IDI Sampaikan Duka Dokter Zulfikar Sudah 6 Bulan Jalani Internsip di Lampung

IDI Sampaikan Duka Dokter Zulfikar Sudah 6 Bulan Jalani Internsip di Lampung

Suara Pecari, Kepergian dr. Muhammad Zulfikar Drakel, seorang dokter muda yang sedang menjalani program internsip di Lampung, menyisakan duka mendalam. Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Lampung, dr. Josi Harnos, mengonfirmasi bahwa Zulfikar ditemukan meninggal dunia di Guest House Sakinah, Jalan Imam Bonjol, Kecamatan Metro Pusat, Kota Metro, pada Selasa (21/7/2026) sekitar pukul 19.00 WIB. Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) angkatan 2018 itu telah menjalani masa internsip selama enam bulan di Provinsi Lampung.

Kronologi dan Fakta Duka

Zulfikar, yang berasal dari Kalimantan Tengah, memilih Lampung sebagai lokasi internsipnya. Selama enam bulan terakhir, ia tinggal di Guest House Sakinah dengan sistem kos bulanan. dr. Josi mengungkapkan bahwa dirinya pernah memberikan materi etika kedokteran secara daring kepada Zulfikar dan rekan-rekan internsip lainnya, namun tidak memiliki interaksi personal yang mendalam. Hingga saat ini, penyebab kematian masih dalam penyelidikan pihak berwenang.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui akun Instagram resminya menyampaikan belasungkawa. “Ada pengabdian yang mungkin berakhir, tetapi ketulusan akan selalu dikenang,” tulis akun Kemenkes. FKUI juga mengunggah pernyataan duka, menekankan pentingnya dukungan bagi dokter muda yang kerap menghadapi tekanan kerja tinggi.

Program Internsip: Beban dan Harapan

Program internsip merupakan masa transisi bagi dokter baru untuk memantapkan kompetensi klinis sebelum praktik mandiri. Berdasarkan data Kemenkes, durasi internsip dokter umum adalah satu tahun, terdiri dari enam bulan di rumah sakit dan enam bulan di puskesmas. Pemilihan lokasi dilakukan secara online melalui sistem SIMPIDI dengan mekanisme ‘first come, first served’ yang sering disebut ‘war wahana’. Sistem ini kerap menimbulkan stres tersendiri bagi peserta.

Berikut rincian program internsip dokter di Indonesia:

AspekKeterangan
Durasi Total1 tahun (6 bulan RS + 6 bulan puskesmas)
Sistem PenempatanOnline via SIMPIDI (first come, first served)
TujuanPemantapan mutu dan profesi dokter
PesertaDokter lulusan program profesi dalam negeri

Meski program ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi, realitas di lapangan seringkali jauh dari ideal. Banyak dokter internsip menghadapi beban kerja berat, jam kerja panjang, dan tekanan psikologis. Kasus Zulfikar menjadi pengingat bahwa sistem perlu lebih memperhatikan kesejahteraan mental peserta.

Dampak dan Implikasi

Kepergian Zulfikar memicu diskusi nasional tentang keselamatan dan kesehatan dokter muda. Beberapa poin penting yang perlu dicermati:

  • Kesehatan Mental: Dokter internsip rentan mengalami burnout, depresi, dan kelelahan kronis. Diperlukan program dukungan psikologis yang terintegrasi.
  • Kondisi Tempat Tinggal: Guest house tempat Zulfikar tinggal perlu dievaluasi kelayakannya. Banyak peserta internsip tinggal di akomodasi sementara yang mungkin tidak memadai.
  • Pengawasan dan Pendampingan: Pendampingan dari senior dan fasilitator harus lebih intensif, bukan hanya melalui pertemuan daring.
  • Sistem Administrasi: Mekanisme ‘war wahana’ di SIMPIDI menimbulkan kecemasan. Diperlukan evaluasi agar lebih adil dan tidak memberatkan.

Pernyataan FKUI menekankan, “Tidak seharusnya kelelahan, tekanan, atau rasa sendiri dipandang sebagai hal biasa dalam perjalanan menjadi dokter.” Hal ini menunjukkan perlunya perubahan paradigma dalam pendidikan dan masa transisi dokter.

Reaksi Para Pihak

IDI Lampung menyatakan duka yang mendalam dan berharap ada investigasi menyeluruh. Kemenkes mengapresiasi pengabdian Zulfikar dan berjanji akan mengevaluasi program internsip. Sementara itu, rekan-rekan sejawat Zulfikar menggalang dukungan untuk keluarga yang ditinggalkan. Beberapa rekan melalui media sosial mengungkapkan pengalaman serupa berupa tekanan selama internsip, membuka tabir soal kondisi yang kerap tersembunyi.

Kisah Zulfikar bukanlah yang pertama. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah dokter muda meninggal saat atau setelah menjalani masa internsip, memicu pertanyaan tentang beban kerja dan kurangnya perhatian pada kesejahteraan mereka. Data Kemenkes mencatat, tingkat stres tinggi pada peserta internsip mencapai lebih dari 40% berdasarkan survei internal (sumber: laporan Kemenkes 2025).

Penutup: Menyoal Manusia di Balik Profesi

Kepergian dr. Muhammad Zulfikar Drakel menyisakan duka, tetapi juga panggilan untuk bertindak. Di balik setiap stetoskop dan seragam putih, ada manusia yang rentan terhadap lelah dan tekanan. Program internsip sejatinya adalah proses pembentukan, bukan pengurasan. Saatnya semua pihak—pemerintah, institusi pendidikan, dan organisasi profesi—bersatu menciptakan lingkungan yang tidak hanya menuntut profesionalisme, tetapi juga melindungi kemanusiaan. Selamat jalan, Dokter Zulfikar. Pengabdianmu tidak akan dilupakan.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *