Jadwal Isya dan Kisah Munarti: Saat Terang Listrik Jadi Harapan di Tengah Hutan Sumowono

Jadwal Isya dan Kisah Munarti: Saat Terang Listrik Jadi Harapan di Tengah Hutan Sumowono

Suara Pecari, Jadwal isya menjadi penanda waktu bagi umat Islam untuk menunaikan sholat malam. Namun, bagi Munarti (61) dan keluarganya yang tinggal di tepi Hutan Sumowono, Kabupaten Semarang, jadwal isya bukan sekadar pengingat ibadah, melainkan juga penanda kegelapan yang menyelimuti rumah mereka tanpa listrik. Selama 20 tahun, Munarti bersama suami dan anaknya hidup tanpa penerangan listrik, hanya mengandalkan lampu minyak atau sekedar tidur lebih awal ketika makin gelap.

Bagi warga perkotaan, jadwal isya bisa diakses dengan mudah melalui ponsel atau pengumuman masjid. Namun di pelosok seperti Gembongsari, Desa Paledokan, jadwal isya hanya bisa ditebak dari posisi matahari. “Kami hanya ingin terang,” ujar Munarti saat ditemui Kompas.com, Selasa (21/7/2026). Rumahnya yang terletak sekitar 300 meter dari permukiman utama hanya bisa dijangkau melalui jalan setapak beton sepanjang 100 meter yang hanya bisa dilalui sepeda motor.

Kisah Munarti menjadi pengingat bahwa akses terhadap listrik masih menjadi mimpi bagi sebagian masyarakat. Sementara itu, di kota-kota besar seperti Surabaya, Denpasar, dan Palembang, jadwal sholat termasuk jadwal isya telah ditetapkan secara resmi oleh Kementerian Agama. Pada Kamis, 23 Juli 2026, umat Islam di Surabaya misalnya, dapat melaksanakan sholat isya tepat waktu berkat informasi jadwal isya yang akurat. Begitu pula di Denpasar dan Palembang, jadwal isya menjadi panduan rutin untuk menjalankan ibadah fardhu.

Bagi Munarti, tidak ada bedanya hari ini atau kemarin. Tanpa listrik, ia tidak bisa menikmati hiburan televisi atau radio. “Tak ada hiburan, pilih tidur,” katanya sederhana. Namun, di tengah keterbatasan, ia tetap menjalankan sholat. Ia mengaku hafal waktu sholat dari kebiasaan, meski kadang ragu apakah sudah masuk jadwal isya atau belum. “Kalau sudah gelap benar, saya sholat isya. Tapi kadang khawatir salah waktu,” ungkapnya.

Pemerintah melalui program listrik desa terus berupaya menjangkau daerah terpencil. Namun, untuk rumah Munarti yang berada di tepi hutan, kendala geografis menjadi tantangan. Sementara itu, di perkotaan, jadwal isya dan sholat lainnya sudah menjadi informasi publik yang mudah diakses. Di Denpasar, misalnya, jadwal sholat termasuk jadwal isya untuk 22-23 Juli 2026 telah dirilis oleh Kementerian Agama dan dimuat di berbagai media. Hal yang sama terjadi di Palembang, di mana jadwal isya menjadi bagian dari rutinitas harian warga.

Kisah Munarti mengajarkan bahwa sholat adalah kewajiban yang harus ditunaikan dalam kondisi apa pun. Meski tanpa listrik dan tanpa akses ke jadwal isya yang pasti, ia tetap berusaha menunaikan sholat tepat waktu. “Saya hanya ingin terang, agar bisa melihat waktu sholat dengan jelas,” harapnya. Semoga suatu hari, harapan itu terwujud.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *