Mempersiapkan Generasi Baru Keluarga yang Kokoh melalui Penyuluhan Catin

Mempersiapkan Generasi Baru Keluarga yang Kokoh melalui Penyuluhan Catin

Suara Pecari, Gunungsitoli – Sebuah langkah strategis dalam mempersiapkan generasi baru keluarga yang kokoh kembali digelorakan melalui kegiatan Penyuluhan Calon Pengantin (Catin) di Desa Madula Dusun II, Kecamatan Gunungsitoli, Kota Gunungsitoli. Kegiatan yang digagas oleh Sadarman Sarumaha, S.Pd dan Kristina, S.Th selaku Penyuluh Agama Kristen ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah investasi jangka panjang bagi ketahanan keluarga dan masyarakat.

Pentingnya Bekal Rohani Sebelum Menikah

Pernikahan bukanlah sekadar akad administratif, melainkan sebuah perjanjian suci di hadapan Tuhan. Dalam penyuluhan ini, calon pengantin diajak untuk memahami bahwa pernikahan adalah anugerah dan rencana Tuhan yang harus dijalani dengan kasih, kesetiaan, pengampunan, serta komitmen untuk saling melayani. Sadarman Sarumaha menegaskan, “Keluarga yang dibangun bersama Tuhan akan memiliki kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Sebab rumah tangga bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga tempat untuk menghadirkan kasih Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang.”

Ayat Alkitab dari Yosua 24:15 menjadi fondasi utama: “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.” Ayat ini mengajarkan bahwa keluarga harus menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan. Di tengah arus modernisasi yang kerap menggeser nilai-nilai spiritual, pesan ini menjadi semakin relevan.

Kolaborasi Lintas Sektor: Membangun Sinergi untuk Keluarga Sehat

Penyuluhan Catin ini tidak berjalan sendiri. Kegiatan ini terlaksana melalui kolaborasi bersama Bidan dari UPTD Puskesmas, P5A, dan Kader Desa. Sinergitas ini menunjukkan kepedulian bersama dalam memberikan pendampingan secara menyeluruh kepada calon pengantin, baik dari aspek kerohanian, kesehatan keluarga, maupun kesiapan membangun kehidupan berumah tangga.

Berikut adalah peran masing-masing pihak dalam kegiatan ini:

PihakPeran
Penyuluh Agama KristenMemberikan pembinaan rohani dan nilai-nilai pernikahan Kristen
Bidan UPTD PuskesmasMemberikan edukasi kesehatan reproduksi dan keluarga
P5A (Pembantu Pembina Keluarga Berencana)Menyampaikan materi tentang perencanaan keluarga
Kader DesaMembantu koordinasi dan pendampingan lapangan

Kolaborasi ini memastikan bahwa calon pengantin mendapatkan bekal yang komprehensif, tidak hanya rohani tetapi juga fisik dan sosial.

Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat

Kegiatan penyuluhan ini memiliki dampak yang luas. Pertama, secara langsung, calon pengantin menjadi lebih siap secara mental dan spiritual untuk memasuki jenjang pernikahan. Kedua, dengan adanya edukasi kesehatan dari bidan, angka stunting dan masalah kesehatan keluarga lainnya diharapkan dapat ditekan. Ketiga, keluarga yang kokoh secara iman akan menjadi pilar bagi komunitas, menciptakan lingkungan yang harmonis dan produktif.

Menurut data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), angka perceraian di Indonesia masih cukup tinggi, dengan salah satu penyebabnya adalah kurangnya kesiapan mental dan spiritual pasangan. Oleh karena itu, penyuluhan Catin seperti ini menjadi krusial untuk menekan angka perceraian dan membangun generasi penerus yang tangguh.

Materi Pembinaan: Lebih dari Sekadar Nasihat

Dalam sesi pembinaan, calon pengantin tidak hanya mendengarkan ceramah, tetapi juga diajak berdiskusi dan berbagi pengalaman. Beberapa materi inti yang disampaikan meliputi:

  • Kehidupan Doa: Pentingnya doa bersama sebagai pasangan untuk memperkuat ikatan spiritual.
  • Komunikasi Efektif: Cara berkomunikasi yang sehat dan saling mendengarkan antara suami dan istri.
  • Tanggung Jawab Bersama: Pembagian peran yang adil dalam rumah tangga sesuai firman Tuhan.
  • Kesehatan Reproduksi: Pengetahuan dasar tentang kesehatan organ reproduksi dan perencanaan kehamilan.

Pendekatan partisipatif ini membuat materi lebih mudah dipahami dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Kronologi Kegiatan

Kegiatan penyuluhan Catin di Desa Madula Dusun II berlangsung pada 20 Juli 2026. Berikut adalah kronologi singkatnya:

  1. Pembukaan oleh penyuluh agama, dilanjutkan dengan doa.
  2. Sesi pertama: Pembinaan rohani oleh Sadarman Sarumaha dan Kristina.
  3. Sesi kedua: Edukasi kesehatan reproduksi oleh bidan Puskesmas.
  4. Sesi ketiga: Diskusi interaktif dan tanya jawab.
  5. Penutupan dengan komitmen bersama dan doa.

Kegiatan berjalan dengan penuh sukacita dan antusiasme dari para peserta.

Harapan ke Depan

Melalui pelayanan ini, diharapkan lahir keluarga-keluarga Kristen yang kuat dalam iman, penuh kasih, serta mampu menjadi teladan di tengah masyarakat. Sadarman Sarumaha menutup kegiatan dengan pesan, “Melalui kegiatan ini, para calon pengantin diajak untuk memahami pentingnya kehidupan doa, komunikasi yang baik antara suami dan istri, serta tanggung jawab bersama dalam menciptakan keluarga yang harmonis dan menjadi kesaksian bagi lingkungan sekitar.”

Dengan sinergi antara penyuluh agama, tenaga kesehatan, dan aparat desa, penyuluhan Catin menjadi model pembinaan keluarga yang holistik. Semoga kegiatan serupa dapat terus digalakkan di berbagai daerah, sehingga generasi baru keluarga Indonesia benar-benar kokoh, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara rohani dan sosial.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *