Sekolah Mitigasi Bencana di Sampang Diharapkan Merata
Suara Pecari, Pemerintah Kabupaten Sampang, Jawa Timur, tengah menggencarkan program edukasi penanganan bencana bagi sekolah-sekolah di kawasan rawan bencana. Inisiatif ini merupakan langkah proaktif untuk membangun kesiapsiagaan sejak dini di kalangan pelajar dan tenaga pendidik. Kolaborasi strategis antara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang, pihak swasta, serta Forum Relawan Penanganan Bencana (FRPB) Kabupaten Sampang menjadi motor penggerak program ini.
Latar Belakang: Rentannya Sampang Terhadap Bencana
Kabupaten Sampang, yang terletak di pesisir utara Pulau Madura, memiliki kerentanan tinggi terhadap berbagai jenis bencana alam. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), wilayah ini sering dilanda banjir rob, tanah longsor, dan angin puting beliung. Kondisi geografis yang berupa perbukitan kapur dan dataran rendah pesisir membuat beberapa kecamatan seperti Kedungdung, Omben, dan Banyuates menjadi langganan bencana setiap musim hujan. Sayangnya, kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat, terutama di lingkungan sekolah, masih rendah. Hal inilah yang mendorong Pemkab Sampang untuk mengintensifkan program mitigasi bencana berbasis sekolah.
Program Sekolah Mitigasi Bencana: Cakupan dan Target
Program Sekolah Mitigasi Bencana saat ini menyasar 24 sekolah dari jenjang SD, SMP, hingga SMA sederajat yang terdata sebagai daerah rawan bencana. Sekolah-sekolah tersebut tersebar di beberapa kecamatan, tidak hanya di pusat Kota Sampang tetapi juga di wilayah terpencil. Berikut adalah rincian target program berdasarkan data BPBD Kabupaten Sampang:
| Jenjang | Jumlah Sekolah | Kecamatan Sasaran |
|---|---|---|
| SD | 12 | Kedungdung, Omben, Banyuates |
| SMP | 8 | Sampang Kota, Robatal, Ketapang |
| SMA/SMK | 4 | Sampang Kota, Banyuates |
Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sampang, Muhammad Hozin, menjelaskan bahwa program ini tidak hanya berhenti pada 24 sekolah tersebut. “Perluasan cakupan dinilai sangat penting untuk memastikan seluruh institusi pendidikan di Kabupaten Sampang memiliki ketangguhan dalam menghadapi potensi bencana,” ujarnya, Kamis, 9 Juli 2026. Pemerintah menargetkan pada tahun 2027 seluruh sekolah di Sampang, setidaknya yang berada di zona merah bencana, sudah mendapatkan pelatihan serupa.
Kronologi dan Implementasi Program
Program Sekolah Mitigasi Bencana di Sampang telah dimulai sejak awal tahun 2026. Berikut adalah kronologi pelaksanaannya:
- Januari 2026: BPBD bersama FRPB melakukan pemetaan sekolah rawan bencana di 14 kecamatan. Hasilnya, teridentifikasi 24 sekolah prioritas.
- Februari 2026: Penandatanganan MoU antara BPBD, Dinas Pendidikan, dan pihak swasta (PT Semen Indonesia dan Bank Jatim) untuk mendukung pendanaan dan logistik.
- Maret-April 2026: Pelatihan dasar mitigasi bencana bagi guru dan staf sekolah di 12 SD di Kecamatan Kedungdung dan Omben.
- Mei 2026: Simulasi bencana gempa bumi dan banjir di SMPN 2 Sampang yang diikuti 500 siswa.
- Juni-Juli 2026: Perluasan ke 8 SMP dan 4 SMA/SMK di Kecamatan Robatal, Ketapang, dan Banyuates.
- Agustus 2026: Evaluasi program dan penyusunan modul mitigasi bencana untuk diintegrasikan ke dalam kurikulum muatan lokal.
Dampak dan Implikasi bagi Pendidikan dan Masyarakat
Program ini membawa dampak positif yang signifikan. Bagi dunia pendidikan, siswa dan guru kini memiliki pengetahuan dasar tentang cara menyelamatkan diri saat bencana terjadi. Sekolah-sekolah yang telah mengikuti pelatihan mulai membentuk tim siaga bencana yang terdiri dari siswa dan guru. Mereka juga dilengkapi dengan perlengkapan darurat seperti kotak P3K, senter, dan peluit. “Kami jadi lebih siap. Dulu kalau gempa, kami panik. Sekarang sudah tahu harus lari ke mana dan bagaimana melindungi diri,” ujar Andi, siswa kelas 8 SMPN 2 Sampang.
Bagi masyarakat sekitar, sekolah diharapkan menjadi pusat edukasi mitigasi bencana. Orang tua siswa juga dilibatkan dalam beberapa sesi sosialisasi. Hal ini menciptakan efek domino: pengetahuan tentang kesiapsiagaan bencana menyebar dari sekolah ke rumah-rumah. Dalam jangka panjang, program ini dapat menekan jumlah korban jiwa dan kerugian material saat bencana terjadi.
Namun, tantangan masih ada. Keterbatasan anggaran dan tenaga pelatih menjadi kendala utama. BPBD Sampang hanya memiliki 5 orang staf yang kompeten di bidang mitigasi, sementara jumlah sekolah yang perlu dijangkau mencapai ratusan. Oleh karena itu, kolaborasi dengan pihak swasta dan relawan sangat krusial. PT Semen Indonesia, misalnya, telah menyumbang 1.000 paket alat evakuasi dan dana pelatihan. Bank Jatim juga memberikan bantuan pembuatan peta evakuasi digital untuk 10 sekolah.
Harapan dan Langkah ke Depan
Muhammad Hozin berharap agar sekolah-sekolah lain yang belum masuk dalam daftar prioritas segera menyusul. “Kami ingin semua sekolah di Sampang tangguh bencana. Tidak ada lagi sekolah yang tidak siap,” tegasnya. Pemerintah juga berencana mengintegrasikan materi mitigasi bencana ke dalam kurikulum muatan lokal mulai tahun ajaran 2026/2027. Dengan demikian, kesiapsiagaan bencana bukan hanya menjadi program sesaat, melainkan bagian dari budaya sekolah.
Di sisi lain, partisipasi aktif dari masyarakat dan dunia usaha sangat dinantikan. Program adopsi sekolah oleh perusahaan swasta bisa menjadi model pendanaan berkelanjutan. Forum Relawan Penanganan Bencana (FRPB) juga akan terus melakukan pendampingan dan pelatihan berkala. Dengan sinergi semua pihak, Sekolah Mitigasi Bencana di Sampang diharapkan tidak hanya merata, tetapi juga menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.
Seiring langkah proaktif yang terus digalakkan, masa depan pendidikan di Sampang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga tangguh menghadapi ancaman alam. Inisiatif ini membuktikan bahwa kesiapsiagaan bencana adalah investasi jangka panjang yang tak ternilai harganya. Dari ruang kelas, generasi muda Sampang belajar bahwa bencana bukan akhir, melainkan panggilan untuk bersatu dan bangkit lebih kuat.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










