Rocky Gerung Desak Prabowo Pangkas Kabinet hingga 90 Persen, Klaim untuk Efisiensi Pemerintahan

Rocky Gerung Desak Prabowo Pangkas Kabinet hingga 90 Persen, Klaim untuk Efisiensi Pemerintahan

Suara Pecari | Rocky Gerung desak Prabowo pangkas kabinet hingga 90 persen [titlebase] sebagai upaya untuk menata kembali struktur pemerintahan yang dinilainya terlalu besar dan tidak efisien. Dalam wawancara dengan Editor in Chief IDN Times, Uni Lubis, pengamat politik tersebut menegaskan bahwa kabinet saat ini terdiri dari 109 anggota, termasuk menteri, wakil menteri, penasihat, dan pejabat setingkat menteri. Ia mengkritik bahwa jumlah yang tidak proporsional ini menghambat fokus pemerintah dalam menerapkan visi Prabowonomics dan sosialisme.

Pernyataan Rocky Gerung terkait pemangkasan kabinet hingga 90 persen [titlebase] mengacu pada kebutuhan untuk menyaring anggota yang benar-benar memahami konsep dasar pemerintahan Prabowo. “Jika Presiden Prabowo tetap mempertahankan kebijakan lama, maka energi intinya akan terbagi dan program kerja tidak akan terbentuk secara sistematis,” ujarnya. Ia menilai hanya 2-3 orang menteri yang benar-benar mengikuti prinsip sosialisme dan Prabowonomics, sementara mayoritas mengutamakan kepentingan politik pribadi.

Rocky Gerung juga menyoroti bahwa Prabowo terjebak dalam politik transaksional dengan menteri-menteri yang mendukungnya saat Pemilu 2024. “Mereka berdarah-darah untuk menangkan Prabowo, tapi tidak berdarah-darah untuk menjalankan prinsip pemerintahan,” tegasnya. Ia meminta Presiden menyeimbangkan loyalitas politik dengan kinerja yang berorientasi pada kebijakan nasional.

Menurut Rocky Gerung, pemangkasan kabinet hingga 90 persen [titlebase] akan memungkinkan Prabowo fokus pada program inti tanpa terbengkalai oleh dinamika internal yang kompleks. Ia mencontohkan bahwa hanya 10 persen anggota kabinet yang ideal untuk menggerakkan visi pemerintah, sementara sisanya cenderung menghambat koordinasi. “Inilah saatnya Presiden melakukan radikal break, bukan sekadar reformasi struktural,” pungkasnya.

Berbagai kalangan menyambut kritik Rocky Gerung dengan pro-kontra. Sebagian mendukung ide efisiensi, sementara lainnya mengkhawatirkan dampak terhadap stabilitas koalisi pemerintah. Namun, esensi permintaan ini tetap menjadi diskusi penting dalam konteks pemerintahan yang diharapkan lebih responsif terhadap tantangan ekonomi dan sosial saat ini.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan