KNPB Serukan Persatuan dan Gencatan Senjata dalam Aksi Papua Zona Darurat Militer
Suara Pecari, Jayapura – Komite Nasional Papua Barat (KNPB) mengajak masyarakat Papua untuk bersatu dalam menyampaikan aspirasi dan menghindari aksi tandingan menjelang aksi besar pada 15 Agustus 2026. Seruan ini disampaikan dalam konteks aksi damai bertema “Papua Zona Darurat Militer dan Kemanusiaan” yang digelar di Kota Jayapura pada awal Agustus 2026.
KNPB menegaskan pentingnya persatuan di tengah situasi konflik yang telah berlangsung lama di Papua. Ketua I KNPB, Warpo Samparo Wetipo, menekankan bahwa konflik di Tanah Papua bukanlah hal baru, melainkan akumulasi dari berbagai operasi militer sejak tahun 1961 dan 1963. Kondisi ini menyebabkan rakyat Papua terus mengalami situasi darurat yang berkepanjangan.
Seruan Persatuan Menjelang 15 Agustus
Juru Bicara Nasional KNPB, Ogram Wanimbo, mengimbau masyarakat Papua untuk tidak menggelar aksi tandingan pada tanggal 15 Agustus 2026. Ia menilai adanya dua aksi terpisah di Kota Jayapura pada 3 Agustus 2026 berpotensi memicu perpecahan di masyarakat. Ogram mengajak semua elemen masyarakat dengan aspirasi yang sama untuk bergabung dalam satu massa aksi guna memperkuat persatuan dan menjaga ketertiban.
“Kita ini sudah sedikit, jangan lagi membeda-bedakan antara kita orang Papua. Jika ingin menyampaikan aspirasi yang sama, mari bergabung dalam massa aksi KNPB,” ujarnya.
Aksi Damai dan Dorongan Gencatan Senjata
Meskipun tidak mendapat izin dari kepolisian, KNPB tetap melaksanakan aksi damai pada 3 Agustus 2026 untuk menyuarakan isu kemanusiaan dan dugaan pelanggaran hak asasi manusia di Papua. Ketua KNPB, Agus Kossay, menyatakan aksi ini bertujuan mendorong pemerintah memperhatikan situasi kemanusiaan yang memburuk akibat konflik bersenjata antara aparat keamanan dan kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB-OPM), yang menyebabkan lebih dari 125.000 pengungsi.
Dalam aksi yang sama, KNPB juga menyerukan gencatan senjata kepada seluruh pihak yang berkonflik, termasuk TNI-Polri dan TPNPB. Warpo menegaskan bahwa konflik tidak boleh terus dipelihara karena hanya akan dimanfaatkan oleh pihak tertentu sebagai lahan bisnis. Ia mengajak semua pihak untuk segera menghentikan kekerasan demi kemanusiaan dan perdamaian di Papua.
Konteks Konflik dan Harapan Gencatan Senjata
Konflik di Papua telah berlangsung selama puluhan tahun dengan berbagai dinamika yang kompleks. Operasi militer dan bentrokan senjata antara aparat keamanan dan kelompok separatis telah menyebabkan penderitaan luas bagi masyarakat. Kondisi darurat militer yang berlangsung lama memicu krisis kemanusiaan dengan pengungsian massal dan pelanggaran hak asasi manusia.
Dengan adanya seruan KNPB untuk persatuan dan gencatan senjata, diharapkan ada ruang dialog yang konstruktif antara semua pihak terkait. Dialog internasional dan upaya penyelesaian damai menjadi kunci utama untuk mengakhiri konflik berkepanjangan dan memulihkan kesejahteraan masyarakat Papua.
Situasi ini menuntut perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat luas agar tidak hanya fokus pada aspek keamanan, tetapi juga pada solusi kemanusiaan yang berkelanjutan.
KNPB terus mengajak semua elemen masyarakat Papua untuk menjaga ketertiban, menghindari provokasi, dan bersatu dalam menyampaikan aspirasi demi masa depan yang lebih damai dan sejahtera bagi Tanah Papua.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










