Kemarau Panjang di Depok: Warga Sulit Air, Rela Minta ke Tetangga dan Beli Galon

Kemarau Panjang di Depok: Warga Sulit Air, Rela Minta ke Tetangga dan Beli Galon

Suara Pecari, Depok – Musim kemarau yang berkepanjangan membuat warga di Kelurahan Sawangan Baru, Kecamatan Sawangan, tepatnya di RT 002 RW 004, kesulitan mendapatkan air bersih. Sejumlah sumur warga mengering dan debit air hanya menetes kecil di jam-jam tertentu. Kondisi ini memaksa warga untuk mencari alternatif, mulai dari meminta air ke tetangga hingga membeli air galon dan jeriken.

Kekeringan ini sudah berlangsung sekitar satu bulan dan berdampak pada puluhan rumah. Warga dengan sumur gali alami paling merasakan dampaknya, sementara yang menggunakan jet pump masih bisa bertahan.

Sumur Mengering, Warga Terpaksa Minta Air ke Tetangga

Salah satu warga terdampak, Hayati (46), mengaku sumur di rumahnya sudah tidak bisa diandalkan sejak sebulan terakhir. “Sumurnya lagi mengering, nggak ada. Apalagi kalau jam-jam segini, kita nggak punya air. Apa harus diganti mesinnya atau gimana, kita nggak tahu,” ujarnya, Rabu (29/7/2026). Menurutnya, masalah ini hanya muncul saat kemarau; begitu hujan turun, air kembali normal.

Karena tidak ada air, Hayati terpaksa meminta tolong ke tetangga. “Ya (untuk dapat air) saya ke mana aja saya minta air. Ke rumah kakak saya, saya mandi ke sana gitu,” katanya. Ia menyebut ada lebih dari 10 rumah di lingkungannya yang sumurnya mengalami kekeringan. “Ya mungkin sekitar 10 lebih rumah mah ada kalau emang sumur gitu ya. Kalau yang sumur itu kebanyakan ya udah kering,” jelas Hayati.

Pembelian Air Galon Meningkat

Warga lain, Reza (54), juga mengalami hal serupa. Air di rumahnya tidak keluar normal selama sebulan terakhir. Setelah mengganti klep dan membeli mesin air baru, masalah tetap tidak selesai karena daya dorong air tidak kuat. “Pas beli baru, langsung air keluar, naik. Dari bawah gitu kan. Tapi ya gitu, tetep kecil airnya. Gak kering, tapi airnya ngericik dikit. Surut, bener-bener surut,” ujarnya.

Putus asa, Reza memilih membeli air galon. Ia memperkirakan sudah menghabiskan sekitar 15 galon dalam sebulan. “Saya sampe beli ini, karena saya kan mancing, kalau ada anak saya, yang laki. Kalau gak ada, saya gak bisa mancing, jadi beli air galon aja. Galon ada sekitar 15 galon kali ya,” katanya.

Kenangan Kemarau Panjang Sebelumnya

Kondisi ini mengingatkan warga pada masa lalu saat kemarau panjang. Dulu, warga harus mengambil air dari empang secara bergiliran. Hayati juga menceritakan bahwa beberapa tahun lalu warga sampai membuat sumur bor di bawah pohon bambu, namun yang keluar hanya lumpur. “Iya, pernah kan kita juga ngalamin kayak gini sampe bikin sumur di bawah. Di pohon bambu gitu. Bener-bener kita nggak dapet, yang keluar lumpur doang,” kenangnya.

Harapan akan Hujan

Kini, warga hanya bisa berharap hujan segera turun. “Udah mudah-mudahan aja ya hujan, soalnya sumur kita tergantung,” pungkas Reza.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *