Ibu di Bantul Lakban Anak karena Baby Blues, Suami Memaafkan dan Kasus Berakhir Damai
Suara Pecari | Kasus kekerasan anak berakhir damai, pelaku mengalami baby blues [titlebase] menjadi sorotan publik setelah seorang ibu di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, nekat melakban tangan, kaki, dan mulut putrinya yang berusia 3 tahun lalu meninggalkannya sendirian di rumah kontrakan. Peristiwa ini viral di media sosial dan menggemparkan warga sekitar. Namun, sang suami memilih untuk tidak melanjutkan kasus ini ke ranah hukum, dengan alasan sang istri mengalami gangguan psikis akibat baby blues.
Insiden tersebut terjadi pada Rabu, 3 Juni 2026, di sebuah kontrakan di Kedaton, Pleret, Bantul. Korban ditemukan dalam kondisi tangan, kaki, dan mulut terikat lakban. Berdasarkan keterangan Kasi Humas Polres Bantul, Iptu Rita Hidayanto, pihak keluarga dan suami pelaku menganggap tindakan tersebut merupakan dampak dari kelelahan dan stres berat saat mengurus anak sendirian untuk pertama kalinya. “Keluarga dan suami pelaku menganggap kejadian tersebut sebagai gangguan psikis akibat lelahnya mengurus anak sendirian dan pertama kali menjadi seorang ibu atau istilahnya baby blues,” ujar Iptu Rita.
Suami korban, RF (29), setelah menjalani mediasi dengan pihak kepolisian, memutuskan untuk memaafkan istrinya dan tidak melanjutkan kasus ini secara hukum. Ia juga meminta maaf atas kegaduhan yang ditimbulkan di masyarakat dan media sosial. Dengan demikian, kasus kekerasan anak berakhir damai, pelaku mengalami baby blues [titlebase] dan diselesaikan secara kekeluargaan. “Dari hasil pemeriksaan, suami selaku kepala rumah tangga atau wali dari korban tidak ingin melaporkan pelaku atau ibu kandung korban dan akan memperbaiki rumah tangga,” jelas Iptu Rita.
Fenomena baby blues syndrome memang sering dialami ibu baru. Gejalanya meliputi perubahan suasana hati, kelelahan, dan kesulitan mengurus bayi. Dalam kasus ini, TKS (25) diduga mengalami tekanan berat karena harus mengurus anak seorang diri sementara suaminya merantau ke Jakarta. Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya dukungan keluarga dan kesadaran akan kesehatan mental ibu pasca melahirkan.
Polres Bantul mengimbau masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi psikologis ibu-ibu muda. “Kami berharap kejadian ini bisa menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk saling mendukung, terutama bagi ibu yang baru memiliki anak,” tambah Iptu Rita. Kasus kekerasan anak berakhir damai, pelaku mengalami baby blues [titlebase] menjadi bukti bahwa penyelesaian secara kekeluargaan dapat menjadi opsi, asalkan ada kesadaran dan itikad baik dari semua pihak.
Di sisi lain, kasus serupa pernah terjadi di Medan, di mana seorang anggota TNI menganiaya anak SMP hingga tewas, namun vonisnya hanya 10 bulan penjara dan tidak dipecat. Perbedaan penanganan kasus ini menunjukkan pentingnya pendekatan yang humanis dan proporsional. Dalam kasus Bantul, keputusan untuk berdamai dianggap tepat karena pelaku mengalami gangguan psikis, namun tetap perlu pengawasan agar kejadian serupa tidak terulang.
Kesimpulannya, kasus kekerasan anak berakhir damai, pelaku mengalami baby blues [titlebase] menyoroti pentingnya deteksi dini dan penanganan baby blues syndrome. Masyarakat diharapkan lebih peka terhadap tanda-tanda gangguan mental pada ibu, serta tidak ragu untuk mencari bantuan profesional. Dengan dukungan keluarga dan lingkungan, diharapkan kasus serupa dapat diminimalisir di masa depan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












