Orang Tua Didorong Jadi Teman Diskusi Anak: Kunci Cegah Perundungan dan Tekanan Mental
Suara Pecari, Banda Aceh – Fenomena anak yang enggan bercerita kepada orang tua masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Banyak anak memilih memendam persoalan karena takut dimarahi atau tidak dipercaya. Padahal, komunikasi yang hangat dalam keluarga merupakan fondasi utama untuk mencegah perundungan, kekerasan, dan tekanan mental pada anak. Hal ini menjadi sorotan dalam program IDOLA (Indonesia Layak Anak) bertema “Suara Anak Aceh Besar Partisipasi Anak Dalam Pembangunan Daerah” yang digelar di Banda Aceh pada Minggu, 5 Juli 2026.
Kabid Data dan Informasi Keluarga P2KBP3A Aceh Besar, Erianti, S.Ag, menegaskan bahwa anak-anak membutuhkan ruang aman untuk bercerita tanpa rasa takut. “Kalau tingkat keluarga, anak-anak itu harus kita rangkul dan kita jadikan teman. Kalau kita jadikan teman, dia akan bercerita kondisi apa yang dia alami di sekolah, di tempat mengaji maupun di tempat bermainnya,” ujarnya dalam wawancara eksklusif dengan RRI.
Pola Komunikasi Kaku: Hambatan Terbesar
Menurut Erianti, masih banyak orang tua yang menerapkan pola komunikasi satu arah dan otoriter. Sikap ini justru membuat anak menjaga jarak dan enggan berbagi masalah. “Kalau kita posisikan diri hanya sebagai orang tua yang harus didengarkan, maka suara anak itu tidak akan terdengar. Karena itu dekati mereka, ajak bermain, dan ajak bercerita,” tambahnya.
Data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) tahun 2025 menunjukkan bahwa 67% kasus kekerasan terhadap anak terjadi di lingkungan rumah tangga, dan sebagian besar korban tidak melapor karena takut pada orang tua. Hal ini mengindikasikan perlunya perubahan paradigma dalam pola asuh.
Tabel Perbandingan Pola Komunikasi
| Aspek | Pola Komunikasi Otoriter | Pola Komunikasi Teman |
|---|---|---|
| Keterbukaan anak | Rendah | Tinggi |
| Rasa aman | Kurang | Terjamin |
| Kemampuan anak berpendapat | Terhambat | Berkembang |
| Deteksi dini masalah | Lambat | Cepat |
Peran Forum Anak sebagai Jembatan
Sekretaris Umum Forum Anak Kabupaten Aceh Besar, Nailul Amalia, menekankan pentingnya lingkungan nyaman di luar keluarga. Forum Anak berupaya menciptakan ruang diskusi terbuka sehingga setiap anak merasa dihargai. “Yang paling penting adalah menciptakan ruang yang nyaman sehingga anak merasa didengar. Ketika kami berbaur dengan teman-teman, mereka lebih mudah bercerita tentang persoalan yang terjadi di lingkungan mereka,” ujarnya.
Forum Anak juga aktif memberikan edukasi kepada orang tua tentang pentingnya mendengarkan suara anak. Beberapa program unggulan meliputi:
- Kelas parenting berbasis komunikasi empatik.
- Konseling keluarga gratis di setiap kecamatan.
- Forum diskusi bulanan antara anak dan pemerintah daerah.
Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat
Jika pola komunikasi orang tua-anak tidak segera diperbaiki, dampak jangka panjangnya bisa sangat serius. Anak yang tidak memiliki ruang aman untuk bercerita rentan mengalami gangguan kesehatan mental, seperti depresi dan kecemasan. Selain itu, keterlibatan anak dalam pembangunan daerah juga terhambat karena suara mereka tidak didengar.
Sebaliknya, keluarga yang menjadikan anak sebagai teman diskusi akan menciptakan generasi yang percaya diri, kritis, dan berani menyuarakan pendapat. Hal ini selaras dengan visi Indonesia Layak Anak 2030 yang mengedepankan partisipasi anak dalam setiap aspek kehidupan.
Data dari Survei Kesehatan Indonesia tahun 2025 mencatat bahwa prevalensi gangguan mental pada anak usia 10-17 tahun mencapai 12,5%, dengan faktor utama adalah kurangnya dukungan keluarga. Angka ini menjadi alarm bagi seluruh elemen masyarakat untuk segera bertindak.
Kronologi dan Langkah ke Depan
Program IDOLA yang digagas Pemerintah Aceh Besar bersama RRI ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan menuju peringatan Hari Anak Nasional 2026. Beberapa langkah konkret telah direncanakan:
- Pelatihan komunikasi orang tua di 20 desa percontohan.
- Pembentukan posko pengaduan anak di setiap sekolah.
- Integrasi materi komunikasi keluarga ke dalam kurikulum PAUD.
Kolaborasi antara keluarga, sekolah, pemerintah, dan Forum Anak menjadi kunci keberhasilan. Erianti berharap, “Dengan komunikasi yang baik, kita bisa mendeteksi lebih dini masalah anak, sehingga mereka tumbuh optimal tanpa bayang-bayang kekerasan atau tekanan mental.”
Di tengah arus informasi digital yang deras, peran orang tua sebagai pendengar utama anak tidak tergantikan. Saatnya orang tua turun dari singgasana otoritas dan duduk sejajar dengan anak sebagai sahabat sejati. Karena hanya dengan cara itulah, suara anak akan benar-benar menggema, bukan sekadar bisikan yang terabaikan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










