mantan lurah dan camat menjadi modal berharga untuk menjelaskan pentingnya komunikasi dan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah.

Baca juga:

Pagi harinya, ia juga mengukuhkan enam profesor dalam sidang terbuka Senat Akademik USK. Meskipun awalnya kursi undangan belum terisi penuh, seiring waktu, semua kursi terisi. Acara ini juga disiarkan secara langsung di YouTube untuk menjangkau khalayak lebih luas. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa gelar profesor bukanlah akhir dari perjalanan akademik, melainkan awal tanggung jawab yang lebih besar.

“Mengajar lebih dari sekadar menyampaikan pengetahuan; itu adalah menginspirasi perubahan,” kata Dirjen, mengutip William Arthur Ward. Rektor USK, Prof. Mirza Tabrani, menambahkan bahwa jumlah guru besar di USK mencapai 246, menjadikannya salah satu universitas dengan jumlah profesor terbanyak di Indonesia.

Baca juga:

Dirjen juga mengingatkan bahwa gelar profesor tidak hanya tentang prestasi akademik, tetapi juga tentang tanggung jawab moral untuk memberikan solusi bagi masyarakat. “Nilai seorang profesor terletak pada seberapa banyak ilmunya memberikan manfaat,” tambahnya. Ia menekankan pentingnya menjaga integritas akademik, yang sangat menentukan kepercayaan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan.

Enam profesor yang dikukuhkan memiliki latar belakang penelitian yang beragam dan relevan. Prof. Dr. Zumaidar, S.Si., M.Si melakukan riset di bidang biologi tumbuhan, sementara Prof. Dr. rer. nat. Ilham Maulana, S.Si mengembangkan nanopartikel tembaga. Prof. Dr. Vivi Silvia, S.E., M.Si menekankan peran rumah tangga dalam perekonomian, dan Prof. Dr. Rizwan, S.T., M.T fokus pada solusi bagi galangan kapal tradisional.

Baca juga:

Sementara itu, Prof. Dr. dr. Iskandar Zakaria, Sp.Rad.(K) mendalami hubungan genetik dengan stroke, dan Prof. Dr. Drs. Ir. Tarmizi, M.Sc menunjukkan bagaimana simulasi matematis dapat membantu dalam pengambilan keputusan. Pengukuhan ini menjadi langkah awal bagi mereka untuk memberikan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat.

Dirjen menekankan pentingnya menjaga marwah akademik dan integritas. Ia mengingatkan bahwa profesor harus menjadi teladan moral dan penuntun di tengah kegaduhan informasi. Dengan rendah hati, para profesor diharapkan tetap mengedepankan komitmen terhadap ilmu dan masyarakat.

Baca juga:

Dengan tantangan yang dihadapi, kehadiran profesor yang berpihak pada kemanusiaan menjadi harapan bagi masa depan bangsa. Aceh, sebagai lumbung intelektual, diharapkan terus melahirkan pemikir-pemikir yang memberi dampak positif bagi dunia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Baca juga:

Tinggalkan Balasan