Maluku Utara Dilanda Bencana: Hujan Lebat, Erupsi Gunung, dan Tragedi Piton
Suara Pecari | Maluku Utara menjadi sorotan nasional pada pertengahan Juni 2026 setelah serangkaian bencana alam dan peristiwa tragis melanda provinsi tersebut. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat di Maluku Utara pada Minggu, 14 Juni 2026, sementara tiga gunung api di kawasan Indonesia Timur, termasuk dua di Maluku Utara, meletus pada Jumat pagi. Di sisi lain, seorang warga di Kabupaten Pulau Taliabu tewas ditelan ular piton, dan jemaah haji asal Maluku Utara mulai kembali ke Tanah Air.
BMKG Peringatkan Hujan Lebat di Maluku Utara
BMKG memprakirakan hujan dengan intensitas ringan hingga lebat akan mengguyur 23 kota besar di Indonesia pada Minggu, 14 Juni 2026. Khusus untuk Maluku Utara, BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat menyebabkan banjir, genangan, dan pohon tumbang. Prakirawan BMKG Afif menjelaskan bahwa kondisi cuaca ini dipengaruhi oleh sirkulasi siklonik di Selat Makassar yang membentuk daerah konvergensi dan konfluensi, meningkatkan pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah, termasuk Maluku Utara.
Dua Gunung Api di Maluku Utara Meletus Bersamaan
Pada Jumat, 12 Juni 2026, tiga gunung api aktif di Indonesia Timur meletus dalam waktu berdekatan. Dua di antaranya berada di Maluku Utara: Gunung Dukono di Halmahera Utara dan Gunung Ibu di Halmahera Barat. Gunung Dukono meletus pada pukul 06.15 WIT dengan kolom abu setinggi 500 meter berwarna putih hingga kelabu tebal. Gunung Ibu menyusul pada pukul 07.45 WIT dengan tinggi kolom abu 400 meter. Badan Geologi menetapkan status Gunung Ibu dan Gunung Dukono pada Level II (Waspada). Masyarakat diimbau menjauhi radius aman 2-4 kilometer serta menggunakan masker untuk melindungi diri dari abu vulkanik.
Tragedi Piton di Pulau Taliabu
Sebuah peristiwa memilukan terjadi di Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara, pada Selasa, 9 Juni 2026. Elisabet Yamalau (44) tewas setelah ditelan dan dililit ular piton sepanjang 7,8 meter saat hendak memindahkan sapi di kebunnya. Suaminya, Benyamin Lanto (52), yang khawatir karena korban tak kunjung pulang, menemukan istrinya sedang ditelan ular. Ia berusaha menyelamatkan dengan memotong kepala ular, namun korban sudah meninggal dunia. Peristiwa ini menggemparkan warga setempat dan menjadi peringatan akan bahaya satwa liar di Maluku Utara.
Jemaah Haji Asal Maluku Utara Kembali ke Tanah Air
Di tengah bencana, ada kabar baik bagi masyarakat Maluku Utara. Sebanyak 391 jemaah haji asal Maluku Utara yang tergabung dalam Kloter 15 Debarkasi Makassar tiba di Tanah Air pada Sabtu, 13 Juni 2026. Mereka mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar menggunakan pesawat Garuda Indonesia. Sekretaris PPIH Embarkasi/Debarkasi Makassar, Asa Afif Bachri, menyatakan bahwa tiga kursi kosong dalam manifes kepulangan disebabkan oleh satu jemaah yang masih dirawat di Jeddah dan dua lainnya yang wafat di Tanah Suci. Kepulangan ini menjadi momen haru bagi keluarga yang menanti.
Maluku Utara kini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari cuaca ekstrem, aktivitas vulkanik, hingga tragedi kemanusiaan. Masyarakat diimbau tetap waspada dan mengikuti arahan pihak berwenang. Pemerintah daerah dan pusat diharapkan terus memantau situasi serta memberikan bantuan yang diperlukan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.











