Antisipasi Kekeringan, BPBD Kota Probolinggo Bangun Sumur Bor di Jrebeng Kulon

Antisipasi Kekeringan, BPBD Kota Probolinggo Bangun Sumur Bor di Jrebeng Kulon

Suara Pecari, Probolinggo – Memasuki puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga September 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Probolinggo mengambil langkah antisipatif dengan membangun satu unit sumur bor di Kelurahan Jrebeng Kulon, Kecamatan Kedopok. Langkah ini merupakan bagian dari upaya mitigasi bencana kekeringan yang kerap melanda wilayah tersebut, khususnya di kawasan pertanian dan permukiman yang bergantung pada air tanah dangkal.

Latar Belakang: Ancaman Kekeringan di Kota Probolinggo

Kota Probolinggo, meskipun dikenal sebagai kota pesisir, tidak luput dari ancaman kekeringan saat musim kemarau. Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa curah hujan di wilayah ini pada bulan Juli-Agustus biasanya di bawah 50 mm per bulan, jauh dari kebutuhan air untuk pertanian dan domestik. Kelurahan Jrebeng Kulon, khususnya Dusun Sumur Tamu, menjadi salah satu daerah yang rawan kekeringan karena kondisi geografisnya yang berupa dataran rendah dengan sumber air terbatas. Pada musim kemarau 2025 lalu, beberapa sumur warga di dusun tersebut mengering, sehingga warga harus membeli air bersih dengan harga tinggi.

Pembangunan Sumur Bor: Detail dan Spesifikasi

Sumur bor yang dibangun di Dusun Sumur Tamu memiliki kedalaman sekitar 60 meter dengan diameter 8 inci. Pengerjaannya dimulai pada awal Juli 2026 dan ditargetkan selesai dalam waktu dua minggu. Kepala Pelaksana BPBD Kota Probolinggo, Boedi Surjanto, menjelaskan bahwa sumur bor ini dilengkapi pompa submersible berkapasitas 2 liter per detik, yang mampu menghasilkan debit air sekitar 7.200 liter per jam. Air dari sumur bor akan dialirkan ke bak penampungan berkapasitas 5.000 liter yang dibangun di dekat lahan pertanian setempat.

Berikut adalah spesifikasi teknis sumur bor yang dibangun:

ParameterNilai
Kedalaman60 meter
Diameter8 inci
Kapasitas Pompa2 liter/detik
Debit Air per Jam7.200 liter
Bak Penampungan5.000 liter
Sumber DayaListrik PLN

Boedi menambahkan bahwa pembangunan sumur bor ini merupakan bagian dari program mitigasi bencana kekeringan yang didanai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Probolinggo tahun 2026. Total anggaran yang dialokasikan untuk pembangunan sumur bor dan fasilitas pendukungnya mencapai Rp 150 juta.

Dampak bagi Masyarakat dan Sektor Pertanian

Keberadaan sumur bor di Jrebeng Kulon diharapkan memberikan dampak positif yang signifikan, terutama bagi petani setempat. Lahan pertanian di Dusun Sumur Tamu seluas sekitar 15 hektar yang ditanami padi dan palawija sangat bergantung pada air irigasi dari sumur dangkal. Pada musim kemarau, pasokan air sering berkurang drastis, menyebabkan gagal panen atau penurunan hasil. Dengan adanya sumur bor, petani dapat mengairi sawah mereka secara terencana.

Selain pertanian, sumur bor juga akan dimanfaatkan untuk kebutuhan air bersih warga. Kepala Kelurahan Jrebeng Kulon, Sutrisno, menyambut baik inisiatif BPBD. “Warga kami sangat terbantu. Sebelumnya, saat kemarau, mereka harus membeli air tangki seharga Rp 200.000 per tangki. Sekarang bisa ambil air gratis dari sumur bor,” ujarnya.

Langkah Mitigasi Lainnya

BPBD Kota Probolinggo tidak hanya mengandalkan sumur bor. Beberapa langkah mitigasi lain telah disiapkan untuk menghadapi musim kemarau, antara lain:

  • Pemantauan rutin debit air di 10 titik sumber air utama di Kota Probolinggo.
  • Penyiapan 5 unit tangki air bersih berkapasitas 5.000 liter yang siap didistribusikan jika terjadi kekeringan.
  • Edukasi kepada masyarakat tentang hemat air dan pembuatan lubang biopori untuk resapan air hujan.
  • Koordinasi dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) untuk memastikan pasokan air bersih di wilayah perkotaan.

Boedi Surjanto menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada wilayah di Kota Probolinggo yang mengalami kekeringan kritis. Namun, kewaspadaan tetap ditingkatkan. “Kami tidak ingin lengah. Lebih baik mencegah daripada menanggulangi bencana,” katanya.

Kronologi dan Proyeksi ke Depan

Pembangunan sumur bor di Jrebeng Kulon merupakan bagian dari rangkaian program mitigasi kekeringan yang telah direncanakan sejak awal tahun 2026. Berikut kronologi kegiatannya:

TanggalKegiatan
Januari 2026Identifikasi wilayah rawan kekeringan oleh BPBD
Maret 2026Pengajuan anggaran dan perencanaan teknis
Juni 2026Lelang proyek dan penunjukan kontraktor
Awal Juli 2026Pengerjaan pembangunan sumur bor dimulai
Akhir Juli 2026Target penyelesaian dan uji coba

Ke depan, BPBD berencana membangun dua sumur bor tambahan di kelurahan lain yang juga rawan kekeringan, yaitu Kelurahan Sukabumi dan Kelurahan Kanigaran. Program ini akan dievaluasi setiap tahun berdasarkan kebutuhan dan ketersediaan anggaran.

Implikasi dan Harapan

Langkah BPBD Kota Probolinggo membangun sumur bor di Jrebeng Kulon menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim yang semakin ekstrem. Dengan adanya infrastruktur ini, diharapkan ketahanan air masyarakat meningkat, sektor pertanian tetap produktif, dan risiko bencana kekeringan dapat diminimalkan. Partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga dan merawat fasilitas sumur bor juga menjadi kunci keberlanjutan program.

Di tengah ancaman kekeringan yang melanda berbagai daerah di Indonesia, inisiatif seperti ini patut diapresiasi dan dijadikan contoh. Semoga langkah antisipatif ini dapat menginspirasi daerah lain untuk melakukan mitigasi serupa, sehingga dampak musim kemarau tidak lagi menjadi momok yang menakutkan bagi petani dan warga perkotaan.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *