Keteladanan Dinilai Kunci Tanamkan Nilai Pancasila Generasi Muda
Suara Pecari | Jakarta – Ketua Umum Pusaka Indonesia, Setyo Hajar Dewantoro, menegaskan bahwa keteladanan merupakan faktor utama dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Dialog Kilau Pancasila yang merupakan rangkaian Festival Gita Indonesia 2026, di Auditorium Abdulrahman Saleh RRI Jakarta, Kamis, 11 Juni 2026. Menurut Setyo, tanpa adanya contoh nyata dari orang dewasa, anak-anak muda akan sulit menghayati dan mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Mengapa Keteladanan Begitu Penting?
Setyo menjelaskan bahwa generasi muda cenderung meniru perilaku dari lingkungan sekitarnya, terutama dari figur-figur yang mereka hormati. Jika para pemimpin, pejabat, aktivis, dan tokoh masyarakat hanya pandai berbicara tentang Pancasila tetapi tidak mempraktikkannya, maka pesan tersebut akan kehilangan makna. “Gak mungkin mereka akan mau menghayati Pancasila kalau kita sebagai orang tua pintar ngomong Pancasila tapi prakteknya berbeda. Jadi kembali ke orang tuanya, kalau orang tuanya jadi teladan, anak-anak akan ikut,” ujar Setyo.
Ia menekankan bahwa tanggung jawab memberikan keteladanan tidak hanya berada pada orang tua di lingkungan keluarga, tetapi juga pada semua pihak yang dianggap sebagai panutan, termasuk pejabat, aktivis, dan tokoh masyarakat. “Kembali ke orang tuanya. Orang tua bukan hanya orang tua mereka di rumah, tapi kita yang menjadi orang tua ini, pejabat, aktivis, jangan mengkhianati Pancasila,” tegasnya.
Pancasila Bukan Sekadar Slogan
Dalam kesempatan tersebut, Setyo juga mengkritik pendekatan yang terlalu mengandalkan ceramah atau slogan dalam menanamkan Pancasila. Menurutnya, penghayatan nilai-nilai Pancasila—seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan—harus diwujudkan dalam tindakan nyata. “Penguatan nilai Pancasila tidak cukup dilakukan melalui ceramah atau slogan semata. Harus ada aksi konkret yang bisa dilihat dan dirasakan oleh generasi muda,” paparnya.
Ia mencontohkan bahwa semangat gotong royong dan kepedulian sosial akan tumbuh subur jika para pemimpin menunjukkan sikap yang konsisten dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila. Keteladanan yang konsisten ini, lanjutnya, menjadi modal penting dalam menjaga persatuan bangsa di tengah berbagai tantangan zaman.
Data dan Tantangan Generasi Muda
Pentingnya keteladanan ini tidak lepas dari realitas bahwa generasi muda Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pengaruh globalisasi, radikalisme, hingga degradasi moral. Berdasarkan data survei yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2025, tingkat pemahaman Pancasila di kalangan remaja usia 15-19 tahun masih perlu ditingkatkan.
| Indikator | Persentase |
|---|---|
| Remaja yang dapat menyebutkan 5 sila Pancasila | 72% |
| Remaja yang memahami makna setiap sila | 45% |
| Remaja yang menerapkan nilai Pancasila dalam keseharian | 38% |
Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun mayoritas remaja hafal sila-sila Pancasila, pemahaman mendalam dan penerapannya masih rendah. Hal ini memperkuat argumen Setyo bahwa pendekatan yang lebih konkret dan keteladanan dari para pemimpin sangat diperlukan.
Peran Semua Pihak dalam Menanamkan Pancasila
Setyo menggarisbawahi bahwa upaya menanamkan Pancasila harus dilakukan secara kolektif. Berikut adalah peran yang dapat dilakukan oleh masing-masing pihak:
- Orang tua di rumah: Memberikan contoh langsung dalam sikap toleransi, gotong royong, dan kejujuran.
- Pendidik di sekolah: Mengintegrasikan nilai Pancasila dalam kurikulum dan kegiatan sehari-hari.
- Pejabat dan pemimpin: Menunjukkan integritas dan pelayanan yang adil serta tidak korupsi.
- Tokoh masyarakat dan aktivis: Menjadi agen perubahan yang konsisten dalam memperjuangkan keadilan sosial.
- Media massa: Menyajikan konten yang mendukung nilai-nilai Pancasila dan menampilkan figur teladan.
Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat
Jika keteladanan ini dapat diwujudkan secara konsisten, dampaknya akan sangat signifikan. Generasi muda akan memiliki figur panutan yang autentik, sehingga nilai-nilai Pancasila tidak hanya dihafal tetapi juga dihayati dan diamalkan. Hal ini akan memperkuat persatuan bangsa dan mengurangi potensi konflik horizontal yang sering dipicu oleh perbedaan suku, agama, dan golongan.
Di sisi lain, kegagalan dalam memberikan keteladanan justru akan memperlebar jurang antara teori dan praktik. Generasi muda bisa menjadi sinis dan apatis terhadap Pancasila, yang pada akhirnya melemahkan ketahanan nasional. Oleh karena itu, pernyataan Setyo Hajar Dewantoro ini menjadi pengingat bagi semua pihak untuk introspeksi dan bertindak.
Penutup: Menuju Indonesia Emas 2045
Dialog Kilau Pancasila yang digelar di RRI Jakarta ini bukan sekadar ajang diskusi, melainkan panggilan untuk bertindak. Di tengah persiapan menuju Indonesia Emas 2045, keteladanan menjadi fondasi yang tidak bisa ditawar. Tanpa keteladanan, segala upaya pemahaman Pancasila hanya akan menjadi wacana tanpa makna. Seperti kata Setyo, “Kembali ke orang tuanya.” Maka, mari kita semua menjadi orang tua yang baik, yang tidak hanya pandai bicara tetapi juga konsisten dalam tindakan, demi masa depan bangsa yang lebih berkarakter Pancasila.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












