Plt Ketua DWP Aceh Barat Ajak Anak-Anak Berani Mengekspresikan Ide Lewat Giat Literasi Berbasis Kearifan Lokal

Plt Ketua DWP Aceh Barat Ajak Anak-Anak Berani Mengekspresikan Ide Lewat Giat Literasi Berbasis Kearifan Lokal

Semangat Literasi di Aceh Barat: Anak-Anak Diajak Berani Berkarya

Suara Pecari, Meulaboh – Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Aceh Barat, Ny. Cut Zulfahnur syafitri Kurdi, mengajak seluruh anak-anak untuk berani mengekspresikan ide, berimajinasi, serta menyalurkan nilai-nilai kebaikan melalui karya kreatif seperti menggambar dan mewarnai. Pesan inspiratif tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan dalam ajang Giat Literasi yang berlangsung di Aula Candin Aceh Barat pada Selasa, 21 Juli 2026.

Dalam arahannya, beliau menekankan bahwa keberanian untuk mulai berkarya jauh lebih penting daripada sekadar hasil akhir. “Semua anak yang berani berkarya adalah seorang pemenang,” ujar Cut Zulfahnur. Menurutnya, langkah kecil yang diambil anak-anak hari ini melalui goresan warna dan gambar akan membawa manfaat besar di masa depan demi mewujudkan generasi yang cerdas, berkarakter, cinta generasi, dan siap berkarya untuk Indonesia.

Giat Literasi: Lebih dari Sekadar Lomba Menggambar

Kegiatan bernuansa edukatif ini disambut dengan antusiasme tinggi oleh para peserta. Giat Literasi tersebut diikuti secara meriah oleh anak-anak Aparatur Sipil Negara (ASN) dari keluarga besar DWP Aceh Barat. Selain itu, hadir pula jajaran perwakilan siswa-siswi tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dari berbagai sekolah di wilayah Kabupaten Aceh Barat. Total peserta mencapai lebih dari 200 anak, yang terbagi dalam beberapa kategori lomba, yaitu menggambar dan mewarnai untuk tingkat SD, serta membuat poster untuk tingkat SMP. Setiap kategori dibagi lagi berdasarkan kelompok usia (kelas 1-3 dan kelas 4-6 untuk SD).

Acara ini juga menghadirkan sejumlah juri yang kompeten di bidang seni dan pendidikan, sehingga setiap karya dinilai secara profesional. Tidak hanya juara umum, panitia juga memberikan penghargaan khusus untuk kategori “Karya Paling Kreatif” dan “Karya Paling Mencerminkan Kearifan Lokal.”

Kategori LombaTingkatJumlah Peserta
MenggambarSD Kelas 1-350
MewarnaiSD Kelas 4-660
PosterSMP40

Selain perlombaan, acara juga diisi dengan sesi dongeng interaktif tentang pahlawan Aceh dan pameran buku sejarah lokal. Hal ini memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak-anak.

Mengangkat Tema Kearifan Lokal: “Meunari bak Peue Nyang Beutoi Peueutk Marwah, Munasabah Maja Pahlawan”

Tahun ini, acara mengusung tema kearifan lokal yang sarat makna, yaitu “Meunari bak Peue Nyang Beutoi Peueutk Marwah, Munasabah Maja Pahlawan”. Pemilihan tema ini dirancang secara khusus sebagai upaya nyata untuk memperkenalkan kembali literasi berbasis budaya Aceh kepada anak-anak sejak dini, sekaligus menanamkan semangat dan jiwa perjuangan para pahlawan Aceh ke dalam sanubari generasi muda. Frasa tersebut kurang lebih berarti “Mencari dan menemukan apa yang benar untuk menjaga martabat, layaknya jejak para pahlawan.” Melalui perpaduan antara perlombaan seni kreatif dan edukasi sejarah, kegiatan ini diharapkan dapat melahirkan generasi penerus bangsa yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki identitas karakter yang kuat.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Barat yang turut hadir, Drs. Faisal, M.Pd., menyambut baik inisiatif DWP ini. “Kami melihat bahwa kegiatan seperti ini sangat relevan dengan kurikulum merdeka yang menekankan profil pelajar Pancasila. Anak-anak tidak hanya diajak berkreasi, tetapi juga memahami akar budaya mereka,” ujarnya.

Kronologi Persiapan dan Pelaksanaan Kegiatan

Giat Literasi ini telah direncanakan sejak awal Juli 2026. Berikut adalah kronologi singkatnya:

  • 5 Juli 2026: Rapat koordinasi DWP Aceh Barat untuk menetapkan tema dan konsep acara. Diputuskan untuk mengusung tema kearifan lokal dengan fokus pada pahlawan Aceh.
  • 12 Juli 2026: Sosialisasi ke sekolah-sekolah dan unit kerja ASN di lingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Barat. Pendaftaran peserta dibuka secara online dan offline.
  • 19 Juli 2026: Batas akhir pendaftaran. Tercatat total 150 peserta dari anak ASN dan 50 peserta dari sekolah umum.
  • 21 Juli 2026: Pelaksanaan kegiatan di Aula Candin dari pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB. Dilakukan penjurian perlombaan dan pengumuman pemenang pada sore hari.
  • 22 Juli 2026: Pameran karya terbaik di lobi kantor Bupati Aceh Barat selama seminggu ke depan.

Dampak dan Implikasi bagi Anak dan Masyarakat

Kegiatan semacam ini memberikan dampak positif yang signifikan bagi perkembangan anak-anak. Dari sisi psikologis, keberanian untuk mengekspresikan ide melalui seni dapat meningkatkan rasa percaya diri dan kreativitas. Sementara itu, aspek kearifan lokal yang diusung memperkuat identitas budaya di tengah arus globalisasi. Orang tua yang hadir pun mengungkapkan apresiasi. Salah satu orang tua, Ibu Rahmi, mengatakan, “Anak saya jadi lebih tertarik belajar sejarah Aceh setelah mengikuti lomba ini. Mereka tidak hanya menggambar, tetapi juga bertanya tentang makna di balik tema tersebut.”

Dari sisi pendidikan, kegiatan ini menjadi model pembelajaran kontekstual yang dapat diadopsi sekolah-sekolah. Guru-guru yang hadir mendapatkan inspirasi untuk mengintegrasikan nilai-nilai lokal ke dalam mata pelajaran seni budaya dan sejarah. DWP Aceh Barat berkomitmen untuk menjadikan Giat Literasi ini sebagai agenda tahunan dan berencana untuk memperluas jangkauan ke tingkat provinsi pada tahun mendatang.

Selain itu, acara ini juga mendorong partisipasi ASN dalam kegiatan sosial yang berbasis pendidikan. Dharma Wanita Persatuan sebagai organisasi istri-istri ASN memiliki peran strategis dalam membina keluarga dan anak-anak. Ke depannya, DWP Aceh Barat akan mengadakan pelatihan literasi digital bagi anak-anak agar mereka mampu memanfaatkan teknologi untuk berkarya tanpa meninggalkan nilai budaya.

Penutup: Menanamkan Benih Kreativitas dan Cinta Tanah Air

Giat Literasi yang digagas Plt Ketua DWP Aceh Barat ini bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan sebuah gerakan untuk menanamkan benih keberanian, kreativitas, dan cinta tanah air sejak dini. Di tengah gempuran konten digital yang seringkali tidak mendidik, kegiatan semacam ini menjadi oase yang menyegarkan. Anak-anak diajak untuk melihat bahwa mereka adalah pewaris peradaban besar Aceh dan Indonesia. Langkah kecil yang mereka ambil hari ini, seperti goresan pensil dan sapuan kuas, adalah fondasi bagi masa depan yang gemilang. Semoga semangat ini terus menyala dan menginspirasi lebih banyak pihak untuk mendukung tumbuh kembang generasi penerus bangsa yang berkarakter dan berbudaya.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *