Pramono Pastikan Penerima KJP di Sekolah Rakyat Tetap Dapat Bantuan, Bukti Komitmen Pendidikan Jakarta
Suara Pecari | Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memberikan kepastian bagi para siswa Sekolah Rakyat di Jakarta yang juga merupakan penerima Kartu Jakarta Pintar (KJP). Dalam kunjungannya ke Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 10 Jakarta Selatan bersama Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Jumat (3/7/2026), Pramono menegaskan bahwa bantuan KJP tetap akan diberikan meskipun para siswa telah masuk ke dalam sistem Sekolah Rakyat. Kebijakan ini menjadi angin segar bagi ribuan keluarga penerima manfaat yang khawatir akan kehilangan akses bantuan pendidikan di tengah tekanan ekonomi global.
Kepastian Bantuan KJP di Tengah Transformasi Pendidikan
Pramono mengungkapkan bahwa hasil pengecekan bersama Dinas Pendidikan DKI Jakarta menunjukkan mayoritas siswa di SRMA 10 Jakarta Selatan masih tercatat sebagai penerima KJP. Dari 100 siswa, 90 di antaranya masih menerima KJP. “Bahkan tadi saya mengecek melalui Kepala Dinas Pendidikan, di tempat ini dari 100 orang, 90 masih menerima KJP dan kami tetap akan memberikan KJP bagi anak-anak kita semuanya,” kata Pramono dalam sambutannya di hadapan para siswa dan orang tua.
Pernyataan ini sekaligus menjawab keresahan publik yang muncul pasca peluncuran Sekolah Rakyat. Sebelumnya, banyak pihak mempertanyakan apakah siswa yang pindah ke Sekolah Rakyat masih berhak mendapatkan KJP, mengingat Sekolah Rakyat sudah mendapat subsidi penuh dari pemerintah pusat. Namun, Pramono menegaskan bahwa KJP adalah program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang tetap berjalan paralel dengan program Sekolah Rakyat. “Dukungan terhadap Sekolah Rakyat sejalan dengan prioritas Pemprov DKI di bidang pendidikan. Di tengah tekanan ekonomi akibat kondisi geopolitik global, anggaran pendidikan menjadi salah satu sektor yang tidak boleh dikurangi,” ujarnya.
Angka dan Data Bantuan Pendidikan DKI Jakarta
Pemprov DKI Jakarta saat ini menyalurkan KJP kepada 707.477 siswa di seluruh Jakarta. Selain itu, program Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU) juga diberikan kepada 15.825 mahasiswa. Berikut rincian data bantuan pendidikan yang dikelola Pemprov DKI:
| Jenis Bantuan | Jumlah Penerima | Besaran Bantuan (per tahun) |
|---|---|---|
| KJP (Sekolah Rakyat) | 90% dari total siswa SRMA 10 | Rp 2,4 juta – Rp 4,8 juta |
| KJP (Total) | 707.477 siswa | Bervariasi sesuai jenjang |
| KJMU | 15.825 mahasiswa | Rp 9 juta – Rp 12 juta |
Pramono berharap para siswa Sekolah Rakyat dapat melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi dengan memanfaatkan program KJMU. “Untuk KJMU, saya berharap anak-anak sekalian nanti setelah Sekolah Rakyat tentunya harus melanjutkan ke perguruan tinggi. Mudah-mudahan Saudara-saudara akan mendapatkan KJMU Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul dari Pemerintah DKI Jakarta,” ucapnya.
Dampak Kebijakan bagi Masyarakat dan Pendidikan Jakarta
Kebijakan ini memberikan dampak positif yang signifikan bagi masyarakat, terutama keluarga kurang mampu yang anaknya bersekolah di Sekolah Rakyat. Dengan tetap diterimanya KJP, beban biaya pendidikan dapat ditekan, karena bantuan tersebut dapat digunakan untuk membeli seragam, buku, alat tulis, dan kebutuhan sekolah lainnya. Selain itu, kepastian ini juga mendorong orang tua untuk tidak ragu mendaftarkan anaknya ke Sekolah Rakyat, karena bantuan yang sudah diterima tidak akan hilang.
Dari sisi pemerintahan, keputusan ini menunjukkan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam menangani masalah kemiskinan dan pendidikan. Menteri Sosial Gus Ipul yang turut hadir dalam acara tersebut mengapresiasi langkah Pemprov DKI. “Ini contoh baik kolaborasi pusat-daerah. Sekolah Rakyat hadir untuk anak-anak dari keluarga miskin, dan KJP tetap berjalan untuk memastikan kebutuhan belajar mereka terpenuhi,” kata Gus Ipul.
Namun, kebijakan ini juga memunculkan implikasi anggaran. Pemprov DKI harus mengalokasikan tambahan dana untuk menutup KJP bagi siswa Sekolah Rakyat yang sebelumnya mungkin tidak terdaftar sebagai penerima. Meski demikian, Pramono optimis anggaran pendidikan DKI yang mencapai 20% dari APBD mampu menampung beban tersebut. “Pendidikan adalah prioritas. Dalam kondisi ekonomi sulit sekalipun, kami tidak akan mengurangi anggaran pendidikan,” tegasnya.
Rencana Pengembangan Sekolah Rakyat di Jakarta
Selain mempertahankan KJP, Pramono juga memastikan Pemprov DKI akan mendukung penuh pengembangan Sekolah Rakyat di Jakarta. Saat ini, Pemprov tengah mengkaji penyediaan lahan di Jakarta Barat atau Jakarta Utara untuk pembangunan Sekolah Rakyat berasrama. Rencananya, sekolah baru tersebut akan menampung tambahan sekitar 1.000 siswa. “Kami akan memberikan support sepenuhnya untuk ini menjadi lebih baik,” kata Pramono.
Langkah ini sejalan dengan visi pemerintah pusat yang menargetkan Sekolah Rakyat sebagai solusi pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem. Dengan adanya asrama, diharapkan siswa dapat lebih fokus belajar dan terhindar dari pengaruh lingkungan yang kurang mendukung. Pemprov DKI juga berencana menggandeng dunia usaha untuk menyediakan beasiswa dan magang bagi lulusan Sekolah Rakyat.
Kronologi Peristiwa
- Jumat, 3 Juli 2026: Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Mensos Gus Ipul menghadiri Open House Sekolah Rakyat di SRMA 10 Jakarta Selatan. Pramono mengumumkan siswa penerima KJP tetap mendapat bantuan.
- Sebelum Juli 2026: Peluncuran Sekolah Rakyat oleh Kemensos menimbulkan kekhawatiran di kalangan penerima KJP akan hilangnya bantuan.
- Rencana ke depan: Pembangunan Sekolah Rakyat berasrama di Jakarta Barat/Utara untuk menampung 1.000 siswa tambahan.
Analisis: Mengapa Kebijakan Ini Penting?
Keputusan Pramono untuk tetap memberikan KJP kepada siswa Sekolah Rakyat memiliki implikasi luas. Pertama, kebijakan ini mencegah terjadinya kesenjangan akses pendidikan antara siswa reguler dan siswa Sekolah Rakyat. Kedua, hal ini menunjukkan bahwa program KJP tidak sekadar bantuan tunai, tetapi merupakan bagian dari sistem perlindungan sosial yang terintegrasi. Ketiga, langkah ini dapat menjadi model bagi daerah lain yang memiliki program serupa, seperti Kartu Jakarta Pintar Plus atau program daerah lainnya.
Di sisi lain, tantangan ke depan adalah memastikan data penerima KJP tetap akurat dan tepat sasaran. Pemprov DKI perlu terus melakukan verifikasi dan pemutakhiran data agar bantuan tidak jatuh ke tangan yang tidak berhak. Selain itu, koordinasi antara Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, dan Kemensos harus diperkuat agar program Sekolah Rakyat dan KJP berjalan sinergis.
Kebijakan ini juga berdampak pada psikologis siswa dan orang tua. Dengan adanya kepastian, mereka dapat lebih tenang dan fokus pada proses belajar. Pramono sendiri mengaku terharu melihat optimisme para siswa saat Open House. “Saya melihat semangat mereka luar biasa. Ini modal berharga untuk masa depan Jakarta,” ungkapnya.
Penutup naratif: Di tengah hiruk-pikuk ekonomi global yang tak menentu, kepastian akan bantuan pendidikan menjadi secercah harapan bagi ribuan keluarga di Jakarta. Pramono Anung, dengan langkahnya yang tegas, tidak hanya menjaga keberlanjutan program KJP, tetapi juga merajut asa bahwa pendidikan adalah jembatan menuju masa depan yang lebih baik. Kini, para siswa Sekolah Rakyat dapat bernapas lega: mereka tetap digenggam oleh negara, baik melalui seragam baru di Sekolah Rakyat maupun melalui KJP yang setia menemani.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.






